KOMPAS.com - Penyakit jantung kerap datang tanpa banyak tanda. Gangguan kesehatan ini bisa bermula dari keluhan sederhana, seperti mudah lelah, sesak saat beraktivitas, atau nyeri dada yang hilang timbul.
Jika dibiarkan, keluhan-keluhan tersebut dapat berujung pada gangguan serius yang mengubah kualitas hidup seseorang. Tak hanya memengaruhi organ jantung, penyakit ini juga berdampak pada produktivitas, kesehatan mental, hingga kehidupan sosial pasien.
Di Indonesia, kasus penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, hingga pola hidup sedentari berkontribusi besar.
Oleh karena itu, para ahli menekankan bahwa penanganan jantung tak bisa hanya berfokus pada satu organ, tetapi harus melihat kondisi pasien secara menyeluruh.
Dokter bedah toraks dan kardiovaskular di Mayapada Hospital Surabaya, Jawa Timur, Dr dr Yan Efrata Sembiring, SpB, SpBTKV(K)-VE, menjelaskan bahwa penyakit jantung umumnya tidak berdiri sendiri karena sering berkaitan dengan komorbid, seperti hipertensi, diabetes, maupun gangguan pembuluh darah.
“Oleh karena itu, evaluasi pasien perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada jantung, agar terapi yang diberikan lebih tepat dan risiko komplikasi dapat ditekan sejak dini,” jelasnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).
Dari deteksi dini hingga pemulihan
Pendekatan terintegrasi dalam perawatan jantung berarti pasien menjalani tahapan layanan yang terstruktur, sejak deteksi dini hingga masa pemulihan. Proses ini dimulai dari penegakan diagnosis yang akurat, penentuan terapi sesuai kebutuhan klinis pasien, hingga pemantauan jangka panjang.
Dalam praktiknya, pendekatan ini menuntut kolaborasi lintas disiplin. Tak hanya dokter spesialis jantung, tetapi juga dokter bedah jantung dan pembuluh darah, dokter penyakit dalam, radiolog, dokter rehabilitasi medis, hingga perawat dan tenaga kesehatan penunjang.
“Melalui kolaborasi ini, tim dapat memahami kondisi pasien secara menyeluruh dan menentukan rencana perawatan yang paling sesuai,” ujar dr Yan.
Pendekatan kolaboratif tersebut diterapkan sejak pasien datang dengan kondisi akut, seperti nyeri dada mendadak, hingga saat kondisinya stabil. Setelah fase kritis terlewati, pasien tetap menjalani pemantauan rutin, penyesuaian obat, serta edukasi mengenai perubahan gaya hidup untuk mencegah kekambuhan.
Itu berarti, perawatan jantung tidak berhenti di meja operasi atau ruang kateterisasi. Perawatannya berlanjut pada fase rehabilitasi dan pendampingan. Fase ini sama pentingnya untuk memastikan pasien dapat kembali beraktivitas dengan aman.
“Tujuan perawatan jantung tidak hanya mengobati penyakit, tetapi membantu pasien menjalani hidup yang lebih sehat dan berkualitas dalam jangka panjang,” tegas dr Yan.
Tiga pilar layanan terpadu
Mayapada Hospital Surabaya melalui Heart & Vascular Center sendiri memiliki layanan perawatan jantung terpadu yang mencakup pencegahan, diagnosis, terapi lanjutan, hingga rehabilitasi.
Layanan ini diperkuat oleh tiga pilar utama. Pertama, Advanced Treatment yang menangani berbagai gangguan vaskular, aritmia, hingga kelainan struktur jantung seperti penyakit katup.
Tindakan yang tersedia mencakup prosedur seperti Coronary Angiography (CAG), Complex Percutaneous Coronary Intervention (PCI), hingga penggunaan Left Ventricular Assist Device (LVAD) pada kasus tertentu.
Kedua, Emergency Excellence yang menyediakan penanganan kegawatdaruratan jantung selama 24 jam melalui layanan Cardiac Emergency 24/7.
Layanan ini didukung dokter spesialis dan subspesialis yang siaga di rumah sakit serta fasilitas Chest Pain Unit untuk deteksi dan penanganan dini keluhan nyeri dada.
Ketiga, Team-Based Management, yaitu pengambilan keputusan klinis secara kolaboratif melalui forum Cardiac Board.
Dalam forum ini, belasan dokter dari berbagai spesialisasi, mulai dari kardiologi, bedah toraks dan kardiovaskular, anestesi kardiovaskular, hingga jantung anak, membahas kondisi pasien untuk menentukan strategi terapi terbaik.
Model kerja tim seperti ini dinilai penting, terutama pada kasus-kasus kompleks yang memerlukan pertimbangan menyeluruh dari berbagai sudut pandang medis.
Pendampingan yang lebih personal
Selain dukungan teknologi dan tim medis, pendekatan terintegrasi juga mencakup aspek komunikasi dan edukasi. Di Mayapada Hospital Surabaya, pasien dan keluarga didampingi oleh Cardiac Advisor yang membantu menjelaskan kondisi medis, pilihan terapi, hingga tahapan pemulihan.
Pendampingan ini bertujuan agar pasien tidak merasa sendirian dalam menjalani pengobatan. Informasi yang jelas dan transparan juga membantu pasien mengambil keputusan medis secara lebih percaya diri.
Edukasi berkelanjutan juga tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung. Informasi seputar kesehatan jantung, pola hidup sehat, serta pemantauan kebugaran dapat diakses melalui aplikasi MyCare.
Aplikasi ini juga menyediakan fitur Personal Health untuk memantau detak jantung, jumlah langkah, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).
Pada akhirnya, perawatan jantung yang ideal bukan hanya soal tindakan medis canggih, melainkan kesinambungan layanan yang terstruktur dan berpusat pada pasien.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pencegahan, penanganan akut, hingga rehabilitasi, pasien memiliki peluang lebih besar untuk kembali menjalani hidup secara produktif dan berkualitas.
Sebab, menjaga jantung tidak sekadar menyelamatkan satu organ, tetapi menjaga ritme kehidupan secara utuh.