KOMPAS.com – Monash University bersama sembilan penerima program Australia Awards Fellowships asal Indonesia mengembangkan perangkat inovasi kesehatan digital bernama Value-Based Digital Health Innovation Canvas (VDHIC).
Perangkat tersebut dirancang untuk mendukung reformasi kesehatan digital di Indonesia dengan mendorong praktik kesehatan berbasis nilai sehingga dapat menjadi solusi praktis dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Peneliti sistem informasi dari Fakultas Teknologi Informasi Monash University sekaligus pemimpin kolaborasi proyek, Profesor Juliana Sutanto, mengatakan bahwa VDHIC bertujuan menggeser pendekatan kesehatan digital dari sekadar pelaporan berbasis kepatuhan, menjadi sistem yang memberikan dampak nyata.
“VDHIC membantu organisasi kesehatan, inovator, dan pembuat kebijakan di Indonesia melampaui sistem kewajiban pelaporan data atau digitalisasi menuju kesehatan digital berbasis nilai. Melalui perangkat ini, teknologi dan data dapat memberikan manfaat nyata bagi pasien, tenaga medis, dan sistem kesehatan,” ujar Sutanto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, perangkat tersebut juga menyediakan kerangka acuan bersama yang dapat menjembatani tujuan kebijakan, praktik klinis, serta implementasi teknis dalam pengembangan kesehatan digital.
Program pengembangan VDHIC merupakan bagian dari Australia Awards Fellowships, yakni program beasiswa dan fellowship internasional yang didanai oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Pemerintah Australia. Program ini bertujuan memperkuat jejaring kepemimpinan dan kemitraan antara organisasi di Australia dengan negara mitra di kawasan.
Australia Awards Fellowships angkatan ke-20 secara khusus menyasar pejabat senior dan profesional tingkat menengah yang memiliki posisi strategis untuk mendorong hasil pembangunan di sektor prioritas sekaligus meningkatkan kapasitas kelembagaan negara mitra.
Dirancang untuk tantangan sistem kesehatan Indonesia
Sutanto mengatakan VDHIC dirancang untuk menjawab tantangan sistem kesehatan dan lingkungan regulasi yang kompleks di Indonesia.
Kerangka kerja tersebut selaras dengan platform data kesehatan nasional SATUSEHAT, termasuk inisiatif regulatory sandbox dalam pengujian inovasi kesehatan digital serta berbagai prioritas kesehatan nasional.
Menurut Sutanto, VDHIC dapat menjadi pedoman bagi rumah sakit ataupun penyedia layanan kesehatan dalam mengimplementasikan berbagai inisiatif kesehatan digital.
“Perangkat itu menitikberatkan pada lima tujuan utama, yakni kesehatan populasi, pengalaman pasien, kepuasan penyedia layanan, efisiensi biaya, serta kesetaraan kesehatan,” katanya.
Selain itu, VDHIC juga mengintegrasikan tata kelola regulasi, klinis, data, serta teknologi sehingga mampu mendukung inovasi kesehatan digital yang aman dan terukur.
Perangkat tersebut menghadirkan kerangka kerja bertahap untuk memandu inovasi kesehatan digital, mulai dari identifikasi masalah kesehatan hingga menghasilkan dampak yang dapat diukur.
Sembilan penerima fellowship yang terlibat dalam proyek itu berasal dari anggota Kelompok Kerja Teknis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) serta tenaga medis dan peneliti dari berbagai wilayah di Indonesia.
Selama program berlangsung, para peserta mengikuti kegiatan intensif bersama Monash University yang meliputi kunjungan ke rumah sakit serta diskusi dengan para ahli kesehatan digital di Australia.
Wilayah Indonesia Timur menjadi fokus utama proyek tersebut karena memiliki keterbatasan kapasitas sistem kesehatan dan infrastruktur digital. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan VDHIC mampu menjawab kebutuhan regional yang beragam.
Dokter neurologi asal Sulawesi Utara sekaligus penerima Australia Awards Fellowship , Arthur Mawuntu, mengatakan bahwa kolaborasi tersebut membantu memastikan reformasi kesehatan digital nasional mencerminkan kebutuhan daerah.
“Bagi tenaga medis di Indonesia Timur, kesehatan digital harus mampu mengurangi beban dan meningkatkan mutu layanan, bukan justru menambah kerumitan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perangkat itu juga mempertimbangkan tantangan konektivitas dan aspek kesetaraan, sekaligus selaras dengan platform nasional, seperti SATUSEHAT.
Dukung kebijakan kesehatan digital
Kemenkes menilai, perangkat tersebut berpotensi menjadi acuan dalam pengembangan kebijakan kesehatan digital nasional.
Penasihat ahli teknologi kesehatan Kemenkes Setiaji mengatakan bahwa inisiatif itu sejalan dengan pendekatan regulatory sandbox yang sedang diterapkan pemerintah.
“Indonesia sedang membangun jalur inovasi kesehatan digital yang bertanggung jawab melalui inovasi, uji coba industri, dan regulatory sandboxing. VDHIC memberikan panduan praktis untuk memastikan setiap inovasi selaras dengan tata kelola, keamanan, dan hasil yang berorientasi pada nilai,” ujar Setiaji.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenkes Eko Sulistijo menekankan pentingnya fondasi data yang kuat dalam transformasi kesehatan digital.
“Interoperabilitas, privasi, dan kualitas data merupakan landasan bagi efektivitas SATUSEHAT. Perangkat ini memperkuat keselarasan antara inovasi, standar data nasional, dan tujuan kebijakan jangka panjang,” katanya.
Ahli kesehatan digital dari Fakultas Teknologi Informasi Monash University, Chris Bain, menyebut bahwa kolaborasi dengan para profesional kesehatan Indonesia menjadi pengalaman yang berharga.
“Bertemu dan berkolaborasi dengan rekan-rekan kami di Indonesia adalah pengalaman yang luar biasa. Kami juga bersyukur karena gagasan tentang kesehatan digital berbasis nilai mendapat respons yang positif,” ujarnya.
Para penerima fellowship telah mempresentasikan toolkit yang telah disempurnakan kepada penasihat Monash University pada Februari 2026. Laporan akhir proyek tersebut akan diserahkan kepada Kemenkes.
Ke depan, perangkat VDHIC direncanakan akan diintegrasikan ke dalam program sandbox Kemenkes guna mendukung pengembangan inovasi kesehatan digital di Indonesia.