KOMPAS.com – Sabtu (7/3/2026), lobi Menara Kompas di Jakarta menjadi titik berangkat sebuah perjalanan panjang. Tim Merapah Trans Jawa 2026 resmi dilepas dalam seremoni flag off, menandai dimulainya ekspedisi tahunan Kompas.com yang tahun ini mengambil tema "Pesona Selatan Jawa".
Kendaraan yang dipercaya menemani petualangan itu adalah Honda Step WGN e:HEV, multi purpose vehicle (MPV) hybrid premium besutan PT Honda Prospect Motor (HPM).
Program Merapah Trans Jawa merupakan agenda tahunan Kompas.com yang menggelar ekspedisi darat melintasi Pulau Jawa menjelang musim mudik Lebaran.
Selain memantau kondisi jalur mudik terkini, Tim Merapah juga menjelajahi destinasi wisata dan kuliner yang tersebar di sepanjang rute.
Tahun ini, jalur selatan Jawa dipilih sebagai koridor utama, sebuah rute yang menyimpan kekayaan panorama alam sekaligus tantangan medan yang sesungguhnya bagi kendaraan mana pun.
Program ini juga didukung berbagai pihak, mulai dari Asosiasi Tol Indonesia, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Honda Prospect Motor, ASTRA Infra, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, hingga Waskita Toll Road.
Etape pertama, uji nyali di Tol Tangerang-Merak
Perjalanan dibuka dengan menyusuri Tol Dalam Kota, lalu tersambung ke Tol Jakarta-Tangerang dan berlanjut ke Tol Tangerang-Merak menuju Cilegon, Banten.
Jalur tersebut adalah pintu gerbang utama bagi pemudik yang hendak menyeberang ke Pulau Sumatera, sehingga lalu lintasnya padat oleh kendaraan berat. Kondisi jalan di beberapa titik juga jauh dari sempurna, lubang berukuran cukup besar tersebar hingga ke lajur kanan yang seharusnya menjadi jalur mendahului.
Di sinilah Honda Step WGN e:HEV menjalani ujian pertamanya. Kombinasi suspensi MacPherson Strut di depan dan Torsion Beam di belakang terbukti mampu meredam bantingan dengan baik. Ketika ban melindas lubang tak terduga, guncangan yang sampai ke kabin terasa lembut.
Guncangan yang biasanya memicu sakit pinggang atau rasa mual pun berhasil diredam sehingga penumpang tetap nyaman sepanjang perjalanan.
Ujian berlanjut saat tim memasuki Tol Layang MBZ. Jalur layang ini terkenal karena sambungan betonnya yang kerap memicu getaran pada kendaraan.
Meski begitu, Step WGN e:HEV kembali tampil tenang dan stabil, bahkan ketika melaju di kecepatan sekitar 100 km per jam. Bagi penumpang di baris belakang sekalipun, potensi rasa mual terasa sangat minim.
Kabin Honda Step WGN e:HEV terbukti nyaman dan lapang untuk perjalanan panjang menelusuri rute Pansela. Menyusuri Jalan Daendels yang legendaris
Memasuki etape ketiga, Tim Merapah berangkat dari Grand Kolopaking Hotel, Kebumen, Jawa Tengah, pukul 06.30 WIB menuju Konservasi Penyu Kali Ratu di Jogosimo, Kabupaten Kebumen. Rute ini mengantarkan tim ke salah satu jalan paling bersejarah di Indonesia, yakni Jalan Daendels, yang juga bagian dari jalur Pantai Selatan Jawa atau Pansela.
Jalan Daendels sudah ada sejak abad ke-4. Jalan ini dikenal sebagai jalur pengiriman upeti bagi kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Pada zaman kolonial, jalur ini dibangun ulang oleh Agustus Dirk Daendels pada 1838.
Membentang di pesisir selatan dari Banten hingga Jawa Timur, jalan tersebut menawarkan kombinasi jalan lurus panjang dan kelokan yang memerlukan konsentrasi pengemudi.
Di atas medan seperti ini, kabin Step WGN e:HEV membuktikan keunggulannya. Mobil yang diisi enam penumpang dewasa beserta barang bawaan masih terasa lapang dan nyaman.
Salah satu anggota tim yang duduk di baris ketiga mencatat bahwa kenyamanan kursi belakang di Step WGN e:HEV jauh melampaui MPV lain di kelasnya, berkat desain ergonomis yang memungkinkan sandaran diatur rebah-tegaknya menyesuaikan postur tubuh. Jendela samping yang luas di baris ketiga juga meminimalisasi rasa mual selama perjalanan.
Setelah berdokumentasi di tengah Jalan Daendels, tim melanjutkan perjalanan menjajal Tol Fungsional Prambanan-Purwomartani, sebelum mengakhiri etape dengan buka puasa bersama di Pondok Pesantren Tunarungu-Tuli Jamhariyah, Yogyakarta.
Dusun Wotawati hingga Pantai Mbresah, pesona tersembunyi selatan Jawa
Etape selanjutnya membawa tim ke salah satu destinasi paling unik dalam perjalanan Merapah Trans Jawa 2026, yakni Dusun Wotawati di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Permukiman yang terletak di lembah curam itu dikenal dengan fenomena matahari terlambat. Di sana, sinar matahari baru menyentuh dasar lembah lebih lambat dibanding wilayah sekitarnya karena terhalang tebing tinggi di sekelilingnya.
Dari Wotawati, tim melanjutkan perjalanan hampir dua jam menuju Pantai Mbresah di Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Meski banyak jalan berkelok dengan tanjakan dan turunan, kondisi aspal secara keseluruhan sudah cukup bagus.
Di sepanjang rute tersebut, performa mesin Step WGN e:HEV terasa impresif. Mesin 2.0L DOHC i-VTEC berpadu dengan motor listrik menghasilkan torsi instan 315 Nm yang membuat akselerasi ringan, bahkan ketika mobil membawa beban enam penumpang dan barang bawaan melewati tanjakan curam.
Pantai Mbresah sendiri adalah salah satu surga tersembunyi di Pacitan, menawarkan hamparan pasir putih, air laut jernih, dan deburan ombak Samudra Hindia yang menenangkan. Tim Merapah sengaja menikmati momen matahari terbenam di sini sambil berbuka puasa, menjadikannya salah satu momen paling berkesan dalam ekspedisi tahun ini.
Uji irit di Tol Trans Jawa
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul soal kendaraan hybrid adalah soal efisiensi bahan bakarnya dalam kondisi nyata.
Tim Merapah Trans Jawa 2026 menjawabnya dengan uji irit langsung di rute Tol Trans Jawa, dari Gerbang Tol Juanda di Surabaya menuju Rest Area 456 B di Salatiga, dengan jarak tempuh sekitar 300 km.
Hasilnya cukup mengejutkan. Multi Information Display (MID) mencatatkan konsumsi bahan bakar rata-rata 16,5 km per liter. Bahkan pada 100 km pertama dari Surabaya menuju Madiun dengan kondisi jalan relatif datar, angka itu sempat menyentuh 18,6 km per liter.
Ini adalah capaian yang tergolong impresif untuk MPV boxy berkapasitas tujuh penumpang dengan dimensi sebesar Step WGN e:HEV: panjang 4.829 mm, lebar 1.752 mm, tinggi 1.840 mm.
Efisiensi itu tidak lepas dari teknologi strong hybrid e:HEV yang menempatkan motor listrik sebagai penggerak utama roda. Mesin bensin berperan sebagai generator sekaligus sumber tenaga tambahan saat dibutuhkan.
Hasilnya, karakter berkendara terasa senyap di kecepatan konstan, sementara konsumsi BBM tetap efisien sepanjang perjalanan.
Business Innovation and Marketing & Sales Director Honda Prospect Motor Yusak Billy menegaskan bahwa kenyamanan dan efisiensi itu memang menjadi rancangan dasar Step WGN e:HEV.
“Kami merasa senang dan bangga bisa mendukung Merapah Trans Jawa 2026. Honda Step WGN e:HEV sangat cocok digunakan untuk perjalanan mudik, karena mobil ini praktis dan nyaman buat perjalanan panjang,” ujar Billy dalam pemberitaan Kompas.com, Sabtu (9/3/2026).
Billy menambahkan bahwa keunggulan itu juga ditopang teknologi keselamatan aktif yang disematkan pada kendaraan.
“Mobil ini juga didukung oleh teknologi keselamatan Honda SENSING, kemudian teknologi terbaru strong hybrid, yang bertenaga dan efisien,” kata dia.
Merapah Trans Jawa 2026 akhirnya menjadi pembuktian paling otentik bagi Honda Step WGN e:HEV.
Melintasi rute bervariasi dari tol perkotaan berlubang, jalur pesisir bersejarah, hingga pantai tersembunyi di selatan Jawa, MPV hybrid ini tampil konsisten dalam hal kenyamanan, performa, dan efisiensi.
Honda Step WGN e:HEV pun menjadi pilihan yang layak untuk keluarga yang menginginkan perjalanan jauh nan berkesan tanpa mengorbankan kenyamanan satu pun anggota keluarga di dalamnya.