Advertorial

Bahaya Gangguan Aorta yang Kerap Tak Bergejala dan Cara Mencegahnya

Kompas.com - 23/03/2026, 19:09 WIB

KOMPAS.com – Di balik ancaman serangan jantung yang sudah banyak dikenal, ada kondisi lain yang tak kalah mematikan, namun jauh lebih sering luput dari perhatian, yaitu gangguan pada aorta.

Aorta adalah pembuluh darah terbesar dalam tubuh manusia yang berfungsi mengalirkan darah yang kaya oksigen dari jantung ke seluruh organ, mulai dari otak, hati, hingga ginjal. Ketika aorta terganggu, seluruh sistem distribusi darah dalam tubuh ikut terdampak.

Sayangnya, gangguan pada aorta kerap tidak menunjukkan gejala apa pun sehingga penderita sering tidak menyadari kondisinya hingga sudah berada di tahap yang membahayakan jiwa.

Aorta seperti pipa utama di rumah

Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dan Vaskular Mayapada Hospital Surabaya Dr dr Yan Efrata Sembiring, SpB, SpBTKV(K) – VE menggambarkan peran aorta dengan analogi yang mudah dipahami.

"Aorta ibarat sebuah pipa utama distribusi air di rumah. Jika pipa utamanya bermasalah, seluruh sistem bisa ikut terganggu. Agar bisa berfungsi dengan baik, aorta harus kuat dan elastis untuk menahan tekanan setiap kali jantung berdetak," ujar dr Yan dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (20/3/2026).

Lebih lanjut, ia menuturkan, ada sejumlah faktor yang dapat melemahkan kondisi aorta, antara lain tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, pola makan tinggi kolesterol, diabetes, serta faktor usia dan genetik.

Namun, di antara semua faktor tersebut, dr Yan menyebut hipertensi yang tidak terkontrol sebagai penyebab yang paling sering ditemukan.

"Kondisi ini dapat membuat dinding aorta melemah karena terus-menerus menerima tekanan yang tinggi," terangnya.

Tiga jenis gangguan yang perlu diwaspadai

Gangguan pada aorta dapat terwujud dalam beberapa bentuk. Pertama adalah aneurisma aorta, yaitu kondisi saat dinding aorta melemah dan menonjol seperti balon. Jika tidak segera ditangani, aneurisma berisiko pecah dan menyebabkan perdarahan hebat yang mengancam jiwa.

Gangguan ini bisa terjadi di area dada ataupun perut, yang memperparah situasi, aneurisma sering kali tidak menimbulkan keluhan apa pun hingga ukurannya membesar.

"Banyak pasien tidak merasakan keluhan apa pun dan baru datang ke IGD saat pembuluhnya sudah pecah," ungkap dr Yan.

Jenis kedua adalah diseksi aorta, yaitu kondisi saat lapisan dalam dinding aorta robek sehingga darah masuk ke celah robekan dan memisahkan lapisan dinding pembuluh darah. Kondisi ini biasanya disertai nyeri dada atau punggung yang hebat dan terasa seperti disobek.

Diseksi aorta termasuk kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.

Jenis ketiga adalah aterosklerosis aorta, yakni pengerasan atau penyempitan aorta akibat penumpukan plak lemak yang membuat aliran darah tidak lancar. Kondisi ini meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke. Pada sejumlah kasus, aterosklerosis aorta dapat terjadi karena kelainan bawaan.

Kenali gejalanya, jangan tunda pemeriksaan

Mengingat risiko yang ditimbulkan dari gangguan aorta, penting untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami sejumlah keluhan tertentu.

Adapun gejala yang perlu diwaspadai, meliputi nyeri dada atau punggung yang sangat hebat, nyeri perut berdenyut, pusing, sesak napas, denyut nadi yang tidak sama antara tangan kanan dan kiri, hingga pingsan.

Sementara itu, pencegahan dapat dilakukan dengan mengontrol tekanan darah secara rutin, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan sehat rendah lemak.

Pemeriksaan kesehatan berkala juga menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan sedini mungkin.

Penanganan komprehensif di Mayapada Hospital Surabaya

Untuk mendukung penanganan gangguan aorta dan jantung secara menyeluruh, Mayapada Hospital Surabaya menghadirkan “Heart and Vascular Center” yang berdiri di atas tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah Emergency Excellence, yang diwujudkan melalui Chest Pain Unit. Fasilitas ini memberikan penanganan awal keluhan nyeri dada, baik akibat gangguan jantung maupun non-jantung, dengan pemeriksaan awal gratis apabila tidak ditemukan indikasi jantung.

Jika terindikasi penyakit jantung, pasien langsung dirujuk melalui Cardiac Emergency yang didukung dokter spesialis dan subspesialis siaga 24 jam.

Pilar kedua adalah Advanced Treatment, yang mencakup layanan pembuluh darah (vaskular), gangguan irama jantung (aritmia), serta kelainan struktur jantung seperti penyakit katup dengan pendekatan terkini.

Pilar ketiga adalah Team-Based Management. Keputusan klinis dan rencana perawatan ditetapkan melalui Cardiac Board yang melibatkan spesialis jantung, bedah toraks kardiovaskular, anestesi kardiovaskular, hingga dokter jantung anak.

Kolaborasi multidisiplin tersebut memungkinkan penentuan tindakan yang paling tepat bagi setiap pasien, mulai dari Coronary Angiography (CAG), Percutaneous Coronary Intervention (PCI) termasuk Complex PCI, penanganan gangguan katup dan vaskular, aritmia, hingga terapi gagal jantung lanjut dengan menggunakan alat bantu pompa jantung Left Ventricular Assist Device (LVAD).

Pasien dan keluarga juga didampingi oleh Cardiac Advisor sejak awal hingga masa pemulihan. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan setiap keputusan medis dipahami dengan jelas dan setiap keraguan terjawab dengan cepat.

Informasi lengkap seputar layanan jantung di seluruh unit Mayapada Hospital dapat diakses melalui layanan “Health Articles and Tips di aplikasi MyCare”. Layanan ini dilengkapi fitur Personal Health untuk memantau detak jantung, kalori, langkah kaki, dan body mass index (BMI) melalui integrasi dengan Google Fit dan Health Access.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau