KOMPAS.com – BYD menegaskan ekspansi bisnisnya di Indonesia dilakukan bertahap mengikuti kesiapan ekosistem dan kolaborasi, bukan semata mengejar pertumbuhan pasar kendaraan energi baru (NEV).
Memasuki 2026, BYD Indonesia menyatakan komitmen membangun ekosistem EV yang menyeluruh, mulai dari perluasan infrastruktur, penguatan purnajual, hingga penyediaan layanan keuangan yang lebih independen.
Presiden Direktur BYD Indonesia Eagle Zhao mengatakan, perluasan purnajual dan jaringan layanan menjadi salah satu prioritas agar pengalaman kepemilikan kendaraan listrik makin mulus di berbagai wilayah.
“Layanan purnajual di seluruh Indonesia terus diperluas sambil meningkatkan kualitas dan aksesibilitas. Tujuannya untuk memastikan seamless ownership experience,” kata Eagle seperti diwartakan Kompas.com, Jumat (12/12/2025).
Sementara itu, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menekankan penguatan jaringan tidak hanya soal menambah jumlah dealer, tetapi memastikan standar layanan purnajual tersedia secara konsisten.
Seluruh dealer BYD mengusung layanan terpadu 3S (Sales, Service, Sparepart) dan dilengkapi fasilitas pengisian daya (charging station).
Fasilitas itu, kata dia, tidak hanya ditujukan bagi pemilik BYD, tetapi juga terbuka untuk kendaraan listrik merek lain sebagai bagian dari kontribusi membangun ekosistem EV yang lebih terbuka dan inklusif.
Selain layanan teknis, BYD menyediakan fasilitas towing di wilayah jangkauan jaringan dealer yang dapat dimanfaatkan pelanggan saat mengalami kendala di jalan. BYD juga membuka layanan call center bebas pulsa 0800-168-6868 yang tersedia 24 jam setiap hari.
“Kami pastikan harga kendaraan terjaga dengan baik, permintaan dan pasokan stabil, agar tidak terjadi perang harga antar dealer,” kata Luther seperti diwartakan Kompas.com, Minggu (27/7/2025).
Selain memperkuat sisi hilir, BYD juga menekankan komitmen pengembangan industri lokal melalui pembangunan fasilitas produksi di Indonesia.
Pabrik BYD di kawasan Subang Smartpolitan, Jawa Barat, diklaim sudah memasuki tahap akhir persiapan dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2026.
Luther Panjaitan menyebut pembangunan pabrik Subang hampir rampung. Sejumlah dokumen dan sertifikasi juga dikatakan sudah dikantongi, termasuk sertifikat standar (SS), sehingga perusahaan tinggal menunggu momen peresmian dan memulai produksi perdana.
“Sertifikat Standar, kemudian WMI itu untuk menanda pengenal dari NIK kendaraan dan ada sertifikasi Identitas Kependudukan Digital (IKD),” ucapnya seperti diwartakan Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Pihak BYD juga menegaskan jadwal operasional pabrik sudah disusun, bahkan dipercepat sejalan dengan kesiapan fasilitas.
“Kami sudah memiliki jadwal (peresmian pabrik Subang) dengan mempercepat prosesnya. Saya masih optimistis mobil pertama dari line produksi akan dimulai kuartal pertama 2026,” ujar Manajer Umum Divisi Sales BYD Asia Pacific Liu Xueliang, diwartakan Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Pada tahap awal, pabrik Subang disebut akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, peluang ekspor dinilai tetap terbuka seiring berkembangnya industri kendaraan listrik di Indonesia dan meningkatnya permintaan regional.
BYD juga memproyeksikan dampak ekonomi dari pembangunan pabrik tersebut, mulai dari rencana perekrutan tenaga kerja dalam jumlah besar hingga efek berganda bagi komunitas sekitar. Keberadaan fasilitas produksi itu juga diproyeksikan dapat mendorong transfer teknologi dan peningkatan keahlian manufaktur kendaraan listrik di dalam negeri.
Di luar produksi, BYD juga menyoroti strategi membangun rantai nilai bisnis yang terintegrasi lewat Selain memperluas pasar lewat penjualan ritel, BYD juga menempuh strategi kolaborasi untuk memperkuat ekosistem dan memperluas jangkauan layanan.
Salah satunya, dengan menggandeng perusahaan teknologi penyedia layanan transportasi serta operator transportasi umum.
Luther Panjaitan mengatakan, BYD saat ini bekerja sama dengan perusahaan ride-hailing, seperti Grab dan Gojek. Menurut dia, kemitraan tersebut berjalan konsisten dengan umpan balik yang positif.
"Grab memang rekan strategis kami untuk sektor ride-hailing, itu di BYD sejauh ini masih berjalan konsisten. Masih dengan feedback yang positif, tidak hanya Grab tapi juga ada Gocar," kata Luther seperti diwartakan Kompas.com, Selasa (11/3/2025).
Selain itu, BYD juga memasok kendaraan untuk perusahaan taksi Bluebird. Luther menyebut, jumlahnya masih puluhan unit dan pemenuhan unit dilakukan bertahap.
Adapun untuk Bluebird, armada yang digunakan tidak hanya merek BYD, tetapi juga mencakup mobil listrik dari sub-brand premium Denza.
"Memang untuk ride-hailing saat ini ada BYD E6, tetapi Bluebird ada campuran dengan Denza," kata Luther.