Advertorial

Investasi 4 Miliar Dollar AS, GEM Group Bangun Rantai Industri Hilir Nikel Lengkap di Morowali

Kompas.com - 30/03/2026, 17:41 WIB

KOMPAS.com – Selama bertahun-tahun, hampir separuh cadangan nikel Indonesia tersia-siakan karena tidak ada yang bisa mengolahnya secara ekonomis.

Bijih nikel laterit berkadar rendah di kisaran 0,8–1,2 persen dibuang begitu saja sebagai limbah tambang, sementara industri nikel nasional hanya mampu menggarap bijih saprolit berkadar tinggi di atas 1,7 persen.

Dengan intensitas penambangan saat itu, cadangan bijih kadar tinggi diperkirakan hanya cukup untuk kurang dari 20 tahun ke depan.

GEM Group atau GEM Co, Ltd, perusahaan pionir ekonomi sirkular asal China, melihat peluang di balik masalah itu. Sejak 2017, grup ini mulai menginjakkan kaki di Sulawesi dan melakukan investigasi mendalam terhadap potensi bijih laterit kadar rendah yang selama ini tidak terjamah.

Inovasi teknologi yang mengubah "limbah" jadi aset

Para teknisi GEM Group menemukan fakta menarik saat meninjau tambang di kawasan Morowali. Bijih laterit kadar rendah itu mengandung kobalt dan mangan dengan rasio sekitar 10:1:3, tepat sesuai komposisi standar material baterai ternary nikel tinggi.

Bijih yang selama ini dibuang sesungguhnya adalah bahan baku ideal untuk industri baterai kendaraan listrik. Namun, belum ada teknologi yang sanggup mengolahnya secara ekonomis.

Padahal, beberapa perusahaan di kawasan Morowali telah menginvestasikan ratusan juta dollar untuk menguji teknologi hidrometalurgi bijih jenis itu sejak 2015. Sayangnya, belum juga berhasil.

Di level global, proyek serupa di Kaledonia Baru dan Papua Nugini pun menanggung biaya investasi di atas 600 juta dollar per 10.000 ton nikel tanpa menghasilkan keuntungan.

GEM Group mengambil posisi berbeda. Di bawah pimpinan Chairman and Founder GEM Group Prof Xu Kai Hua, grup ini menyatakan mampu menekan investasi per 10.000 ton nikel hingga di bawah 200 juta dollar AS, sekaligus menurunkan biaya produksi per ton nikel ke bawah 10.000 dollar AS.

Komitmen itu dibuktikan dengan kerja keras di lapangan. Pada 2020, tim ilmuwan GEM Group bertahan selama 24 bulan di Pulau Sulawesi di tengah pandemi, membangun laboratorium teknik dari nol, dari reaktor berkapasitas 10 liter hingga 100 meter kubik, demi menaklukkan tantangan teknis ekstraksi bijih laterit kadar rendah.

Hasilnya tidak mengecewakan. Pada September 2022, seluruh lini produksi kawasan industri GEM Group di Morowali beroperasi penuh.

Grup tersebut berhasil membangun sistem hidrometalurgi high pressure acid leach (HPAL) berkapasitas 1.168 meter kubik pertama di dunia yang dirancang, dibangun, dan dioperasikan secara mandiri, serta mewujudkan ekstraksi simultan nikel, kobalt, dan mangan dari satu proses terintegrasi.

Kawasan industri GEM Group di Morowali menjadi rantai industri hilir nikel pertama di Indonesia yang mengintegrasikan pengolahan bijih laterit hingga menjadi material baterai kendaraan listrik global. Dok. QMB Kawasan industri GEM Group di Morowali menjadi rantai industri hilir nikel pertama di Indonesia yang mengintegrasikan pengolahan bijih laterit hingga menjadi material baterai kendaraan listrik global.

Investasikan 4 miliar dollar AS demi satu rantai industri lengkap

Capaian teknologi itu menjadi fondasi bagi pembangunan rantai industri hilir nikel yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

Dalam kurun waktu lima tahun, GEM Group menginvestasikan 4 miliar dollar AS untuk membangun rantai produksi lengkap di Morowali, mulai dari pengolahan bijih laterit kadar rendah, produksi kristal nikel sulfat kemurnian tinggi, nikel elektrolitik, hingga material prekursor ternary untuk baterai kendaraan listrik.

Kapasitas produksi yang telah terbangun mencakup 100.000 ton kristal nikel sulfat baterai per tahun, 30.000 ton nikel pelat kemurnian tinggi per tahun, dan 50.000 ton material prekursor ternary baterai per tahun.

Capaian itu menjadikan kawasan industri GEM Group di Morowali sebagai rantai industri hilir nikel pertama di Indonesia yang sepenuhnya berkelas dunia.

Transformasi tersebut juga membawa dampak yang lebih luas. Dengan kemampuan memulihkan kobalt dari bijih yang hanya mengandung 0,08–0,1 persen kobalt, operasional GEM Group turut membuka sejarah baru bagi Indonesia sebagai produsen kobalt terbesar kedua di dunia.

Dampak ekonomi yang terukur

Seluruh investasi dan pembangunan kapasitas itu kini mulai menghasilkan dampak ekonomi yang konkret dan terukur.

Selama periode 2024–2025, kawasan industri GEM Group di Morowali mencatat nilai ekspor sebesar 2,5 miliar dollar AS, membayar pajak senilai 400 juta dollar AS, serta menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja.

Angka-angka tersebut menjadi bukti bahwa hilirisasi nikel yang berbasis teknologi mampu menghasilkan nilai tambah nyata. Tak hanya bagi pelaku industri, tetapi juga bagi penerimaan negara dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Pergeseran itu pula yang menempatkan Indonesia bukan lagi sekadar pemasok bahan mentah nikel ke pasar global, melainkan bagian dari rantai pasok inti material baterai kendaraan listrik dunia. Sebuah lompatan yang menurut catatan internal grup, mendorong Indonesia memasuki jalur industri energi baru dua dekade lebih awal dari proyeksi semula.

Di balik capaian GEM Group tersebut, PT QMB New Energy Materials yang berlokasi di Kawasan Industri Morowali Indonesia (IMIP) menjadi ujung tombak operasional grup di Indonesia.

QMB merupakan wujud nyata dari visi GEM Group untuk mengintegrasikan seluruh rantai nilai nikel dalam satu ekosistem industri yang berkelanjutan, dari bijih laterit hingga material baterai siap pakai untuk industri kendaraan listrik global.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau