Advertorial

Bridgestone Indonesia Imbau Pengguna Kendaraan Pribadi Cek Ban setelah Libur Lebaran 2026

Kompas.com - 03/04/2026, 12:49 WIB

KOMPAS.comLibur Lebaran 2026 telah usai dan mobilitas masyarakat kembali normal. Seiring intensitas tinggi perjalanan selama periode mudik, PT Bridgestone Tire Indonesia (Bridgestone Indonesia) mengimbau pengguna kendaraan pribadi untuk melakukan pengecekan kondisi kendaraan, khususnya ban.

Hal tersebut perlu dilakukan sebagai langkah menjaga kenyamanan dan keselamatan berkendara pasca-Lebaran.

Presiden Direktur Bridgestone Indonesia Mukiat Sutikno menjelaskan, perjalanan jarak jauh saat mudik membuat ban bekerja lebih berat ketimbang kondisi normal.

Selama perjalanan mudik, ban menghadapi sejumlah kondisi ekstrem, antara lain jarak tempuh panjang, durasi berkendara lama dengan paparan panas jalan, beban kendaraan berlebih, serta kondisi jalan yang beragam, mulai dari mulus, berlubang, bergelombang, hingga berkelok.

Kombinasi tersebut, lanjutnya, dapat menurunkan performa ban dan memengaruhi kenyamanan berkendara, seperti kemunculan getaran, suara bising, hingga menurunnya kemampuan pengereman.

 “Perjalanan jarak jauh saat mudik membuat ban bekerja jauh lebih berat dari kondisi normal. Pengecekan ban setelah mudik adalah langkah preventif yang sangat penting untuk memastikan keamanan, kenyamanan, dan performa kendaraan tetap optimal,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (3/4/2026).

Mukiat menambahkan, Bridgestone Indonesia siap mendukung pengguna kendaraan pribadi untuk melakukan pengecekan ban dan kendaraan melalui lebih dari 400 jaringan ritel Toko Model (TOMO) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ceklis pengecekan ban pascamudik

Kerusakan ban kerap tidak langsung terlihat, tetapi berpotensi membahayakan jika tidak ditangani sejak awal. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pengecekan ban pascamudik.

  1. Tekanan angin ban
    Tusukan paku atau benda tajam yang tidak terasa saat perjalanan panjang dapat menyebabkan tekanan angin berkurang secara perlahan.

Kekurangan tekanan angin dapat menyebabkan dinding samping melentur berlebihan, menghasilkan panas ekstrem, serta meningkatkan risiko pelepasan tapak ban hingga pecah ban.

Maka dari itu, tekanan angin ban, termasuk ban serep, perlu disesuaikan kembali dengan rekomendasi pabrikan kendaraan yang tertera pada pilar pintu.

  1. Kondisi fisik dinding samping ban
    Periksa kemungkinan benjolan (bulging) pada ban akibat menghantam lubang atau permukaan jalan rusak serta retakan halus (crack) akibat pemanasan berlebih dan usia pakai ban.

Kerusakan fisik tersebut menandakan perubahan struktur ban dan memerlukan penanganan segera, termasuk penggantian ban demi keselamatan berkendara.

  1. Tingkat dan pola keausan ban
    Perhatikan pula keausan di bagian tengah atau sisi ban akibat tekanan angin yang tidak sesuai serta keausan tidak merata akibat perubahan setelan spooring karena kondisi jalan.

Bridgestone Indonesia juga menyarankan pengguna kendaraan untuk melakukan spooring dan balancing setelah mudik guna mengembalikan stabilitas kemudi, meningkatkan kenyamanan, dan memperpanjang usia pakai ban.

Melakukan rotasi ban juga disarankan untuk menyeimbangkan keausan antarban. Pasalnya, ban yang sudah aus lebih rentan tertusuk dan berisiko mengalami hydroplaning di jalan licin.

Pengecekan ban setelah mudik merupakan langkah mitigasi penting untuk mencegah kerusakan ban yang lebih parah, menghindari risiko pecah ban, menjaga kondisi ban tetap optimal untuk aktivitas harian, serta memperpanjang umur pakai ban.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau