Advertorial

Berawal dari Dapur Sederhana, Ini Cerita Mardiana Kembangkan Usaha Bersama PNM Mekaar

Kompas.com - 20/04/2026, 14:18 WIB

KOMPAS.com – Arah hidup tak selalu hanya ditentukan oleh kerja keras semata. Diperlukan pula ilmu pengetahuan serta keinginan untuk belajar dan berkembang. Hal itu dibuktikan oleh Mardiana, penjual beras di sudut Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Sama seperti kebanyakan pengusaha ultramikro lain, Mardiana menjalankan usaha beras merah dari dapur rumahnya yang sederhana. Kini, usaha sudah berkembang pesat.

Mardiana mengatakan, pelatihan yang ia dapatkan dari PNM Mekaar tidak sekadar formalitas. Berbagai pelatihan, mulai dari digital marketing, pemasaran, hingga pengelolaan media sosial seolah membuka peluang yang tak pernah terpikirkan oleh Mardiana sebelumnya.

Pelatihan tersebut memberikan ide-ide baru, mulai dari cara memasarkan produk, memperluas jaringan, hingga mengolah beras merah menjadi produk siap saji yang lebih bernilai.

“Dari pelatihan, saya jadi tahu ternyata jualan itu bukan cuma soal barang, melainkan cara kita menawarkan dan mengemasnya,” ucap Mardiana dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Berbekal pengetahuan yang didapat, Mardiana mulai melangkah dengan pendekatan yang berbeda.

Sebelumnya, ia hanya menunggu pembeli. Kini, ia aktif menjemput pasar dengan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan bazar di lingkungan sekitar, kecamatan, kelurahan, bahkan hingga kampus-kampus di Depok dan Jakarta.

Keikutsertaanya tersebut menjadi ruang uji coba untuk mengasah strategi dan membaca kebutuhan pasar.

Dari sana, lahir inovasi sederhana yang berdampak besar, yaitu olahan nasi liwet beras merah lengkap dengan lauk yang terbuat dari Beras Merah Sosoh “Cak Har”. Selain menjawab kebutuhan praktis, produk tersebut juga menciptakan pengalaman baru bagi konsumen.

Tak hanya berkembang secara individu, Mardiana turut memberdayakan pejuang usaha lain lewat peran sebagai penanggung jawab kantin di Kantor Kecamatan Cimanggis.

Nasi liwet buatannya kini menjadi favorit para pekerja di lingkungan kecamatan, bahkan menjadi sajian rutin dalam berbagai kegiatan bulanan.

Berkat pengetahuan dan permodalan, pinjaman awal senilai Rp 2 juta dapat berkembang menjadi Rp 7 juta.

Kini, dapur sederhana itu pun melayani pelanggan harian hingga bulanan menggunakan sistem antar yang membuat hubungan dengan pelanggan terasa lebih dekat dan personal. 

Bagi Mardiana, nilai terbesar tidak terletak pada angka, tetapi pada kepercayaan dan wawasan yang ia dapatkan untuk terus berkembang.

Sekretaris Perusahaan PNM L Dodot Patria Ary menegaskan bahwa pelatihan menjadi kunci dalam mendorong kemandirian nasabah. Melalui pelatihan dan pendampingan, para nasabah PNM Mekaar yang potensial dapat meningkatkan kapasitas usaha mereka.

“Dari sana, nasabah bisa menemukan ide-ide baru, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperluas pasar. Inilah yang kami dorong agar mereka benar-benar naik kelas,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketika perempuan diberikan akses pengetahuan, dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi meluas ke keluarga hingga lingkungan sekitar.

Mardiana menjadi contoh perempuan yang menghidupkan kembali semangat Kartini. Tak hanya soal emansipasi, tetapi juga tentang keberanian untuk belajar dan beradaptasi. Sosok Kartini masa kini yang berpikir, berinovasi, serta menginspirasi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau