Advertorial

Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan, Srikandi Pendidik Wanita Heroik di Pedalaman NTT Tumbuhkan Numerasi Anak Usia Dini lewat Tanah Liat

Kompas.com - 21/04/2026, 09:08 WIB

KOMPAS.com – Jalanan tanah liat penuh bebatuan yang licin dan berlumpur saat terkena hujan menunjukkan potret minimnya fasilitas akses umum di Desa Laob, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Di sana, aliran sungai yang mengalir deras menjadi satu-satunya jalur menuju sekolah. Salah satunya adalah jalur yang dilewati oleh Indri Kristiana Koa, pendidik wanita Taman Kanak-Kanak (TK). 

Berangkat dari Kota Soe sekitar pukul enam pagi, Indri harus menempuh perjalanan sejauh 35 kilometer atau setara 2 jam perjalanan. 

Meski sungai relatif aman dilewati saat musim kemarau, debit air sungai yang sering kali meningkat dan meluap kala musim hujan membuatnya harus dibantu warga setempat untuk menyeberang. Belum lagi, ia masih harus berjalan kaki hingga akhirnya tiba di sekolah. 

“Takut pasti ada, apalagi kalau air sungai sedang tinggi. Tapi anak-anak menunggu di sekolah, jadi saya bertekad untuk terus bertemu dan mengajar anak-anak,” ujar Indri dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (20/4/2026).

TK Negeri Baob adalah layanan Pendidikan Anak Usia Dini satu-satunya di Desa Laob, wilayah yang termasuk dalam kategori terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kondisi sekolah masih sangat sederhana. Hanya terdapat satu ruang kelas yang digunakan bersama oleh Kelompok A dan Kelompok B sehingga proses pembelajaran belum berjalan optimal. 

Kondisi ekonomi orangtua yang sebagian besar bekerja sebagai petani tidak memungkinkan sekolah untuk membebankan pengadaan perlengkapan pada orangtua murid. Dengan iuran sekolah hanya sekitar Rp 10.000 per anak, akses internet pun nyaris tidak tersedia. 

“Untuk kebutuhan pembelajaran, terkadang kami harus menggunakan media digital secara terbatas dan offline, seperti video yang diunduh sebelumnya atau permainan sederhana dan nantinya akan kita presentasikan melalui Power Point” jelasnya.

Di tengah keterbatasan fasilitas, rendahnya kemampuan numerasi anak usia dini juga masih menjadi tantangan. 

Banyak anak datang ke sekolah tanpa mengenal simbol angka sama sekali. Akibatnya, pembelajaran menggunakan buku dan lembar kerja sering membuat mereka cepat bosan dan kehilangan fokus.

Padahal, numerasi sejak dini penting sebagai fondasi kognitif yang membangun kemampuan berpikir logis, sistematis, dan pemecahan masalah. 

Pengetahuan itu dinilai dapat membantu anak memahami konsep matematika melalui bermain, meningkatkan kesiapan sekolah, dan menumbuhkan kepercayaan diri serta kemandirian.

Sementara di rumah, pendampingan belajar juga belum berjalan optimal. Sebagian besar orangtua menghabiskan waktu di kebun atau menjual hasil pertanian di pasar sehingga tidak sempat memikirkan sejauh mana anak memahami pembelajaran di sekolah.

Kondisi tersebut pun menuntut Indri untuk mencari cara agar pembelajaran numerasi terasa lebih dekat dan menyenangkan. Salah satunya, dengan memanfaatkan berbagai media alam yang mudah dijangkau dan akrab dengan kehidupan sehari-hari anak, seperti biji-bijian, batu, kayu, dan ranting. 

Struktur tanah Desa Laob yang kaya akan tanah liat juga menjadi sumber belajar potensial yang selama ini terabaikan. Bersama-sama, Indri mengajak anak-anak keluar kelas menggali tanah liat di halaman sekolah, mencampurnya dengan air hingga mudah dibentuk menjadi simbol angka sesuai kemampuan masing-masing.

Hasilnya, anak-anak pun mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh tawa, antusiasme, dan fokus pada apa yang mereka kerjakan. Ada anak yang hanya mampu membuat garis lurus menjadi angka satu, ada pula yang membentuk lingkaran sederhana sebagai angka nol.

Potret kegiatan pembelajaran menggunakan media tanah liat yang dilakukan oleh Indri.Dok. Askrindo Potret kegiatan pembelajaran menggunakan media tanah liat yang dilakukan oleh Indri.

Kegiatan sederhana itu terbukti membawa dampak besar. Ketika membentuk tanah liat, mereka tak hanya sekadar mengenal dan menghafal angka, tetapi juga memahami angka itu sendiri. 

Kegiatan tersebut pun turut mengasah kemampuan motorik halus, kreativitas, konsentrasi, serta kemampuan berbahasa mereka. Meski sederhana, cara itu lah yang membantu Indri menumbuhkan minat belajar dan kemampuan numerasi anak-anak pedalaman NTT.

“Belajar itu tidak harus selalu di dalam kelas. Dari hal-hal sederhana di sekitar kita, anak-anak bisa belajar banyak,” tutup Indri.

Konsistensi Askrindo di dunia pendidikan

Sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini secara berkelanjutan, Askrindo secara konsisten terjun langsung dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) serta penguatan kapasitas guru PAUD. 

Direktur Kepatuhan, Sumber Daya Manusia (SDM) dan Manajemen Risiko Askrindo R Mahelan Prabantarikso menyampaikan bahwa Askrindo juga turut memberikan apresiasi bagi kerja keras para guru yang mendedikasikan hidupnya untuk membentuk Generasi Emas Indonesia melalui gelaran Askrindo PAUD Award Indonesia (APIA). 

Salah satunya, diberikan kepada Indri, yang mendapatkan mendapatkan gelar Guru Heroik pada Apresiasi Askrindo PAUD Award Indonesia (APIA) 2025.

“Sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, Askrindo percaya bahwa investasi di bidang pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, perusahaan terus mendorong berbagai program tanggung jawab sosial yang berfokus pada penguatan kapasitas guru PAUD selain kepada anak usia dini,” jelas Mahelan. 

Selain program penghargaan, Askrindo juga menjalankan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di bidang pendidikan, mulai dari pelatihan guru PAUD, literasi keuangan, literasi parenting, pencegahan kekerasan terhadap anak, hingga penyediaan alat permainan edukatif serta Mobil Pintar (mobil literasi keliling).

“Hingga saat ini, ribuan guru telah menerima manfaat pelatihan dari berbagai program Askrindo. Diharapkan program-program yang mendukung pendidikan seperti ini akan terus berkelanjutan sehingga memberikan manfaat pada masyarakat,” tutur Mahelan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau