KOMPAS.com – Raden Ajeng (RA) Kartini memperjuangkan sesuatu yang hari ini terasa mendasar, yakni ruang agar perempuan dapat belajar, bekerja, dan menentukan arah hidup.
Ia memperjuangkan penghapusan ketidaksetaraan yang membatasi perempuan pada ruang yang sempit, dipingit menjadi simbol takdir yang seolah tak bisa ditawar.
Dalam salah satu surat, Kartini menulis, “...saya akan mati di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia karena saya telah membantu, saya memecah jalan yang mengarah pada kebebasan dan kemandirian wanita…” (Kartini, Oktober 1900).
Lebih dari sekadar emansipasi, Kartini mendorong perempuan untuk hidup dengan kualitas yang utuh, berpendidikan, mandiri secara ekonomi, dan memiliki suara yang setara dalam keluarga maupun masyarakat.
Perjuangan itu bukan untuk mengubah perempuan menjadi serbabisa, melainkan agar perempuan memiliki pilihan, memilih jalan hidup, serta mampu menjaga pilihan itu dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya.
Warisan Kartini semakin relevan hari ini. Jika pada masa Kartini, keberanian berarti membuka akses dan kesempatan, maka hari ini keberanian juga berarti menjaga dan bertanggung jawab keberlanjutan kesempatan itu.
Ketika perempuan semakin aktif berkontribusi di rumah dan di dunia kerja, keputusan tentang kesehatan, keuangan, dan perlindungan bukan lagi isu “nanti saja”, melainkan bagian dari strategi hidup yang bertanggung jawab.
Presiden Direktur Manulife Indonesia Lauren Sulistiawati menilai, keputusan-keputusan tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan hidup perempuan di masa depan.
“Pada akhirnya, kemandirian tidak hanya dibuktikan lewat pencapaian, tetapi juga lewat kesiapan menghadapi perubahan. Kesiapan ini menjadi bagian penting dalam memastikan perempuan tetap memiliki kendali atas arah hidupnya,” ujar Lauren dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).
Lebih lanjut, Lauren menambahkan, perempuan modern tidak hanya dituntut untuk berperan, tetapi konsekuensi dari peran tersebut, termasuk kemandirian finansial dan kesiapan menghadapi risiko di masa depan.
Keberanian itu tidak selalu hadir dalam keputusan besar. Sering muncul dalam disiplin sehari-hari, seperti memilih yang perlu diprioritaskan, membangun ketahanan, dan menjaga agar hidup tetap bergerak maju dengan martabat yang terjaga.
Lauren mengatakan, keberanian perempuan sering lahir dari keputusan yang tidak selalu terlihat oleh siapa pun, tetapi justru paling menentukan arah hidup.
“Keberanian ini bukan tentang langkah besar yang dramatis, melainkan tentang konsistensi berpikir lebih jauh—bagaimana menjaga pilihan hari ini agar tetap bermanfaat dan relevan di masa depan,” kata Lauren.
Pada praktiknya, lanjut Lauren, keberanian perempuan kerap tumbuh di ruang yang paling personal, di keluarga, di rutinitas, dan di momen-momen sunyi saat keputusan penting harus diambil tanpa sorotan.
Di titik inilah nilai Kartini hadir secara kontekstual, menjaga keluarga tetap utuh ketika risiko datang, dan memastikan kehidupan tetap berjalan dengan martabat yang terjaga ketika keadaan berubah.
Lauren menambahkan, keberanian masa kini lebih banyak hadir dalam bentuk konsistensi dan ketahanan.
“Keberanian itu tidak harus tampak sebagai perlawanan terbuka seperti di masa Kartini. Sebaliknya, tampil sebagai kejernihan untuk berpikir lebih jauh, serta melihat masa depan sebagai sesuatu yang perlu direncanakan dengan baik dan matang, bukan sekadar diharapkan,” tuturnya.
Ketika tujuan hidup bergeser dari lebih lama menjadi lebih berkualitas, maka kesiapan menjadi bagian dari cara kita memaknai kehidupan.
Menurut Lauren, perubahan cara pandang ini menuntut perencanaan yang lebih matang sejak awal.
“Jika pada masa Kartini perjuangan utama adalah membuka ruang untuk memilih, maka tantangan perempuan hari ini adalah memastikan pilihan itu tetap bertahan ketika hidup dijalani lebih panjang dan risikonya semakin kompleks,” imbuh Lauren.
Peran penting perempuan
Lauren melanjutkan, kebutuhan untuk menjaga pilihan itu semakin nyata.
Namun, panjang usia tidak otomatis diiringi kesiapan. Data Manulife Asia Care Survey 2025 menunjukkan, hanya sebagian kecil masyarakat yang benar-benar mengantisipasi hidup yang lebih panjang.
Lauren menilai, kondisi tersebut mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan hidup dan kesiapan.
Di sini, perspektif maknanya bergeser. Bukan semata tentang berapa lama kita hidup, melainkan tentang bagaimana kita menjalaninya. Kesadaran ini menuntut keputusan yang lebih bijak sejak awal.
“Dalam perjalanan hidup, keputusan tidak bisa bertumpu pada harapan semata. Apa yang dibangun hari ini akan menentukan ruang gerak di masa depan,” kata Lauren.
Keputusan yang tampak sederhana pada satu fase kehidupan dapat menjadi penopang, atau justru menjadi beban di fase berikutnya.
Fondasi perlindungan menjadi pembeda, apakah seseorang tetap dapat melangkah dengan pilihan, atau harus menerima keterbatasan ketika risiko datang.
Lauren menegaskan pentingnya fondasi perlindungan yang dirancang secara sadar.
Bagi perempuan Indonesia, konteks tersebut semakin nyata. Perempuan sering memegang beberapa peran sekaligus, sementara usia harapan hidup yang lebih panjang berarti lebih banyak fase dan transisi yang harus dikelola.
“Peran dalam keluarga, tantangan kesehatan, serta kesinambungan pendapatan kerap saling bertaut. Karena itu, kekuatan perempuan tidak cukup hanya untuk bertahan hari ini, tetapi juga untuk menyiapkan hari esok,” ujar Lauren.
Meski begitu, tak sedikit yang merasa telah mempersiapkan masa depan, tetapi pada praktiknya hanya mampu bertahan singkat ketika pemasukan utama terhenti.
Menyimpan aset dalam bentuk kas dan tabungan memang menghadirkan ketenangan jangka pendek, tetapi belum tentu membentuk perlindungan yang memadai untuk jangka panjang.
Di sinilah perbedaan antara merasa aman dan benar-benar siap menjadi nyata.
“Rasa aman memang penting, tetapi rasa aman saja tidak cukup. Kesiapan membutuhkan struktur yang dibangun secara sadar dan terukur agar ketenangan hari ini dapat bertahan ketika hidup bergerak ke fase yang tidak terduga,” imbuh Lauren.
Keberanian berpikir ke depan
Tantangan tersebut semakin kompleks ketika dikaitkan dengan kesehatan. Inflasi medis yang terus meningkat membuat biaya kesehatan kian sulit diprediksi dan berpotensi menggerus stabilitas finansial keluarga.
Lauren menilai, faktor ini menjadi risiko penting yang perlu diantisipasi sejak awal.
Dalam hidup yang semakin panjang, risiko kesehatan bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan faktor yang dapat mengubah arah hidup. Tanpa perlindungan yang tepat, dampaknya bisa meluas, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi keluarga yang bergantung padanya.
“Di sinilah disiplin mengambil peran menjadi bentuk keberanian yang berpikir jauh ke depan. Membangun fondasi perlindungan sejak awal bukanlah sikap pesimis, melainkan tanggung jawab, cara merawat ketahanan keluarga, sekaligus mewariskan optimisme untuk masa depan,” kata Lauran.
Lauren menegaskan, kesiapan adalah bentuk keberanian yang paling relevan hari ini. Karena itu, keberanian yang kita butuhkan adalah keberanian untuk tidak menyerahkan masa depan pada keadaan, melainkan menuntunnya lewat keputusan yang terukur sejak hari ini.
Perlindungan kerap dipersepsikan sebagai batas. Padahal, bagi banyak perempuan, perlindungan justru menghadirkan kebebasan, seperti kebebasan untuk tetap berdaya, mengelola risiko kesehatan, dan untuk tetap memegang kendali atas keputusan hidup.
“Perlindungan bukan penghalang mimpi, melainkan pijakan agar mimpi tetap dapat diperjuangkan,” tuturnya.
Kartini mengajarkan bahwa keberanian perempuan bukan hanya tentang berani bermimpi, tetapi juga berani menjaga agar mimpi itu tetap mungkin untuk diwujudkan.
Dalam konteks hari ini, keberanian itu tecermin dalam disiplin untuk menyiapkan fondasi perlindungan yang berkelanjutan, baik perlindungan kesehatan maupun finansial, agar perempuan dapat terus melangkah dengan tenang dan terarah.