Advertorial

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung Perkuat Kolaborasi untuk Benahi Kota, Dedi Mulyadi Targetkan Bandung Kembali Berwibawa

Kompas.com - 23/04/2026, 12:10 WIB

KOMPAS.com Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menekankan pentingnya kolaborasi erat antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam membenahi berbagai persoalan perkotaan. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan karisma Bandung sebagai ibu kota provinsi.

Menurut Dedi, penataan kota tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan kerja sama lintas pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kota, hingga masyarakat.

“Terima kasih kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov Jabar dan ASN Kota Bandung yang bahu-membahu membersihkan lingkungannya masing-masing. Minimal satu kilometer menuju kantor harus dalam kondisi bersih, tertata, indah, dan berestetika,” ujar pria yang akrab disapa KDM itu dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Ia juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam pemulihan wajah Kota Bandung. Menurutnya, kolaborasi menjadi fondasi utama untuk mengembalikan karakter Bandung sebagai kota yang berwibawa, modern, dan berorientasi masa depan.

Meski demikian, Dedi mengakui masih terdapat sejumlah persoalan krusial yang perlu segera ditangani, terutama terkait pengelolaan sampah yang masih menumpuk di sejumlah titik.

“Kita harus pastikan tidak ada lagi tumpukan sampah di sudut-sudut kota. Ini harus ditangani bersama,” tegasnya.

Untuk itu, Pemprov Jabar bersama Pemkot Bandung akan mengoptimalkan peran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sekaligus mendorong pengembangannya menjadi fasilitas pengolahan sampah berbasis energi.

Selain pengelolaan sampah, kolaborasi juga difokuskan pada peningkatan infrastruktur dasar kota. Dedi menyoroti pentingnya penerangan jalan umum (PJU) yang berfungsi optimal, integrasi sistem CCTV, serta perbaikan drainase guna mencegah banjir.

“PJU tidak boleh ada yang mati. Semua harus terang. CCTV juga harus terintegrasi dengan baik antara provinsi dan kota,” ujarnya.

Penanganan kemacetan juga menjadi agenda bersama. Pemprov Jabar mendorong pengembangan transportasi publik terintegrasi di kawasan Bandung Raya, termasuk pembangunan infrastruktur, seperti underpass dan flyover.

Di sisi lain, sistem lampu lalu lintas akan diarahkan menggunakan teknologi digital yang adaptif terhadap volume kendaraan di lapangan.

“Lampu lalu lintas harus bisa menyesuaikan dengan kondisi kendaraan sehingga lebih efektif mengurai kemacetan,” kata Dedi.

Ia menegaskan, kolaborasi tersebut tidak hanya menyasar aspek teknis, tetapi juga penataan wajah kota secara menyeluruh agar lebih rapi dan menarik, khususnya sebagai destinasi wisata unggulan.

Dedi pun mengapresiasi sinergi yang selama ini terjalin antara Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung dalam membenahi kota.

“Terima kasih kepada Wali Kota Bandung yang setiap hari bahu-membahu dengan Pemprov Jabar untuk mengembalikan kharisma, wibawa, dan keanggunan Kota Bandung,” imbuh dia.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau