KOMPAS.com - Tidak banyak institusi keuangan di Indonesia yang mampu bertahan lebih dari satu abad.
Lahir pada masa kolonial, institusi ini tumbuh di tengah perubahan zaman dan terus beroperasi hingga hari ini setelah melewati berbagai fase sejarah, mulai dari pergantian rezim pemerintahan hingga krisis ekonomi yang datang silih berganti.
Dalam perjalanan waktu, institusi keuangan ini menghadapi dinamika yang tidak sederhana. Mereka harus menghadapi masa kolonial, transisi menuju kemerdekaan, serta berbagai perubahan kebijakan ekonomi nasional. Misalnya, krisis moneter 1998 hingga gejolak ekonomi global menjadi bagian dari ujian yang membentuk ulang industri perbankan.
Di tengah dinamika tersebut, terdapat satu pola yang berulang terlihat, yakni kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk terus berkembang mengikuti zaman. Salah satu institusi yang termasuk dalam kelompok ini adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS).
Bagi Bank Woori Saudara yang tahun ini genap berusia 120 tahun, cerita itu berakar dari satu komunitas sederhana.
Pada 1906, Himpoenan Saudara berdiri sebagai wadah simpan-pinjam bagi para pedagang. Aktivitasnya saat itu masih berskala kecil karena berfokus pada kebutuhan anggota. Meski demikian, aktivitas ini menjadi fondasi awal bagi perjalanan panjang menuju institusi perbankan formal.
Perubahan mulai terjadi ketika lembaga ini memperoleh izin sebagai bank tabungan pada 1955. Dari sebuah perkumpulan, ia beralih menjadi entitas yang beroperasi dalam kerangka regulasi.
Dua dekade kemudian pada 1974, bentuk hukumnya diubah menjadi perseroan terbatas bernama PT Bank Tabungan Himpunan Saudara 1906. Perubahan ini mencerminkan kebutuhan tata kelola yang semakin berkembang.
Langkah-langkah tersebut berlanjut pada 1993 dengan perubahan nama menjadi PT Bank Himpunan Saudara 1906. Memasuki era yang lebih terbuka, bank ini kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2006 melalui penawaran saham perdana yang memperkuat struktur permodalan sekaligus memperluas basis pemegang saham.
Memasuki dekade berikutnya, perubahan lanskap industri perbankan mendorong langkah transformasi yang lebih besar.
Pada 2014, Bank Saudara melakukan penggabungan usaha dengan PT Bank Woori Indonesia. Dari proses ini, lahir entitas baru bernama PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk dengan dukungan Woori Bank Korea sebagai pemegang saham strategis.
Seiring perkembangan tersebut, peran BWS turut berkembang. Selain melayani kebutuhan domestik, bank ini juga terlibat dalam memfasilitasi transaksi keuangan lintas negara, khususnya yang berkaitan dengan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Dalam praktiknya, fungsi ini meluas seiring meningkatnya aktivitas perdagangan internasional yang menuntut dukungan layanan perbankan lintas batas.
Di sisi lain, sebagai bank komersial, BWS tetap menjalankan fungsi dasar perbankan melalui layanan penghimpunan dana, fasilitas transaksi, serta pembiayaan bagi nasabah individu dan korporasi.
Layanan tersebut didukung oleh kanal konvensional dan digital yang berkembang mengikuti perubahan pola transaksi masyarakat.
Corporate Secretary BWS Edwin Sulaeman menilai, usia 120 tahun bukan hanya penanda sejarah, melainkan juga mencerminkan kemampuan institusi dalam menjaga kesinambungan di tengah perubahan zaman.
“Bagi kami, usia 120 tahun bukan sekadar pencapaian waktu, tetapi cerminan dari proses adaptasi yang berlangsung secara konsisten. Setiap fase memiliki tantangan tersendiri dan kemampuan untuk menyesuaikan diri menjadi faktor penting dalam menjaga relevansi,” kata Edwin dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Edwin menambahkan, BWS berkomitmen untuk mendukung aktivitas keuangan lintas negara. Seiring perkembangan ekonomi global, pihaknya melihat kebutuhan terhadap layanan keuangan lintas batas semakin meningkat.
“Dalam konteks tersebut, bank berupaya berperan sebagai penghubung dalam mendukung aktivitas perdagangan dan transaksi internasional,” tuturnya.