Advertorial

Cakupan Peserta JKN Hampir Menyeluruh, BPJS Kesehatan Fokus Dorong Kepesertaan Aktif

Kompas.com - 24/04/2026, 22:06 WIB

KOMPAS.com – Cakupan peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini nyaris menjangkau seluruh penduduk Indonesia.

Di balik capaian itu, Badan Penyelenggar Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan masih menghadapi pekerjaan rumah besar, yakni mendorong masyarakat untuk tetap aktif sebagai peserta serta lebih sadar menjaga kesehatan sejak dini.

Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Rukijo mengatakan, sejak mulai beroperasi pada 2014, BPJS Kesehatan telah menghadirkan banyak kemajuan, baik dari sisi layanan maupun partisipasi masyarakat.

“Dalam perjalanan lebih dari 12 tahun ini, banyak kemajuan yang telah kami raih. Saat ini, hampir 99 persen penduduk Indonesia sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan,” ujar Rukijo dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Meski demikian, cakupan kepesertaan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat keaktifan peserta dalam memanfaatkan layanan secara berkesinambungan.

Menurut Rukijo, masih banyak masyarakat yang baru mengurus (kepesertaan) saat sedang membutuhkan layanan kesehatan.

“Masih ada PR bagi kami, yaitu mendorong peserta yang belum aktif agar benar-benar memanfaatkan kepesertaannya. Selama ini masih banyak yang baru mengurus BPJS ketika sedang membutuhkan layanan kesehatan,” jelasnya.

Oleh karena itu, BPJS Kesehatan menilai, edukasi soal hak dan kewajiban peserta tetap menjadi hal penting. Pemahaman yang lebih baik dapat membantu masyarakat memanfaatkan jaminan kesehatan secara lebih optimal, bukan hanya saat kondisi darurat.

“Kami ingin seluruh masyarakat memahami bagaimana jaminan kesehatan ini bekerja sehingga bisa berperan aktif dan mendapatkan layanan secara lebih lengkap,” tambah Rukijo.

Gandeng mitra edukasi

Untuk memperluas jangkauan edukasi, BPJS Kesehatan menggandeng berbagai mitra. Salah satunya menunjuk tokoh publik. Salah satunya dengan menunjuk selebritas Raffi Ahmad sebagai Duta Kehormatan BPJS Kesehatan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci untuk memperkuat sistem program JKN yang dibangun dengan semangat gotong royong.

“Program itu dibangun dengan semangat gotong royong. Saat ini, setiap hari terjadi sekitar dua juta transaksi layanan kesehatan. Hal ini menunjukkan tingginya pemanfaatan layanan oleh masyarakat,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, BPJS Kesehatan juga menyoroti tantangan baru yang kian terlihat, yakni peningkatan kasus penyakit tidak menular pada kelompok usia muda.

Menurut Prihati, tren itu menjadi alarm bahwa edukasi kesehatan tidak cukup berhenti pada akses layanan, tetapi juga harus menyentuh upaya promotif dan preventif.

“Kami melihat ada peningkatan kasus hipertensi dan diabetes pada generasi muda. Ini menjadi perhatian bersama untuk mendorong upaya promotif dan preventif,” tegasnya.

Perkuat kampanye hidup sehat bagi generasi muda

Sorotan terhadap kondisi generasi muda tersebut mendorong BPJS Kesehatan untuk memperkuat kampanye hidup sehat.

Kampanye ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang manfaat menjadi peserta JKN, tetapi juga menyadarkan generasi muda bahwa menjaga kesehatan sejak awal adalah investasi jangka panjang.

 Sebagai Duta Kehormatan BPJS Kesehatan, Raffi Ahmad mengatakan, ia ingin ikut mengedukasi generasi muda agar tidak menunda kepedulian terhadap kesehatan hingga jatuh sakit.

“Saya ingin menyampaikan kepada generasi muda bahwa hidup sehat itu dimulai dari sekarang, jangan menunggu sakit. Program JKN ini sangat penting karena kesehatan adalah kebutuhan dasar semua orang,” kata Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni itu.

Raffi menilai, gaya hidup sehat bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam keseharian, mulai dari menjaga pola pikir, memperhatikan asupan makanan, hingga rutin beraktivitas fisik.

Menurut dia, menjaga kesehatan tidak hanya berdampak pada kualitas hidup individu, tetapi juga menentukan kesiapan generasi muda dalam menghadapi masa depan.

“Hidup sehat itu dimulai dari pikiran yang positif, pola makan yang baik, dan rutin berolahraga. Saya sendiri masih aktif lari dan sudah mengikuti beberapa ajang maraton dunia,” tuturnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau