Advertorial

Dari Rp 100.000 ke Tanah Suci, Kisah Jamaah Menabung hingga Berangkat Haji

Kompas.com - 27/04/2026, 19:43 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com – Suasana hangat terasa di Grand El-Hajj Asrama Haji Banten di Cipondoh, Tangerang. Di tengah lalu-lalang jamaah yang bersiap menuju Tanah Suci, salah satu booth berpendingin ruangan menjadi tempat singgah yang nyaman.

Di dalamnya, sejumlah jamaah tampak beristirahat, sebagian memanfaatkan layanan pijat gratis, sementara lainnya mengurus penukaran riyal atau kebutuhan administrasi terakhir. Petugas melayani dengan sigap di booth yang dihadirkan Bank Syariah Indonesia (BSI) itu. mereka membantu jamaah, terutama yang lanjut usia, agar tetap nyaman menjelang keberangkatan.

Di balik suasana itu, tersimpan cerita panjang para jamaah dalam mewujudkan ibadah haji. Perjalanan yang bagi sebagian orang, dimulai dari langkah sederhana, yakni membuka tabungan haji.

“Cukup mulai dari Rp 100.000, itu sudah jadi langkah awal untuk merealisasikan niat berhaji,” ujar Branch Manager BSI Cipondoh, Mirna Desriani, saat diwawancara Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Menabung dari hasil pendapatan kios sembako

Bagi Djamaludin Malik (66), perjalanan itu dimulai sejak 2013. Sehari-hari berdagang sembako, ia menyisihkan sebagian penghasilannya secara rutin untuk tabungan haji.

“Setiap bulan saya masukkan sekitar Rp 250.000 dikali dua dengan rekening istri juga. Memang sempat berhenti waktu pandemic Covid-19 kurang lebih dua tahun karena dagangan turun, tapi setelah itu lanjut lagi,” ujarnya ditemui di booth BSI.

Djamaludin Malik (66) menabung Rp 250.000 tiap bulan selama hamper 13 tahun untuk mempersiapkan dana ibadah haji.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Djamaludin Malik (66) menabung Rp 250.000 tiap bulan selama hamper 13 tahun untuk mempersiapkan dana ibadah haji.

Selama lebih dari satu dekade, ia menjaga konsistensi tersebut. Baginya, nominal bukan hal utama.

“Kalau Rp 500.000 sebulan untuk berdua, sebenarnya tidak berat. Yang penting (menabungnya) jalan terus,” katanya.

Kini, menjelang keberangkatan, ia merasakan manfaat dari perjalanan panjang itu. Tabungannya cukup untuk pelunasan, bahkan masih tersisa untuk kebutuhan selama di Tanah Suci.

Di asrama haji itu, Djamaludin juga merasakan langsung layanan yang tersedia, baik yang diberikan oleh pemerintah maupun booth perbankan seperti BSI. Di sini, ia memanfaatkan penukaran riyal dan mencoba fasilitas pijat yang disediakan. Untuk wara-wiri dari satu gedung ke gedung lain pun, ia menjajal fasilitas buggy car.

“Pelayanannya (BSI) bagus, kalau ada informasi (sepengalaman saya, kami) langsung dikasih tahu. Jadi kami enggak bingung,” ujarnya.

Strategi menjelang keberangkatan

Cerita berbeda datang dari Ilhamuddin (57). Ia dan istrinya juga memulai tabungan haji sejak 2013, tetapi tidak rutin menabung setiap bulan.

Sebaliknya, ia lebih sering memantau perkembangan sambil menunggu kepastian waktu keberangkatan.

Nasabah BSI, Ilhamudin (57) jelang keberangkatan haji ditemui di Grand El-Hajj Asrama Haji Banten di Cipondoh, Tangerang, Rabu (23/4/2026).KOMPAS.com/MICHELLE CELINE Nasabah BSI, Ilhamudin (57) jelang keberangkatan haji ditemui di Grand El-Hajj Asrama Haji Banten di Cipondoh, Tangerang, Rabu (23/4/2026).

“Saat pandemi, kami pantau waktu keberangkatan harusnya 2024 tapi kemudian mundur dan ada kabar kabar pengurangan kuota kami sangat khawatir. Saat tahu ini waktunya (2026), kami senang sekali dan bersyukur. Satu-dua tahun sebelum berangkat, (kami) baru mulai persiapan untuk pelunasan,” katanya.

Strateginya adalah berinvestasi emas lewat aplikasi BSI. Dalam dua tahun terakhir sebelum pelunasan, ia mengumpulkan emas yang kemudian dijual untuk menutup biaya haji.

“Kami pakai investasi emas, lalu dijual untuk pelunasan. Apalagi dua tahun belakang kenaikan emas luar biasa ya dan bisa dipantau hanya lewat aplikasi,” ujarnya.

Ikhtiar, doa, dan konsistensi

Sementara itu, pasangan Sudirman dan Anis Maniar menjalani perjalanan dengan cara yang lebih sederhana. Mereka menabung semampunya dan menjaga niat.

Sejak membuka tabungan pada 2013, keduanya rutin menyisihkan uang setiap bulan, dengan nominal yang fleksibel.

“Kalau ada Rp 500.000 ditabung, kalau ada lebih ya ditambah. Yang penting dijalani saja,” tutur mereka.

Selain ikhtiar finansial, keduanya juga menekankan pentingnya doa dan menjaga kesehatan selama masa tunggu.

“Yang penting niat, doa, dan dijaga kesehatannya,” ujar mereka.

Hadir di setiap tahap perjalanan

Menurut Mirna, sebagian besar jamaah memang menempuh perjalanan panjang dalam menabung untuk menunaikan ibadah haji, bahkan hingga belasan tahun.

Karena itu, kehadiran layanan BSI di asrama haji Cipondoh menjadi bagian dari upaya mendampingi jamaah hingga tahap akhir sebelum keberangkatan.

Booth yang disediakan BSI di Grand El-Hajj Asrama Haji Banten di Cipondoh, Tangerang, menghadirkan layanan pijat gratis, buggy car, dan penukaran riyal.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Booth yang disediakan BSI di Grand El-Hajj Asrama Haji Banten di Cipondoh, Tangerang, menghadirkan layanan pijat gratis, buggy car, dan penukaran riyal.

“Tujuan kami memang melayani jamaah sepenuh hati, dari awal menabung sampai menjelang berangkat,” ujarnya.

Layanan yang dihadirkan pun disesuaikan dengan kebutuhan jamaah, mulai dari penukaran mata uang riyal dengan kurs bersaing, penyediaan kartu visa untuk kemudahan transaksi di luar negeri, hingga fasilitas tambahan untuk kenyamanan seperti pijat gratis, dan dua buggy car untuk memudahkan mobilitas para jemaah.

Layanan hingga kepulangan jamaah

Selain itu, BSI juga menyediakan program pembelian kembali (buyback) sisa riyal bagi jamaah yang telah kembali ke Tanah Air. Melalui program ini, jamaah dapat menukarkan kembali uang riyal kertas, seperti pecahan 500, 100, 50, 10, dan 5 riyal, selama masih berlaku di Arab Saudi dan dalam kondisi layak edar dan tidak terpotong atau sobek.

“Dengan adanya layanan penukaran hingga buyback sisa riyal ini, kami ingin memastikan kebutuhan jamaah terlayani tidak hanya sebelum dan saat keberangkatan, tetapi juga setelah kembali ke Tanah Air. InsyaAllah, layanan yang kami siapkan bisa mendampingi jamaah dari awal hingga akhir perjalanan,” ujar Mirna.

Nasabah BSI dapat memanfaatkan fasilitas dari booth yang disediakan BSI di Grand El-Hajj Asrama Haji Banten di Cipondoh, Tangerang.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Nasabah BSI dapat memanfaatkan fasilitas dari booth yang disediakan BSI di Grand El-Hajj Asrama Haji Banten di Cipondoh, Tangerang.

Bagi para jemaah, perjalanan haji bukan hanya soal kesiapan biaya, tetapi juga tentang menjaga niat dalam jangka panjang.

Ada yang menabung rutin dari usaha kecil, ada yang memanfaatkan investasi, ada pula yang sekadar menyisihkan semampunya. Namun semuanya bermuara pada satu hal yang sama, yakni panggilan.

“Haji itu panggilan, kita enggak pernah tahu kapan waktunya. Nah, bersiap-siap dengan membuka tabungan haji dan rutin menabung adalah satu langkah yang lebih daripada sekadar niat,” tambah Mirna lagi.

BSI memberikan fasilitas tukar sisa riyal dengan kurs kompetitif bagi para jemaah haji.Dok BSI BSI memberikan fasilitas tukar sisa riyal dengan kurs kompetitif bagi para jemaah haji.

Ia menjelaskan, membuka tabungan haji di BSI cukup dengan Rp 100.000. Lalu untuk mengamankan kursi Rp 25 juta.

Langkah emas menunaikan ibadah tuntas, bebas cemas bersama BSI. Perjalanan ke Tanah Suci bisa dimulai dari langkah sederhana, yakni dengan menata niat dan membuka tabungan haji sejak sekarang, lalu mempersiapkan pelunasan secara bertahap, termasuk melalui Cicil Emas. Dari Rp 100.000, ikhtiar itu tumbuh menjadi kesiapan berangkat,” ujar Mirna.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau