KOMPAS.com — Di tengah perkembangan pesat digitalisasi, membangun bisnis kini tidak lagi selalu bergantung pada seberapa besar modal finansial. Dengan strategi yang tepat dan kemampuan membaca peluang, siapa pun memiliki kesempatan untuk memulai usaha dari nol.
Hal itu mengemuka dalam gelar wicara bertajuk “Modal Niat, Modal Nekat: Bangun Bisnis dari Nol di Era Digital” yang diselenggarakan Kompas Gramedia sebagai bagian dari rangkaian Kartini Kini 2026 di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Pada kesempatan itu, Chief Executive Officer (CEO) ONA Indonesia Shintia Xu membagikan kisah awal perjalanan bisnisnya yang berangkat dari sesuatu yang tidak direncanakan. Ia mengungkapkan, ONA lahir dari tawaran untuk mencoba tantangan baru saat dirinya bekerja di sebuah startup.
“Kesempatan itu sebenarnya ada di mana-mana, di sekitar kita. Hal yang penting adalah bagaimana kita bisa melihat dan menangkap peluang tersebut,” ujar Shintia dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (27/4/2026).
Menurut Shintia, memulai bisnis memang relatif mudah. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada pengelolaannya agar dapat bertahan dalam jangka panjang.
Ia menyoroti fakta bahwa banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tidak mampu bertahan hingga lima tahun sehingga pemahaman mengenai fondasi bisnis menjadi hal penting sejak awal.
“Memulai bisnis mungkin terlihat mudah. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah memahami cara mengelolanya agar bisa bertahan. Faktanya, banyak UMKM tidak bertahan hingga lima tahun. Artinya, ada hal-hal mendasar yang perlu dipahami sejak awal,” lanjutnya.
Shintia pun menegaskan bahwa modal dalam membangun bisnis tidak selalu berbentuk uang. Menurutnya, pengalaman, rasa ingin tahu, serta kemauan untuk terus belajar merupakan bentuk modal yang kerap diabaikan.
“Berbicara soal modal, sebenarnya teman-teman yang hadir di sini pun sedang mengumpulkan modal. Rasa penasaran, keinginan untuk belajar, hingga pengalaman yang didapat dari berbagai kesempatan, itu semua adalah modal,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses yang tidak terpisahkan dalam membangun bisnis.
“Kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Banyak bisnis yang sukses hari ini justru bukan usaha pertama mereka. Dari setiap kegagalan, pasti ada pelajaran yang bisa diambil untuk melangkah lebih baik ke depannya,” tambah Shintia.
Bangun komunikasi yang relevan
Pada kesempatan sama, Host & Creative Kompas.com Jessica Emmanuella menyoroti peran penting pendekatan komunikasi yang relevan dan dekat dengan audiens dalam mendorong keputusan pembelian.
Menurut Jessica, kekuatan cerita di balik sebuah produk dapat menjadi faktor pembeda yang signifikan, terutama jika dikemas dengan sudut pandang yang mampu membangun kedekatan emosional dengan konsumen.
“Gunakan wording yang bisa membangun rasa penasaran sehingga audiens terdorong untuk mencari tahu lebih jauh dan akhirnya menentukan apakah mereka percaya dengan brand kita atau tidak. Di sisi lain, kita juga harus lebih dekat dengan konsumen dan memahami sudut pandang mereka,” ujar Jessica.
Ia menambahkan, dalam strategi konten digital, mengikuti tren bukanlah hal yang keliru selama tetap relevan dan tidak menghilangkan identitas brand.
“Memanfaatkan tren itu tidak masalah selama tidak dipaksakan. Konten bisa saja naik karena mengikuti tren, tetapi untuk jangka panjang, yang lebih penting adalah membangun konten yang orisinal,” jelasnya.
Melalui diskusi ini, Kompas Gramedia mendorong para pelaku UMKM, khususnya perempuan, untuk tidak ragu memulai bisnis meski memiliki keterbatasan modal.
Dengan memanfaatkan peluang di era digital, memperkuat keahlian, serta membangun kedekatan dengan konsumen, bisnis yang dirintis dari nol tetap memiliki peluang besar untuk tumbuh dan bertahan.