Advertorial

Dari Pawai Rimpu hingga Bazar UMKM, Festival Rimpu Mantika 2026 Hidupkan Ekonomi Kreatif Kota Bima

Kompas.com - 28/04/2026, 17:04 WIB

KOMPAS.com – Festival Rimpu Mantika yang diselenggarakan di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (25/4/2026) sukses menyita perhatian masyarakat. Hal ini terlihat dari membeludaknya jumlah peserta yang ikut memeriahkan rangkaian pawai rimpu.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Festival Rimpu Mantika 2026, pawai diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pegawai pemerintahan, TNI-Polri, BUMN hingga masyarakat umum yang mengenakan busana adat.

Mengusung tema “Preserving Culture and History”, festival itu diadakan dengan harapan tidak hanya untuk melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga sebagai investasi masa depan.

“Festival ini membuktikan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan investasi masa depan dan mesin ekonomi rakyat,” tutur Walikota Bima A Rahman dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (28/4/2026).

Rahman pun menyampaikan bahwa masyarakat Kota Bima patut berbangga karena Festival Rimpu Mantika berhasil kembali terpilih dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Oleh karena itu, momentum tersebut dinilai harus dimanfaatkan sebagai panggung identitas, ruang ekspresi, serta mesin penggerak perekonomian masyarakat Kota Bima.

“Rimpu sebagai warisan budaya perempuan Bima menjadi simbol peradaban, kehormatan, dan jati diri yang harus terus dijaga,” ungkapnya.

Senada, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti juga turut mengapresiasi konsistensi Pemerintah Kota (Pemkot) Bima dalam menyelenggarakan event Festival Rimpu Mantika 2026.

Menurutnya, festival itu tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor pariwisata serta ekonomi kreatif yang berdampak langsung pada masyarakat.

Indah pun berharap, Festival Rimpu Mantika dapat terus dikembangkan sebagai pusat penguatan budaya dan ekonomi kreatif serta menjadi identitas kebanggaan masyarakat Kota Bima di panggung global.

“Festival ini harus terus dijaga dan dikembangkan sebagai kebanggaan daerah sekaligus daya tarik wisata,” ujarnya.

Dukung Bima jadi kota kreatif

Capaian Festival Rimpu Mantika 2026 juga direspons baik oleh perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) Abdul Malik. Ia mengaku bangga menyaksikan kemeriahan festival tersebut yang terbukti berhasil menarik partisipasi masyarakat, khususnya di Kota Bima dan Kabupaten Bima.

Menurutnya, kekayaan tradisi dan budaya yang dimiliki Kota Bima bisa memberi peluang yang cukup besar bagi wilayah ini untuk ditetapkan sebagai salah satu kota kreatif berbasis budaya di Indonesia.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah agar membangun kolaborasi lintas sektor demi memastikan festival tetap dilaksanakan sebagai agenda tahunan.

“Tingkatkan kualitas festival ini dengan berkolaborasi dengan seluruh lintas sektor dan elemen,” harapnya.

Ke depan, festival budaya ini diharapkan tidak sekedar menjadi hiburan, tetapi juga penggerak ekonomi yang dapat menarik minat kunjungan wisata ke Bima.

“Harus dijadikan daya tarik untuk menarik kunjungan wisatawan serta berdampak positif bagi pemerintah, jasa perhotelan hingga pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan Ekraf,” ucap Malik.

Optimistis masuk KEN 2027

Melihat tingginya antusiasme warga, Ketua Panitia Festival Rimpu Mantika Firdaus optimis kegiatan tersebut akan kembali terpilih sebagai salah satu agenda KEN Kemenpar di 2027.

Pasalnya, kegiatan itu tidak hanya menjadi bagian dari upaya daerah dalam melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki, tetapi juga terbukti mampu mendongkrak ekonomi masyarakat lokal.

“Selain menjaga dan melestarikan kearifan budaya lokal, Festival Rimpu Mantika juga mampu mendongkrak ekonomi kreatif,” ungkapnya.

Selama empat hari pagelaran Festival Rimpu Mantika 2026, lanjutnya, ada banyak rangkaian kegiatan yang digelar, mulai dari atraksi budaya, pawai rimpu, fashion show, hingga bazar bagi pelaku UMKM.

“Sejak masuk KEN Kemenpar, festival ini sudah tiga kali dilaksanakan di Kota Bima, dimulai tahun 2024, 2025, dan 2026,”kata Firdaus.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau