KOMPAS.com – Transformasi koperasi di Indonesia Timur menemukan momentum. Tidak hanya tumbuh sebagai entitas bisnis, koperasi kini menjelma menjadi ekosistem yang saling menguatkan.
Peran tersebut ditunjukkan oleh Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat (TLM) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berperan sebagai “kakak asuh” bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di berbagai wilayah Indonesia Timur.
Model pendampingan itu menjadi bukti bahwa koperasi tidak lagi berjalan sendiri, tetapi tumbuh melalui kolaborasi dan gotong royong antarkoperasi, dengan dukungan pemerintah serta lembaga pembiayaan.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa pendekatan “kakak asuh” merupakan strategi penting untuk mempercepat penguatan KDKMP di seluruh Indonesia.
“Saya sudah sampaikan kepada Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir (LPDB) dan Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat untuk bersama-sama membantu pengembangan bisnis koperasi di tingkat desa dan kelurahan, mulai dari memperluas usaha hingga memperkuat pembiayaan permodalan. Ini penting agar koperasi benar-benar menjadi kekuatan ekonomi baru masyarakat,” ujar Ferry dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Ia juga menekankan bahwa kehadiran KDKMP bukan sekadar program, melainkan instrumen untuk mendorong masyarakat desa menjadi pelaku ekonomi aktif dengan dukungan akses permodalan yang nyata.
Dari koperasi kredit menjadi penggerak ekosistem
Sebagai koperasi dengan kinerja impresif dan aset yang terus bertumbuh hingga menembus Rp 1,2 triliun, Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat tidak berhenti pada layanan simpan pinjam.
Koperasi tersebut melakukan transformasi melalui diversifikasi usaha di sektor riil, penguatan jaringan distribusi, serta pendampingan koperasi baru di tingkat desa dan kelurahan.
Pendampingan terhadap KDKMP Manulai II di Kupang menjadi salah satu contoh konkret. Melalui skema kolaborasi usaha, koperasi ini membantu penyediaan produk, sistem konsinyasi, serta penguatan kapasitas usaha anggota.
Hal tersebut pun berhasil meningkatkan aktivitas ekonomi serta potensi omzet koperasi yang terus berkembang.
Direktur Bisnis LPDB Koperasi Oetje Koesoema Prasetia, menegaskan bahwa LPDB hadir untuk memperkuat pola kemitraan antar-koperasi sebagai bagian dari strategi nasional pengembangan koperasi berbasis ekosistem.
“Apa yang dilakukan oleh Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat menunjukkan bahwa koperasi yang kuat dapat menjadi lokomotif bagi koperasi lain di tingkat akar rumput. LPDB Koperasi hadir untuk memperkuat peran tersebut melalui dukungan pembiayaan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” kata Oetje.
Ia menambahkan, sinergi antara LPDB, koperasi besar, serta dukungan pemerintah daerah menjadi kunci dalam membangun sistem pembiayaan yang inklusif.
“Sejalan dengan arahan Menteri Koperasi, kami mendorong kolaborasi pembiayaan antara LPDB, koperasi, dan perbankan dalam skema joint financing. Dengan demikian, koperasi desa dan kelurahan tidak hanya tumbuh, tetapi juga memiliki daya tahan dan daya saing dalam jangka panjang,” jelasnya.
Adapun program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang kini telah terbentuk di puluhan ribu desa menjadi tonggak penting dalam mengembalikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional.
Melalui dukungan pembiayaan, pendampingan, serta kehadiran “kakak asuh”, seperti Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat, koperasi di tingkat desa diharapkan mampu berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi, mulai dari distribusi barang, pengolahan hasil produksi, hingga penguatan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi itu menjadi fondasi kuat bagi lahirnya ekosistem koperasi modern Indonesia yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.