Advertorial

Dari Sampah Jadi Berkah, Ini Kisah Ibu Amaliyah Kurangi Limbah di Kampung Masigit Bersama PNM

Kompas.com - 29/04/2026, 16:10 WIB

KOMPAS.com – Tumpukan sampah di TPU yang terus meningkat sering kali membawa setumpuk tantangan bagi lingkungan.

Namun, di balik segala masalah yang ditimbulkan, sampah yang dipilah dan dikelola dengan tepat justru dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang membawa dampak positif.

Hal itulah yang dilakukan oleh Amaliyah, nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM) Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. 

Berawal dari usaha rumahan yang didirikan sejak 2019, Amaliyah kini tidak hanya mengembangkan bisnis, tetapi juga menginisiasi solusi pengolahan sampah dari tingkat akar rumput yang memberikan nilai ekonomi serta manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.

Perjalanan usaha Amaliyah bersama PNM mulai berkembang pesat sejak mendapatkan pemberdayaan PNM Mekaar pada 2023. Saat itu, ia tidak hanya memperoleh tambahan modal, tetapi juga pendampingan dan pembinaan yang turut mendorong peningkatan kapasitas usahanya.

Berbekal pengetahuan yang diperoleh, ia kemudian mengembangkan sampah dari brand Amalia Kitchen–usaha kue rumahannya–menjadi berbagai produk, mulai dari aromaterapi hingga sofa ecobrick

Seiring dengan menumpuknya sampah akibat peningkatan produksi, Amaliyah pun merespons bijak tantangan tersebut dengan mengajak masyarakat sekitar untuk melakukan pemilahan serupa melalui inisiatif Bank Sampah Masigit Asri Tanpa Sampah (MATA).

Melibatkan 86 anggota, Amaliyah tidak hanya menjadikan bank sampah tersebut sebagai usaha, tetapi juga ladang berbagi dengan menyisihkan sebagian keuntungan untuk kaum duafa dan anak yatim.

“Saya tidak pernah menyangka, yang awalnya (saya) hanya ibu-ibu dasteran yang ngumpulin sampah, kini bisa sampai jadi juara Mekaarpreneur. Alhamdulillah, dari kegiatan sederhana ini saya justru bisa berbagi dan memberi manfaat untuk orang lain,” ucap Amaliyah dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (29/4/2026).

Sekretaris Perusahaan PNM L Dodot Patria Ary menambahkan bahwa Amaliyah merupakan salah satu gambaran nyata dari semangat yang ingin terus ditumbuhkan oleh PNM.

“Dari hal sederhana, dapur rumahan, bisa lahir dampak yang luas, bukan hanya menguatkan ekonomi keluarga, melainkan juga menghadirkan kepedulian sosial dan menjaga lingkungan sekitar,” ujar Dodot.

Dampak nyata pun dirasakan langsung oleh Kampung Masigit dalam hal pengelolaan sampah. Berkat Bank Sampah MATA, angka tumpukan sampah ke TPU yang sebelumnya mencapai 900 kg per bulan kini berkurang signifikan menjadi hanya 400 kg setiap bulannya.

Amaliyah dan Bank Sampah MATA menjadi bukti nyata bahwa pemilahan sampah yang terkelola dengan baik dapat menjelma menjadi sumber keberkahan yang bernilai manfaat bagi lingkungan sekitar, alih-alih hanya menjadi tumpukan sampah yang mengganggu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau