KOMPAS.com — Setelah berkeliling ke puluhan festival film internasional, film layar lebar Crocodile Tears akhirnya siap bertemu penonton Indonesia. Film panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon ini dijadwalkan tayang di bioskop Tanah Air mulai Kamis (7/5/2026).
Diproduseri Mandy Marahimin, Crocodile Tears hadir sebagai drama keluarga yang dibangun dengan nuansa mencekam. Film ini digarap secara kolaboratif oleh sineas dari empat negara dan telah memperoleh perhatian luas di panggung internasional lewat partisipasinya di 33 festival film dunia.
Perjalanan Crocodile Tears di ranah global bermula dari pemutaran perdananya di Toronto International Film Festival 2024.
Setelah itu, Crocodile Tears melanjutkan langkahnya ke sejumlah festival bergengsi lain, antara lain Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, Tallinn Black Nights Film Festival, Goteborg International Film Festival, Adelaide Film Festival, Torino Film Festival, dan Red Sea International Film Festival.
Rangkaian apresiasi tersebut menjadi penanda bahwa cerita yang berangkat dari Indonesia mampu berbicara kepada penonton lintas negara.
Di balik perjalanannya, Crocodile Tears lahir dari proses yang panjang. Tumpal mengungkapkan, film ini dikembangkan selama tujuh tahun dan melalui 17 draf skenario sebelum menemukan bentuk yang dianggap paling tepat.
“Film ini kami kembangkan selama tujuh tahun, dengan 17 draft skenario sampai akhirnya menemukan bentuk yang kami yakin,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Ia menambahkan, momen yang paling dinanti justru ketika film tersebut akhirnya “pulang” dan bertemu dengan penonton Indonesia.
Pendekatan Tumpal dalam menggarap film Crocodile Tears cukup kolaboratif. Ia memberi ruang luas kepada para kepala departemen dan para aktor untuk menginterpretasikan naskah secara bebas dan personal.
Pendekatan itu turut memengaruhi pembentukan karakter di layar, termasuk yang dimainkan oleh Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani.
Marissa, yang memerankan tokoh Mama, mengatakan bahwa karakternya dalam film tersebut tidak dibangun secara instan, tetapi melalui proses emosi yang dirangkai sejak masa persiapan hingga syuting.
“Tumpal memberi kami ruang yang sangat besar untuk masuk ke dalam karakter masing-masing. Ada banyak lapisan emosi yang kami bangun bersama dari awal proses persiapan sampai syuting,” ungkap Marissa.
Menurut Marissa, pengalaman itulah yang membuat karakter Mama terasa sangat nyata baginya.
Dalam cerita film itu, Mama digambarkan sebagai ibu tunggal yang hidup bersama putranya, Johan, di sebuah taman buaya. Ia berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang diyakini akan menyakitinya.
Kehidupan mereka yang tenang dan monoton mulai berubah ketika Arumi masuk ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi tinggal bersama mereka, relasi ibu dan anak itu perlahan berubah yang diikuti intrik dan ketegangan yang terus menumpuk hingga Mama merasa harus mengambil tindakan.
Dengan latar yang tidak biasa dan relasi keluarga yang rapuh, Crocodile Tears memadukan realisme magis dengan teror psikologis. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang intim dengan konflik yang tampak dekat, tetapi menyimpan lapisan emosi yang terus mengeras seiring cerita berjalan.
Nama Tumpal sendiri bukan sosok baru dalam dunia sinema Indonesia. Sebelum debut film panjang, ia lebih dulu dikenal lewat sejumlah film pendek yang mendapat perhatian di festival nasional dan internasional.
Beberapa di antaranya adalah The Last Believer yang meraih penghargaan di JIFFest, Mamalia yang masuk seleksi Rotterdam dan Hong Kong International Film Festival, serta Laut Memanggilku yang memenangkan Sonje Award di Busan International Film Festival 2021 dan masuk nominasi Film Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2021.
Lewat karya-karya tersebut, Tumpal dikenal piawai membangun drama dengan emosi yang tumbuh perlahan, tetapi konsisten, dan kerap menyisipkan twist yang mengejutkan. Pendekatan ini kembali terasa dalam Crocodile Tears.
Jejak produksi panjang
Produser Mandy Marahimin mengatakan perjalanan Crocodile Tears juga menuntut proses produksi yang panjang dan detail.
Mandy menjelaskan, tim produksi membutuhkan enam tahun sebelum film akhirnya masuk tahap produksi. Total, dibutuhkan delapan tahun hingga karya tersebut siap tayang di Indonesia.
Mendy melanjutkan, proses casting berlangsung hampir dua tahun, disusul persiapan berbulan-bulan yang dilakukan secara serius dan rinci. Salah satu elemen produksi yang paling menantang adalah pembangunan sebuah rumah di dalam taman buaya yang berdampingan dengan ratusan buaya hidup.
“Ini sebuah film yang melalui proses sangat kolaboratif dan kami persiapkan dengan hati. Harapannya, film ini bisa diterima dengan hangat oleh penontonnya,” ujar Mandy.
Crocodile Tears diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction. Film ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta E-Motion Entertainment.