KOMPAS.com – Tim Program Studi (Prodi) S1 Teknik Sipil Universitas Negeri Malang (UM) meraih Juara Metode Perakitan Terbaik dan Juara 2 Umum dalam ajang Fondasi Steel Bridge Competition 2026 yang diselenggarakan Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) sejak Senin (8/12/2025) hingga Minggu (3/5/2026).
Prestasi ini diraih oleh tim yang beranggotakan Mohammad Arinal Haq Gyanendra, Rizqie Muhammad Zulfan, dan Muhammad Iqbal Maulana. Mereka menyelesaikan perakitan jembatan hanya dalam 52 menit sehingga menjadi tim tercepat dalam kompetisi tersebut.
Dosen pembimbing tim Nur Latifah Khomsiati, ST, MT, mengatakan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari semangat kompetitif mahasiswa.
"Kemampuan mereka sudah sangat baik. Saya hanya memberikan arahan dan validasi," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Dalam perancangan, tim UM mengintegrasikan perangkat lunak SAP2000 untuk preliminary design dan analisis global serta Idea Statica guna mengoptimalkan kekakuan sambungan.
Pendekatan ini terbukti mampu mempercepat proses desain, meningkatkan efisiensi biaya, dan menghasilkan struktur jembatan yang optimal.
Tim UM juga menerapkan Building Information Modeling (BIM) hingga level 5D untuk membuat model secara detail serta menghitung volume material dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) secara otomatis dan akurat.
Tim juga mengembangkan inovasi bertema “Sustainable and Regenerative Future”. Mereka menciptakan smart self-healing coating system yang mampu memperbaiki kerusakan secara mandiri serta memanfaatkan steel slag asphalt mixture sebagai solusi pemanfaatan limbah industri.
Pada aspek pemantauan, tim mengimplementasikan Structural Health Monitoring System (SHMS) berbasis Distributed Fiber Optic Sensing (DFOS) untuk memastikan kondisi jembatan tetap terpantau secara presisi.
Penggunaan digital twin memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data real-time, sedangkan thin film photovoltaics system dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Pada tahap perakitan, tim menerapkan analisis dan mitigasi risiko secara sistematis dengan pembagian tugas yang jelas. Penggunaan alat bantu seperti perancah dan mal dari pipa PVC terbukti meningkatkan efisiensi dan akurasi selama proses berlangsung.
Persiapan matang menjadi kunci keberhasilan. Tim melakukan latihan perakitan sebanyak dua kali dengan durasi rata-rata 40 hingga 50 menit. Durasi ini jauh di bawah batas waktu tiga jam yang ditentukan panitia.
Meski menghadapi tantangan manajemen waktu di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi, tim UM tetap mampu menjaga fokus.
"Kuncinya adalah meluangkan waktu, bukan mencari waktu," ujar Iqbal.
Nur Latifah pun mengingatkan mahasiswa lain agar aktif mengikuti kegiatan di luar kelas.