KOMPAS.com – Peresmian unit perluasan kilang dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan menjadi salah satu langkah penting dalam upaya memperkuat industri energi nasional. Di tengah upaya pemerintah untuk mendorong hilirisasi energi, Indonesia mulai meningkatkan kemampuan pengolahan energi di dalam negeri.
Kapasitas kilang Balikpapan kini meningkat dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Peningkatan tersebut turut mendorong total kapasitas pengolahan nasional melampaui 1,1 juta barel per hari.
Hilirisasi energi selama beberapa tahun terakhir memang menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Langkah ini dinilai penting untuk mengolah sumber daya alam agar memberi manfaat ekonomi yang lebih besar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
“Negara ini tidak akan pernah maju tanpa industrialisasi dan hilirisasi. Kalau tidak, kita hanya akan menjadi bangsa yang terkena kutukan sumber daya alam,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Namun, di balik ekspansi sektor hilir, terdapat tantangan besar lain yang perlu diperhatikan. Kebutuhan pasokan minyak mentah domestik masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sektor energi dalam negeri.
Data SKK Migas menunjukkan produksi minyak nasional saat ini berada di kisaran 580.000 hingga 600.000 barel per hari. Sementara, konsumsi nasional telah mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.
Kondisi tersebut membuat produksi domestik baru mampu memenuhi sebagian kebutuhan nasional. Akibatnya, impor minyak mentah masih dibutuhkan untuk menjaga pasokan tetap stabil di tengah pembangunan kilang yang terus berkembang.
Karena itu, hilirisasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan sektor hulu yang kuat. Keduanya perlu bergerak beriringan agar pengembangan industri migas dalam negeri berjalan lebih seimbang.
Ketika hulu menjadi fondasi
Industri hulu migas Indonesia saat ini menghadapi tantangan penurunan produksi dari lapangan-lapangan tua. Sebagian besar lapangan utama nasional mulai mengalami penurunan produksi alami 10 sampai 15 persen per tahun.
Berbagai upaya seperti infill drilling dan enhanced oil recovery terus dilakukan untuk menjaga produksi tetap stabil. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan energi jangka panjang.
Di tengah kondisi tersebut, eksplorasi cadangan baru menjadi semakin penting. Penemuan sumber minyak dan gas, terutama di kawasan potensial baru dan Indonesia Timur, dinilai menjadi salah satu kunci menjaga keberlanjutan pasokan energi domestik.
Target produksi 1 juta barel per hari pada 2030 juga sangat bergantung pada keberhasilan eksplorasi. Tanpa penemuan cadangan baru, ketahanan pasokan energi nasional akan menghadapi tantangan yang semakin signifikan.
Di sisi lain, eksplorasi membutuhkan investasi besar dan proses yang panjang. Kepastian regulasi bagi investor menjadi faktor penting agar investasi sektor hulu tetap menarik bagi pelaku industri.
Pemerintah sendiri mulai mendorong berbagai perbaikan regulasi untuk mempercepat investasi sektor energi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat daya tarik industri hulu migas Indonesia di tengah persaingan global.
Banyak pelaku industri menilai sektor hulu dan hilir seharusnya tidak dipisahkan. Pengembangan kilang dan penguatan produksi migas domestik perlu tumbuh bersama.
Indonesian Petroleum Association (IPA), misalnya, secara konsisten menyoroti pentingnya keseimbangan antara sektor hulu dan hilir. Keberhasilan hilirisasi dinilai tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada kemampuan menjaga keberlanjutan pasokan migas dalam negeri.
Dalam Visi Energi Nasional 2026, IPA turut menyoroti percepatan eksplorasi sebagai salah satu prioritas utama. Selain itu, transisi energi juga menjadi bagian dari agenda yang terus didorong.
Eksplorasi dinilai menjadi fondasi penting untuk menopang keberlanjutan industri hilir di masa depan. Sebab, kilang modern tetap membutuhkan pasokan minyak mentah yang stabil agar dapat beroperasi dengan baik.
Karena itu, pembangunan sektor migas membutuhkan perencanaan yang lebih menyeluruh. Penguatan sektor hulu perlu berjalan beriringan dengan ekspansi hilirisasi agar ketahanan energi nasional dapat terjaga dalam jangka panjang.