Advertorial

Penyakit Kronis Serang Usia Produktif, Gaya Hidup Sehat Kuncinya

Kompas.com - 14/05/2026, 13:28 WIB

KOMPAS.com – Usia penderita penyakit kronis saat ini mengalami pergeseran yang signifikan. Penyakit kronis yang dulu diidentikkan dengan masyarakat lanjut usia (lansia) kini mulai menyerang orang-orang berusia produktif.

Pemilik Klinik Sehat Setia Brebes, Jawa Tengah, Munaryo, mendapati pergeseran tersebut. Kliniknya memiliki Klub Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang telah berjalan belasan tahun.

Dahulu, lanjutnya, tidak ada satu pun pasien penyakit kronis berusia di bawah 40 tahun yang berobat ke kliniknya. Seiring waktu berjalan, kliniknya makin sering dikunjungi oleh pasien usia produktif.

"Setiap bulan, kami mengelola 400 sampai 450 pasien Prolanis diabetes melitus, hipertensi, dan jantung. Rata-rata usianya memang 40 tahun ke atas," ujar Munaryo dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Namun, dalam lima tahun terakhir, lanjut Munaryo, semakin banyak pasien berusia di bawah 40 tahun. Bahkan, kini kliniknya memiliki pasien hipertensi dan diabetes melitus berusia di bawah 30 tahun.

Gaya hidup

Munaryo menyebutkan, kondisi tersebut disebabkan banyak faktor, salah satunya akibat gaya hidup tidak sehat.

Pola makan generasi muda cenderung didominasi makanan cepat saji dan minuman bersoda. Kebiasaan tersebut tidak diimbangi dengan aktivitas olahraga yang baik.

"Kebiasaan ini sudah merembet ke anak-anak kecil sehingga saya pribadi memprediksi dalam 20 tahun mendatang, tren penderita penyakit kronis berusia muda bisa menjadi tinggi sekali," ucap Munaryo.

Dia menambahkan, jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan menjadi bom waktu. Oleh karena itu, perlu tanggung jawab bersama antara tenaga kesehatan, pemerintah, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, hingga pegiat media sosial untuk proaktif mengedukasi masyarakat.

Rutin edukasi pasien Prolanis

Sebagai salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang memelopori Prolanis di wilayah Brebes dan sekitarnya, Klinik Sehat Setia rutin memberikan edukasi mengenai penyakit kronis. Edukasi diberikan baik secara individual maupun kelompok kepada pasien Prolanis setiap Minggu usai kegiatan senam bersama.

Edukasi juga digalakkan Munaryo melalui grup WhatsApp dan media sosial supaya dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

"Bagi pasien yang kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk datang ke klinik, kami punya layanan home visit, kami yang akan datang ke rumah pasien," kata Munaryo.

Selain itu, pihak klinik juga rutin mengecek data kunjungan peserta Prolanis dan memantau jadwal kontrol peserta tersebut. Jika terlambat kontrol, pihak klinik segera menghubungi pasien agar kembali kontrol.

Peran dokter dan keluarga penting

Munaryo menegaskan bahwa dokter FKTP memegang kunci penting dalam memberikan pemahaman kepada pasien penyakit kronis dan anggota keluarganya.

Di samping itu, pasien penyakit kronis juga perlu mendapat dukungan dari dokter dan anggota keluarga supaya semangat hidupnya dapat terjaga.

"Banyak pasien kami mengasosiasikan penyakit kronis dengan kematian. Kami upayakan pendekatan sosiologis dan sisi rohani agar pasien tidak pesimistis. Kami juga meyakinkan mereka bahwa penyakitnya bisa dikendalikan dengan hidup sehat," ujar Munaryo.

Ia juga turut menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa setiap orang bisa memilih untuk sehat. Menurutnya, sehat bukan takdir, melainkan sesuatu yang ditentukan sendiri.

"Jangan ditunda untuk hidup sehat," pesan Munaryo.

BPJS Kesehatan keluarkan Rp 50,3 triliun untuk penyakit kronis

Pada 2025, BPJS Kesehatan mengeluarkan Rp 50,3 triliun untuk membiayai 59,9 juta kasus penyakit kronis. Penyakit tersebut meliputi jantung, strok, gagal ginjal, kanker, dan sebagainya.

Penyakit-penyakit tersebut tidak jarang muncul sebagai komplikasi atas hipertensi dan diabetes melitus yang dialami seseorang. Padahal, penyakit kronis tersebut dapat dicegah sejak dini dengan menerapkan pola hidup sehat.

BPJS Kesehatan juga telah menginisiasi Prolanis Muda untuk menjawab tantangan peningkatan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus pada usia produktif. Program ini ditujukan khusus bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berusia di bawah 45 tahun yang terdiagnosis mengidap hipertensi atau diabetes melitus.

Melalui pendekatan berbasis komunitas, Prolanis Muda diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan di kalangan generasi muda.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau