Advertorial

Festival Rujak Uleg 2026 Dinilai Hidupkan Ekonomi Kerakyatan dan Wisata Kuliner Surabaya

Kompas.com - 15/05/2026, 15:10 WIB

KOMPAS.com – Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah mengapresiasi pelaksanaan Festival Rujak Uleg 2026 yang berlangsung meriah di Surabaya Expo Center (SBEC), Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya. 

Selain mampu menarik ribuan pengunjung, festival tahunan tersebut dinilai berhasil membentuk ekosistem baru dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan di Kota Pahlawan.

Festival yang digelar dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 itu dipadati sekitar 12.000 pengunjung pada Sabtu malam. Sementara perputaran ekonomi selama acara berlangsung diklaim mencapai Rp 1,2 miliar.

Menurut Laila, Festival Rujak Uleg bukan sekadar agenda hiburan tahunan, melainkan telah berkembang menjadi destinasi wisata kuliner yang memberi dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

Apalagi, sejak 2023, festival tersebut telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI dan tercatat sebagai salah satu dari 125 event terbaik nasional.

“Festival seperti Rujak Uleg dan event dengan menghadirkan ribuan pengunjung sangat dinantikan. Selain wisata, yang utama adalah bagaimana menggerakkan ekonomi kerakyatan berjalan berkelanjutan,” kata Laila dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Minggu (15/5/2026).

Politisi PKB itu menilai, sektor pariwisata memiliki efek berantai terhadap ekonomi warga. Kehadiran ribuan pengunjung mendorong peningkatan omzet pelaku usaha, mulai dari pedagang makanan, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga sektor perhotelan.

“Mereka butuh makan dan minum. (Wisatawan atau pengunjung) yang dari luar kota juga membutuhkan penginapan. Hotel ramai, UMKM juga laris. Artinya, ekonomi benar-benar bergerak,” ujarnya.

Laila menegaskan, Festival Rujak Uleg tidak boleh berhenti pada kemeriahan semata. Pemerintah Kota Surabaya, menurut dia, perlu menjadikan festival tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ekonomi berbasis masyarakat.

Ia menyebut, keterlibatan berbagai unsur, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hotel, perbankan, hingga pelaku UMKM menjadi contoh bagaimana sebuah festival dapat menghadirkan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Harus terbangun ekosistem baru dalam memacu ekonomi kerakyatan. Tidak hanya kalangan tertentu yang mendapat berkah dari event itu, tetapi seluruh masyarakat juga (harus) merasakan dampaknya,” tutur Laila.

Ia juga mendorong Pemkot Surabaya untuk memperbanyak festival turunan berbasis kuliner lokal, seperti Festival Lontong Balap dan festival makanan khas Surabaya lainnya.

Menurutnya, kuliner autentik dapat menjadi potensi destinasi wisata sekaligus sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.

“Anak muda dan Gen Z harus dikenalkan kembali pada makanan khas kotanya sendiri. Dengan konsep festival yang kreatif dan kekinian, budaya bisa dikenalkan lewat kuliner,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan Festival Rujak Uleg bukan hanya pesta kuliner, melainkan juga simbol kebersamaan warga Surabaya.

Sing ikut nguleg iku bukan hanya OPD. Ono sing teko RW, SWK, hotel, kabeh melu. Artine Surabaya iki dibangun karo guyup rukun kabeh lapisan masyarakat,” ujar Eri.

Festival Rujak Uleg 2026 berlangsung sejak sore hari dengan parade kostum tematik, hiburan musik, bazar UMKM, hingga lomba menguleg rujak bersama yang menjadi daya tarik utama acara.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau