JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak orang merasa dirinya sehat karena masih aktif bekerja, rutin berolahraga, dan mampu menjalani aktivitas padat setiap hari. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menjamin seseorang terbebas dari risiko penyakit kardiovaskular.
Hal itu dialami presenter, penyiar radio, dan penulis Dave Hendrik. Ia mengaku telah berupaya menjaga pola hidup sehat sejak usia muda, mulai dari mengatur makanan hingga rutin berolahraga. Namun, ia tetap mengalami serangan jantung akibat penyumbatan pada pembuluh darah jantung.
“Saya merasa hidup saya sehat. Saya sudah olahraga dan jaga makan sejak umur 24 tahun. Namun, tubuh setiap orang berbeda. Ada faktor bawaan yang tidak bisa disamakan satu dengan yang lain,” ujar Dave dalam acara peluncuran tensimeter digital terbaru OMRON, EZ Series dan IQ Series, di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut Dave, pengalaman itu membuatnya lebih sadar bahwa kesehatan tidak cukup dijaga hanya dengan merasa baik-baik saja. Tubuh, kata dia, kerap memberi sinyal ketika ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
“The most honest person on this planet is actually our body. Ketika tubuh memberi sinyal, itu cara tubuh mencari perhatian kepada kita,” kata Dave.
Pengalaman serupa juga dialami penyiar radio, wirausahawan, dan pegiat budaya Iwet Ramadhan. Meski aktif berolahraga dan pernah mengikuti maraton hingga ke berbagai negara, Iwet pernah mengalami strok akibat pecahnya pembuluh darah di otak hingga harus menjalani operasi darurat.
Ia bercerita, sebelum mengalami strok dirinya kerap mengalami sakit kepala berkepanjangan. Namun, gejala tersebut dianggap sepele dan hanya diatasi dengan obat pereda nyeri.
“Saya pikir itu hanya gejala ringan. Padahal, ternyata tubuh sudah memberi sinyal,” katanya.
Ia mengatakan, stres, kurang tidur, dan kebiasaan tidak rutin memeriksa tekanan darah menjadi faktor yang turut memengaruhi kondisinya.
“Hal yang menyebabkan sampai pecahnya pembuluh darah di otak itu stres. Waktu itu saya juga tidak pernah kontrol tekanan darah,” kata Iwet.
Hipertensi tanpa gejala
Kisah figur publik, seperti Dave dan Iwet yang dikenal memiliki gaya hidup aktif dan menjaga kesehatan pun tetap dapat mengalami risiko serangan jantung ataupun strok.
Oleh karena itu, masyarakat perlu semakin waspada, terutama bagi yang belum menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten. Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan adalah dengan rutin memantau tekanan darah untuk membantu mendeteksi risiko gangguan kesehatan, seperti hipertensi, sejak dini.
Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dr Eka Harmeiwaty, SpS, mengatakan bahwa hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala hingga akhirnya memicu komplikasi.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi di Indonesia pada penduduk berusia di atas 18 tahun mencapai 34,11 persen. Secara global, satu dari tiga orang dewasa juga diketahui mengalami hipertensi.
“Hipertensi itu berjalan pelan-pelan. Banyak orang merasa sehat, padahal kerusakan pembuluh darahnya sudah terjadi bertahun-tahun,” ujar dr Eka.
Ia menjelaskan, hipertensi merupakan kondisi saat tekanan darah pada dinding pembuluh darah meningkat secara kronis. Dalam pengukuran klinis, seseorang dikategorikan mengalami hipertensi bila tekanan darahnya mencapai atau melebihi 140/90 mmHg.
Namun, batas kewaspadaan dalam pengukuran mandiri di rumah dapat berbeda. Menurut dr. Eka, tekanan darah 135/85 mmHg saat pengukuran di rumah sudah perlu diperhatikan.
“Pengukuran di rumah penting karena ada kondisi hipertensi terselubung, yaitu tekanan darah normal saat di klinik, tetapi tinggi saat di rumah. Ada pula hipertensi jas putih, ketika tekanan darah naik saat bertemu dokter,” katanya.
Risiko strok
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi penyakit, mulai dari strok, serangan jantung, gagal ginjal, gangguan penglihatan, hingga demensia.
Namun, risiko penyakit kardiovaskular tidak hanya berkaitan dengan tekanan darah tinggi. Dokter Eka menjelaskan, ada kondisi lain yang juga perlu diwaspadai, yakni atrial fibrilasi (AFib).
AFib merupakan gangguan irama jantung yang membuat detak jantung menjadi tidak teratur. Kondisi ini penting diperhatikan karena banyak pasien AFib juga memiliki hipertensi.
“Sekitar 60 sampai 80 persen pasien atrial fibrilasi memiliki hipertensi. Oleh karena itu, deteksi atrial fibrilasi pada pasien hipertensi penting dalam upaya pencegahan strok,” ujarnya.
Pada AFib, irama jantung yang tidak teratur dapat membuat aliran darah tidak terpompa secara optimal. Kondisi ini berisiko menyebabkan terbentuknya bekuan darah yang dapat lepas dan menyumbat pembuluh darah otak.
Maka dari itu, kombinasi hipertensi dan AFib perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko strok serta komplikasi penyakit kardiovaskular lain.
Pemantauan mandiri
Melihat urgensi tersebut, OMRON Healthcare memperkenalkan dua seri tensimeter digital terbaru, yakni EZ Series dan IQ Series. Peluncuran ini menjadi bagian dari komitmen OMRON dalam mendorong perawatan preventif melalui pemantauan kesehatan dari rumah.
Marketing Director of OMRON Healthcare Singapore Group Alexis En mengatakan, melalui peluncuran dua seri produk tersebut, pihaknya ingin membantu masyarakat membangun kebiasaan memantau tekanan darah secara mandiri, bukan hanya memeriksakannya saat sudah merasa sakit.
“Sekitar 80 persen kematian prematur akibat penyakit jantung dan strok sebenarnya dapat dicegah jika tekanan darah dikontrol dan masyarakat menjalankan gaya hidup sehat,” ujar Alexis.
Iwet Ramadhan saat demo tensimeter OMRON seri EZ dengan Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia, Fanny Himawan.Ia menjelaskan, EZ Series dihadirkan untuk pengguna yang membutuhkan pemantauan tekanan darah harian dengan cara praktis. Seri ini dirancang mudah digunakan dengan satu sentuhan, serta dilengkapi teknologi IntelliSense® untuk membantu pengukuran tekanan darah menjadi cepat, akurat, dan nyaman.
Seri itu tersedia dalam beberapa varian, antara lain EZ BT Power, EZ BT Large, EZ BT, EZ Power, EZ Large, EZ, EZ Lite, dan EZ Super Lite. Beberapa varian dilengkapi konektivitas Bluetooth, adaptor, serta pilihan manset besar sesuai kebutuhan pengguna.
Sementara itu, IQ Series ditujukan untuk pengguna yang membutuhkan pemantauan lebih menyeluruh. Seri ini dilengkapi fitur IntelliSense® AFib yang dapat membantu mendeteksi kemungkinan atrial fibrilasi setiap pengguna melakukan pengukuran tekanan darah.
Tensimeter OMRON IQ Series ditujukan untuk pengguna yang membutuhkan pemantauan lebih menyeluruh.IQ Series juga hadir dengan layar besar agar hasil pengukuran lebih mudah dibaca, serta manset besar dengan teknologi IntelliWrap™ 360 derajat untuk membantu mengurangi risiko kesalahan pemasangan manset. Seri ini tersedia dalam sejumlah varian yang meliputi IQ BT Power, IQ BT, IQ Power, dan IQ.
Alexis mengatakan, kehadiran EZ Series dan IQ Series menjadi bagian dari upaya OMRON menghadirkan alat kesehatan yang mudah diakses masyarakat, sekaligus mendukung deteksi dini risiko penyakit kardiovaskular.
Produk tensimeter digital terbaru OMRON itu dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 400.000 hingga Rp 1 juta, tergantung varian dan fitur yang tersedia.
OMRON juga menyediakan jaringan layanan purnajual resmi di Indonesia melalui OMRON Experience Center (OEC) yang hadir di 12 kota di Indonesia, yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Medan, Makassar, Semarang, Yogyakarta, Bali, Balikpapan, Manado, dan Padang.
Melalui OEC, OMRON menyediakan akses layanan purnajual yang lebih dekat dan mudah dijangkau, mulai dari konsultasi produk, edukasi penggunaan alat yang benar, pengecekan perangkat, servis, hingga kalibrasi. Melalui layanan tersebut, konsumen diharapkan dapat memperoleh dukungan yang cepat, nyaman, dan tepercaya.
Seluruh produk tensimeter digital OMRON juga dilengkapi garansi minimal tiga tahun. Terdapat tambahan masa garansi bagi pengguna yang melakukan registrasi produk yang dibeli secara online di website resmi OMRON, yakni tambahan dua tahun untuk produk non-Bluetooth dan tiga tahun untuk seri Bluetooth.
Dengan gaya hidup modern yang semakin padat dan penuh tekanan, pemeriksaan tekanan darah mandiri kini tidak lagi identik dengan lansia atau orang yang sudah sakit. Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengenali kondisi tubuh dan mencegah risiko komplikasi yang lebih serius.