Advertorial

Telkom Perkuat Kemandirian Digital Indonesia lewat Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026

Kompas.com - 25/05/2026, 13:25 WIB

KOMPAS.com - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom menggelar Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 bertajuk “The Rise of Indonesia Tech Sovereignty” di Telkom Landmark Tower, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat arah kedaulatan teknologi Indonesia.

Melalui forum ini, Telkom mendorong penguatan ekosistem digital nasional melalui tiga pilar utama, yakni Cloud Sovereignty, AI Sovereignty, dan Cybersecurity Sovereignty.

Ketiga pilar tersebut dinilai penting untuk membangun ekosistem digital Indonesia yang lebih mandiri, aman, dan berdaya saing.

Forum tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, seperti Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Kemenkomdigi) Edwin Hidayat Abdullah, Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia Ricardo Irwan Rei, serta Deputi IV Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Slamet Aji Pamungkas.

Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom Seno Soemadji serta Managing Director Gen AI Lead, Sovereign AI Lead for Accenture APAC Kunal Shah juga hadir dalam acara ini.

Kehadiran para pemangku kepentingan mencerminkan signifikansi kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia. Kolaborasi ini juga diharapkan mampu mendorong pengembangan ekosistem digital nasional yang adaptif dan berkelanjutan di tengah percepatan transformasi digital global.

Seiring peningkatan adopsi teknologi digital, isu kedaulatan teknologi atau sovereignty menjadi perhatian banyak negara.

Ketergantungan terhadap infrastruktur, platform, dan teknologi global tidak lagi hanya berkaitan dengan aspek teknologi, tetapi juga menyangkut ketahanan ekonomi, keamanan data, serta kepentingan strategis nasional.

Kondisi tersebut menegaskan betapa penting penguatan sovereign digital ecosystem. Dengan demikian, data, infrastruktur, kapabilitas kecerdasan buatan (AI), serta keamanan digital nasional dapat tetap berada dalam kepentingan, hukum, dan kendali negara.

Melalui Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026, Telkom ingin mendorong penguatan kolaborasi nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar digital.

Lebih dari itu, Indonesia diharapkan mampu mengembangkan, mengelola, serta memonetisasi aset dan kapabilitas digital nasional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi digital global.

Edwin Hidayat mengatakan, transformasi digital nasional tidak hanya berkaitan dengan percepatan adopsi teknologi.

Menurutnya, Indonesia juga perlu memiliki kapasitas, ketahanan, dan kendali terhadap infrastruktur serta ekosistem digitalnya sendiri.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi global, tetapi juga mampu membangun kapabilitas digital nasional yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Edwin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (21/5/2026).

Dari sisi keamanan siber dan perlindungan data nasional, Slamet Aji menekankan peran penting penguatan kendali nasional terhadap data dan sistem digital strategis.

Menurutnya, data strategis nasional perlu dikelola dan berada dalam yurisdiksi Indonesia agar aspek operasional, kepemilikan, serta pengamanannya dapat dikendalikan secara optimal.

“Termasuk di dalamnya penguasaan terhadap sistem enkripsi sebagai bagian penting dalam menjaga keamanan data nasional dengan tetap terbuka terhadap perkembangan teknologi global,” kata Slamet.

Sejalan dengan hal tersebut, Seno Soemadji mengatakan bahwa momentum transformasi digital Indonesia harus menjadi titik balik untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem teknologi global.

Telkom menyelenggarakan Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem digital nasional yang mandiri, aman, dan berdaya saing melalui pengembangan sovereign cloud, AI, dan cybersecurity Indonesia, Rabu (20/5). DOK. Telkom Telkom menyelenggarakan Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem digital nasional yang mandiri, aman, dan berdaya saing melalui pengembangan sovereign cloud, AI, dan cybersecurity Indonesia, Rabu (20/5).

“Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi pasar digital, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekosistem teknologi regional,” ujar Seno.

Menurutnya, penguatan cloud, AI, dan cyber security Indonesia menjadi fondasi penting agar data, intelligence, serta nilai ekonomi digital nasional dapat tumbuh dan memberi manfaat lebih besar bagi Indonesia.

Angkat isu strategis

Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 juga mengangkat berbagai isu strategis, mulai dari sovereign cloud infrastructure, pengembangan AI berbasis konteks Indonesia, penguatan ketahanan siber nasional, hingga pembangunan kapasitas talenta digital.

Seluruh isu tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan daya saing teknologi Indonesia secara berkelanjutan.

Selain menjadi wadah dialog strategis lintas sektor, forum ini juga menandai peluncuran Charter of Digital Sovereignty.

Charter tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperkuat pengembangan ekosistem teknologi nasional.

Pada kesempatan yang sama, Telkom turut memperkenalkan inisiatif AdyaCakra sebagai bagian dari pengembangan sovereign cloudsovereign AI, dan sovereign cybersecurity.

Telkom menyelenggarakan Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem digital nasional yang mandiri, aman, dan berdaya saing melalui pengembangan sovereign cloud, AI, dan cybersecurity Indonesia, Rabu (20/5). DOK. Telkom Telkom menyelenggarakan Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem digital nasional yang mandiri, aman, dan berdaya saing melalui pengembangan sovereign cloud, AI, dan cybersecurity Indonesia, Rabu (20/5).

Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong peran Indonesia sebagai pengembang serta penggerak ekosistem digital regional.

Seno berharap, AdyaCakra dapat menjadi bagian dari kontribusi Telkom dalam memperkuat fondasi digital sovereignty Indonesia.

“Upaya ini juga turut mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan ekosistem ekonomi digital yang lebih kuat, adaptif, dan berdaya saing global,” kata Seno.

Sebagai bagian dari arah strategi transformasi TLKM 30, Telkom terus memperkuat perannya sebagai orkestrator ekosistem digital nasional.

Peran tersebut dijalankan melalui pengembangan infrastruktur digital, platform, dan kapabilitas teknologi untuk mendukung kebutuhan pasar terhadap layanan digital yang terus meningkat.

Visi kedaulatan teknologi itu juga sejalan dengan langkah Telkom dalam mengadopsi dan mengembangkan kapabilitas AI melalui lima pilar AI Center of Excellence (AI CoE).

Kelima pilar tersebut meliputi AI Campus untuk riset dan pengembangan talenta bersama kampus, AI Playground sebagai ruang kreasi bagi pengembang, serta AI Connect sebagai wadah komunitas.

Kemudian, AI Hub sebagai penyedia solusi yang telah teruji bagi masyarakat dan industri serta AI Native untuk penerapan AI di internal perusahaan.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, Telkom berupaya tidak hanya memperkuat perlindungan data dan kedaulatan digital nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau