KOMPAS.com – Transformasi digital dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dilakukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mendapat perhatian dari delegasi Asia eHealth Information Network (AeHIN).
Kunjungan delegasi AeHIN ke kantor BPJS Kesehatan, Jakarta, Selasa (26/5/2026), menjadi bagian dari upaya forum internasional tersebut dalam mendorong pengembangan sistem kesehatan digital di kawasan Asia Pasifik, sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik antarnegara.
Direktur Informasi dan Teknologi BPJS Kesehatan Setiaji mengatakan, kunjungan tersebut memberikan gambaran terkait implementasi sistem JKN di Indonesia, termasuk berbagai inovasi digital yang dikembangkan untuk meningkatkan akses, mutu, dan efisiensi layanan kesehatan.
Ia menjelaskan, jumlah peserta JKN saat ini telah mencapai lebih dari 285 juta jiwa atau mencakup lebih dari 98 persen penduduk Indonesia.
Dalam mendukung layanan tersebut, BPJS Kesehatan bekerja sama dengan 23.625 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) serta 3.207 rumah sakit dan klinik utama di seluruh Indonesia.
Setiaji menambahkan, delegasi AeHIN juga berkesempatan memantau dasbor digital BPJS Kesehatan di Performance Management Center.
“Melalui dasbor digital, BPJS Kesehatan dapat memantau transaksi pelayanan Program JKN secara real-time untuk memastikan layanan berjalan optimal, akuntabel, dan tepat sasaran,” ujar Setiaji dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (27/5/2026).
Selain untuk pemantauan layanan, dasbor tersebut juga dimanfaatkan dalam analisis data guna mendeteksi potensi kecurangan pada proses klaim layanan kesehatan.
Pemanfaatan teknologi digital, lanjut Setiaji, turut memperkuat tata kelola Program JKN agar berjalan lebih transparan, efektif, dan berkelanjutan.
“Melalui integrasi data, BPJS Kesehatan dapat melakukan pemantauan layanan, deteksi potensi fraud, hingga analisis pola penyakit secara lebih cepat dan akurat,” kata Setiaji.
Ia menambahkan, data tersebut juga menjadi dasar dalam memperkuat upaya promotif dan preventif agar masyarakat dapat menerapkan pola hidup sehat, sekaligus menjaga keberlanjutan pembiayaan Program JKN.
Menurut Setiaji, forum internasional seperti AeHIN menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sistem kesehatan digital yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Melalui kunjungan ini, BPJS Kesehatan tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan kerja sama antarnegara dalam pengembangan sistem kesehatan digital,” ujarnya.
Setiaji menegaskan, BPJS Kesehatan bersama Kementerian Kesehatan terus memperkuat transformasi digital sektor kesehatan melalui pengembangan sistem terintegrasi berbasis data.
Upaya tersebut mencakup penguatan interoperabilitas layanan kesehatan hingga pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk menghadirkan layanan yang lebih aksesibel, efektif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Asia eHealth Information Network Alvin Marcelo mengapresiasi perkembangan transformasi digital BPJS Kesehatan dalam mendukung penyelenggaraan Program JKN.
Ia mengatakan, AeHIN telah menjalin hubungan dengan BPJS Kesehatan melalui kunjungan pada 2014, 2023, dan 2026, serta melihat perkembangan signifikan pada sistem teknologi informasi yang dimiliki.
“Kami sangat terkesan dengan perkembangan teknologi informasi di BPJS Kesehatan. Pengelolaan dasbor dapat berjalan efektif dengan dukungan sumber daya yang kompeten dan berdedikasi,” ujar Alvin.
Alvin juga menyoroti bahwa negara-negara di Asia menghadapi tantangan serupa terkait penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes.
Menurut dia, forum seperti AeHIN menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi antarnegara dalam upaya pencegahan penyakit serta menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular.