Advertorial

KDM Sebut Papua Masih "Original", Pembangunan Jangan Korbankan Alam dan Budaya

Kompas.com - 31/05/2026, 18:21 WIB

KOMPAS.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mengingatkan agar pembangunan di Papua tidak mengorbankan kelestarian alam dan budaya masyarakat adat.

Menurut pria yang akrab disapa KDM itu, Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang masih memiliki kekayaan alam dan nilai budaya yang relatif terjaga.

Pernyataan tersebut disampaikan KDM saat menjadi pembicara dalam Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) di Jayapura, Papua, Jumat (29/5/2026).

Dalam paparannya, KDM menyoroti pendekatan pembangunan yang selama ini dinilai terlalu menitikberatkan aspek teknokratis dan kerap mengabaikan pengetahuan serta nilai budaya masyarakat adat.

Padahal, menurutnya, masyarakat adat memiliki kearifan yang telah terbukti mampu menjaga alam selama berabad-abad.

"Kita sering menganggap kaum adat sebagai orang yang tertinggal, padahal mereka adalah sumber pengetahuan. Leluhur kita mampu menjaga alam selama berabad-abad dan mewariskannya kepada generasi berikutnya dengan baik," ujar KDM dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Minggu (31/5/2026).

Ia menilai berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan yang berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan lingkungan.

Oleh karena itu, kata KDM, Papua perlu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.

Papua Masih Miliki Keaslian Alam dan Budaya

KDM mengatakan, Papua memiliki keunggulan yang kini mulai sulit ditemukan di banyak daerah lain, yakni lingkungan yang masih terjaga serta hubungan erat masyarakat dengan alam.

"Saya melihat masih ada yang original di negeri ini namanya Papua. Di tempat kami sudah hampir tidak bisa mendapatkannya lagi. Di sini kami mendapat kejernihan air, kejernihan udara, dan alam yang sangat indah," katanya.

KDM menilai kelestarian alam Papua memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan lingkungan sekitarnya.

"Papua kehilangan alamnya maka rakyatnya akan lemah. Sistem keyakinan pada leluhurnya terputus oleh kehancuran ekologi," ujarnya.

Pembangunan Harus Berbasis Budaya Lokal

KDM menegaskan, pembangunan di Papua perlu berlandaskan kearifan lokal dengan mempertimbangkan identitas budaya masyarakat setempat agar warga adat tidak merasa terasing di tanah kelahirannya sendiri.

Selain itu, KDM mengingatkan agar investasi yang masuk ke Papua tetap menghormati karakter daerah dan tidak menghilangkan identitas lokal.

Sebagai contoh, ia mengusulkan agar bangunan publik di Papua, mulai dari perkantoran, hotel, sekolah, hingga stadion, mengadopsi unsur arsitektur khas Papua.

"Papua dibangun untuk orang Papua. Jangan sampai suatu saat orang Papua merasa bukan lagi tinggal di kampungnya sendiri," tutur KDM.

Siapkan Beasiswa untuk Mahasiswa Papua

Pada kesempatan tersebut, KDM juga menyampaikan komitmennya mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) Papua melalui program beasiswa.

Ia menawarkan kesempatan bagi 40 mahasiswa Papua untuk menempuh pendidikan di Jabar dengan dukungan biaya pendidikan dan biaya hidup hingga lulus.

"Silakan kuliah di Bandung. Biaya hidupnya kami tanggung sampai dia selesai," kata KDM.

Menutup paparannya, ia kembali mengajak seluruh pihak menjaga kehormatan masyarakat Papua serta melestarikan kekayaan alam yang dimiliki wilayah tersebut.

"Jangan sembarang orang menghina dan merusak tanah Papua. Surga di tanah Papua. Keindahan semesta Indonesia itu ada di tanah Papua. Jagalah, karena suatu saat kita akan kehilangan ketika dia sudah tidak ada," ujar KDM.

Dalam konferensi tersebut turut hadir Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Mugiyanto, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Papua.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau