KOMPAS.com — AIESEC in Unsri kembali menghadirkan pengalaman pengembangan diri dan kontribusi global melalui program outgoing Global Volunteer (oGV).
Melalui program tersebut, salah satu Exchange Participant AIESEC in Unsri, Jennie Amelia, berkesempatan mengikuti kegiatan volunteering di Lopburi, Central Thailand, selama enam minggu.
Dalam program itu, Jennie berperan sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah dasar negeri.
Program tersebut merupakan bagian dari Global Volunteer Sawasdee Project Wave 45 yang diselenggarakan oleh AIESEC in Thammasat University, Thailand.
Kegiatan itu sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin keempat, yaitu Pendidikan Berkualitas, dengan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memperluas pemahaman budaya bagi para siswa.
Selama menjalankan program, Jennie tidak hanya mengajar Bahasa Inggris, tetapi juga mengajak murid-murid bermain permainan edukatif, memperkenalkan budaya Indonesia, serta mempelajari budaya Thailand secara langsung.
Interaksi tersebut menciptakan pengalaman pertukaran budaya yang hangat antara relawan dan masyarakat lokal.
Pada minggu pertama, Jennie mulai beradaptasi dengan lingkungan baru di Thailand sekaligus memperkenalkan diri kepada para siswa.
Kegiatan kelas diisi dengan penyusunan aturan belajar serta berbagai permainan interaktif untuk membangun kedekatan dengan murid-murid.
Di pertengahan minggu, sekolah juga mengadakan kegiatan International Day Against Drug Abuse and Illicit Trafficking. Dalam kegiatan tersebut, Jennie mengenakan pakaian adat Thailand dan mengikuti berbagai aktivitas kampanye serta pertunjukan budaya bersama para siswa.
Memasuki minggu kedua, kegiatan mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Di luar aktivitas sekolah, Jennie juga berkesempatan menghadiri pernikahan tradisional Thailand dengan mengenakan batik Indonesia sebagai bentuk pertukaran budaya.
Ia juga mengunjungi Bendungan Pa Sak yang dikenal dengan hamparan padang hijau luas dan suasana matahari terbenam yang tenang.
Pada minggu ketiga, kegiatan belajar mengajar berlangsung selama tiga hari karena adanya hari libur nasional Asalha Puja.
Selain mengajar, Jennie mengikuti kegiatan ibadah di vihara terdekat dan mengunjungi beberapa vihara lain di Lopburi.
Selama masa libur, ia juga menghabiskan waktu di Bangkok untuk beribadah sekaligus mengeksplorasi sejumlah destinasi budaya, seperti Wat Arun dan kawasan Chinatown. Ia turut mencoba berbagai hidangan khas Thailand, seperti pad thai dan kuai tiao.
Pada minggu keempat, Jennie kembali melaksanakan kegiatan mengajar di sekolah. Di akhir pekan, ia turut menghadiri perlombaan antarsekolah di kawasan perkotaan dan bertemu dengan peserta dari berbagai sekolah lain.
Kegiatan tersebut menjadi momen membanggakan setelah perwakilan sekolah tempat Jennie mengajar berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan tersebut.
Minggu kelima dihabiskan dengan kegiatan belajar mengajar seperti biasa bersama para siswa. Interaksi yang terjalin selama beberapa minggu membuat hubungan antara Jennie dan murid-murid semakin dekat dan nyaman.
“Sebagai seorang relawan guru, saya harus belajar memosisikan diri seprofesional mungkin dalam menghadapi berbagai dinamika di kelas. Ada murid-murid yang sangat antusias karena belajar bersama guru asing, ada juga anak-anak yang aktif maupun pemalu,” ujar Jennie dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (26/5/2026).
Ia mengakui bahwa keterbatasan bahasa menjadi tantangan tersendiri selama menjalankan program tersebut.
“Selain itu, keterbatasan bahasa menjadi tantangan tersendiri bagi saya karena tidak bisa berbahasa Thailand, sehingga beberapa kali terjadi miskomunikasi atau momen canggung. Namun, dari situ saya belajar untuk lebih sabar, adaptif, dan memahami bahwa komunikasi tidak selalu harus melalui bahasa yang sama,” tuturnya.
Pada minggu terakhir, sekolah mengadakan acara perpisahan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Jennie selama menjalankan program volunteer.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, Jennie kembali ke Bangkok sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
“Global Volunteer Sawasdee Project Wave 45 by AIESEC in Thammasat University Thailand merupakan musim panas yang tak terlupakan. Pengalaman ini membangun keberanian untuk saya sebagai mahasiswa dari Sumatera Selatan, di mana saya datang ke Negeri Gajah tidak hanya sebagai guru volunteer, tetapi juga menjadi bagian bermakna dari Thailand,” ujar Jennie.
Ia menambahkan, pertemuan dengan murid, orangtua, guru, dan warga lokal membuat pengalaman tersebut semakin berkesan.
“Bertemu dengan murid, orangtua, guru, dan warga lokal lainnya membuat setiap detik terasa sangat berarti. Setiap obrolan menghadirkan pertukaran budaya hingga kebersamaan menjadi sebuah keluarga,” katanya.
Melalui program outgoing Global Volunteer, AIESEC in Unsri berharap semakin banyak mahasiswa berani keluar dari zona nyaman dan memberikan dampak positif melalui kontribusi nyata di lingkungan global.