KOMPAS.com – Di tengah tantangan mewujudkan pembangunan yang inklusif hingga ke tingkat akar rumput, inisiatif berbasis komunitas lahir dari Desa Jenggik, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bertepatan dengan Festival Lansia 2026, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi NTB Sinta M Iqbal meresmikan Rumah Senja SDGs Living Lab and Community SDGs Centre pada Jumat (30/5/2026)
Ruang kolaborasi itu dirancang untuk membawa agenda Sustainable Development Goals (SDGs) lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kehadiran Living Lab menjadi upaya konkret untuk menerjemahkan prinsip global SDGs ke dalam praktik pembangunan yang berangkat dari kebutuhan, pengalaman, dan aspirasi warga desa.
Rumah Senja mengusung keyakinan bahwa pencapaian SDGs hanya dapat terwujud apabila tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal atau leave no one behind.
Ruang kolaborasi untuk inovasi sosial
Dikembangkan oleh Rumah Senja Indonesia, Living Lab SDGs Komunitas menjadi wadah yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, organisasi sosial, sektor swasta, serta mitra internasional dalam satu ekosistem kolaboratif.
Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi, diolah bersama melalui pendekatan inovasi sosial yang berbasis data dan pengalaman lapangan.
Berbeda dari model pembangunan yang sering kali bersifat top-down, konsep living lab menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Warga terlibat sejak tahap identifikasi persoalan, pengumpulan data, perancangan solusi, pelaksanaan program, hingga evaluasi dampak.
Dengan demikian, pembangunan tidak hanya dilakukan untuk masyarakat, tetapi bersama masyarakat.
Semangat inklusivitas menjadi fondasi utama inisiatif itu. Kelompok rentan, seperti lansia, perempuan, penyandang disabilitas, anak-anak, serta keluarga berisiko sosial didorong untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.
Bagi Rumah Senja, pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan ruang yang setara bagi seluruh warga untuk berkembang dan berkontribusi.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Rumah Senja menghadirkan berbagai laboratorium inovasi komunitas, yakni SDGs Learning Centre, Citizen Science Hub, Healthy Ageing Innovation Lab, Inclusive Village Lab, Integrated Farming Demonstration Site, dan Intergenerational Digital Learning Hub. Seluruhnya dirancang sebagai ruang belajar, bereksperimen, dan berkolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan di tingkat lokal.
Rumah Senja menghadirkan berbagai laboratorium inovasi komunitas.
Membangun model SDGs dari desa
Kehadiran Living Lab SDGs Komunitas memperkuat kiprah Rumah Senja Indonesia sebagai organisasi yang konsisten mengembangkan inovasi sosial berbasis komunitas.
Sebelumnya, Rumah Senja memperoleh pengakuan nasional melalui penghargaan Indonesia SDGs Action Awards atas kontribusinya dalam memperkuat ketahanan pangan lintas generasi dan pemberdayaan kelompok rentan.
Living Lab SDGs Komunitas diharapkan menjadi platform yang mampu menyatukan berbagai inisiatif dan kontribusi mitra ke dalam kerangka SDGs yang lebih terukur. Melalui pendekatan ini, dampak setiap program dapat dipetakan secara jelas. Pendekatan ini juga menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Kolaborasi yang dibangun Rumah Senja melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Barat, TP-PKK tingkat provinsi dan kabupaten, pemerintah kecamatan dan desa, serta organisasi nasional dan internasional, seperti PLN Peduli, Indopeduli Adelaide Australia, The Gentle Care Foundation Belanda, Lombok Eco International Connection (LEIC), Terang Bendrang Foundation, serta Ikatan Fisioterapi Indonesia.
Kemitraan akademik juga dikembangkan bersama Universitas Indonesia, Universitas Nahdlatul Ulama NTB, Universitas Pendidikan Mandalika, Utrecht University, Rotterdam University, OTH Regensburg, dan Amsterdam University.
Dari Desa Jenggik, Rumah Senja ingin membuktikan bahwa SDGs tidak hanya hidup dalam dokumen kebijakan, ruang konferensi, atau forum internasional. Agenda pembangunan berkelanjutan juga dapat tumbuh dari desa, digerakkan oleh komunitas, dan diwujudkan melalui kolaborasi sehari-hari.
Dengan semangat Leave No One Behind, Rumah Senja mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan SDGs dari desa, oleh desa, dan untuk semua.
Sebab, masa depan yang inklusif dan berkelanjutan dibangun dari kemampuan memastikan setiap warga memiliki tempat, suara, dan kesempatan yang sama dalam pembangunan.