KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) meraih penghargaan Terbaik I Kategori Penurunan Tingkat Pengangguran (TPT) dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Jawa-Bali yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026).
Pemprov Jatim pun mendapatkan insentif sebesar Rp 3 miliar dari pemerintah pusat sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan menjalankan program pembangunan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Koordinator (Menko) Politik dan Keamanan Djamari Chaniago kepada Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Usai menerima penghargaan, Khofifah mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian yang diraih Jatim. Penghargaan tersebut merupakan hasil kerja seluruh elemen, mulai pemerintah daerah, dunia usaha hingga dunia industri dalam menurunkan angka pengangguran.
Tak hanya itu, Khofifah mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil upaya pencapaian indikator kinerja utama Pemprov Jatim yang selama ini dijalankan melalui Nawa Bhakti Satya.
"Alhamdulillah, penurunan angka pengangguran di Jatim mendapatkan apresiasi. Ini hasil kerja semua lini dan semua elemen, dunia usaha serta dunia industri," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (7/6/2025).
Program prioritas Jatim
Khofifah mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya pembangunan yang dijalankan secara berkelanjutan melalui program-program prioritas Pemprov Jatim.
Berbagai program prioritas itu meliputi penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), perluasan kesempatan kerja, peningkatan investasi, serta penguatan kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Keberhasilan tersebut tecermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim yang mencatat TPT Jatim pada Februari 2026 sebesar 3,55 persen. Angka ini turun jika dibandingkan Februari 2025 yang sebesar 3,61 persen.
Angka tersebut juga jauh lebih baik ketimbang rata-rata nasional yang berada pada level 4,68 persen.
Bahkan, dalam lima tahun terakhir, tingkat pengangguran di Jatim menunjukkan tren penurunan yang konsisten, dari 5,17 persen pada Februari 2021 menjadi 3,55 persen pada Februari 2026.
Khofifah menambahkan, salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap penurunan angka pengangguran adalah semakin kuat hubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja.
Secara khusus, lulusan SMK menunjukkan perkembangan yang sangat positif dalam penyerapan tenaga kerja.
"Penurunan pengangguran lulusan SMK sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa penguatan link and match antara pendidikan vokasi serta kebutuhan dunia usaha dan dunia industri semakin efektif," tuturnya.
Data BPS menunjukkan, TPT lulusan SMK turun menjadi 5,73 persen pada Februari 2026, turun dari 5,87 persen pada Februari 2025.
Dengan capaian tersebut, lulusan SMK tidak lagi menjadi kelompok penyumbang pengangguran tertinggi di Jatim.
Kolaborasi semua pihak
Khofifah menambahkan, keberhasilan penurunan TPT tidak terlepas dari berbagai program yang dijalankan Pemprov Jatim dalam memperkuat sinergi antara sekolah vokasi, lembaga pelatihan kerja, dunia usaha, dunia industri, dan perguruan tinggi.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program link and match, pelatihan berbasis kompetensi, magang industri, hingga perluasan akses penempatan tenaga kerja di dalam maupun di luar negeri.
Dia menyebutkan, Pemprov Jatim terus mendorong pembukaan kesempatan kerja melalui kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan perguruan tinggi.
“Bahkan, saat ini, Jatim telah menjalin kerja sama penempatan tenaga kerja dengan 13 negara tujuan, termasuk membuka peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK," tuturnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, sebanyak 4.920 peserta dari 112 SMK dan lembaga kursus dan pelatihan (LKP) mengikuti program magang dan peluang kerja luar negeri pada 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.617 peserta telah lolos seleksi dan memperoleh perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).
Khofifah mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa lulusan SMK dan lembaga pelatihan kerja di Jatim semakin kompetitif dan mampu bersaing di pasar kerja global.
Selain tingkat pengangguran yang terus menurun, kualitas pasar kerja Jatim juga menunjukkan perkembangan positif.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Jatim meningkat menjadi 74,78 persen atau naik 0,53 persen poin ketimbang tahun sebelumnya.
Sementara itu, jumlah penduduk bekerja mencapai 24,25 juta orang atau bertambah sekitar 388.000 orang dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Memperkuat pembangunan
Khofifah menegaskan, penghargaan dan insentif fiskal yang diterima akan menjadi motivasi untuk terus memperkuat pembangunan SDM dan memperluas kesempatan kerja di Jatim.
Dia mengatakan, insentif fiskal yang diberikan pemerintah pusat akan dioptimalkan untuk memperkuat program-program pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Insentif ini kami gunakan untuk peningkatan kualitas SDM, pengembangan kewirausahaan, perluasan kesempatan kerja, dan penguatan ekosistem investasi yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas," tegasnya.
Khofifah melanjutkan, tantangan ketenagakerjaan akan semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi dan inovasi yang semakin kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
Maka dari itu, kata dia, penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi Pemprov Jatim untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan ketenagakerjaan.
“Kolaborasi dan inovasi harus terus diperkuat agar kesempatan kerja semakin terbuka dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat," katanya.
Khofifah pun mengapresiasi pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, dunia industri, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, hingga masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari keberhasilan Jatim menurunkan angka pengangguran.
"Penghargaan ini adalah milik seluruh masyarakat Jatim. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari sinergi besar dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang semakin kuat, produktif, dan berdaya saing," ucapnya.