JAKARTA, KOMPAS.com – Docosahexaenoic acid (DHA), Omega-3, atau Omega-6 kerap menjadi acuan dalam memilih susu formula untuk anak. Meski bukan hal yang salah, orangtua sebaiknya melihat secara menyeluruh komposisi pada label kemasan.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) serta Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof DR dr Rini Sekartini, SpA(K), menegaskan bahwa pemahaman orangtua terhadap label komposisi susu formula anak masih perlu diperkuat.
Terlebih, stunting masih menjadi ancaman. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, angka stunting pada anak Indonesia di bawah lima tahun masih mencapai 21,6 persen. Sebagian besar berkaitan dengan kekurangan asupan protein pada masa awal kehidupan dan pola konsumsi gula yang terlalu dini.
"Orangtua perlu lebih kritis dalam membaca label produk nutrisi anak. Selama ini, banyak orangtua cenderung fokus pada kandungan tambahan, seperti AHA, DHA, Omega-3, dan Omega-6. Padahal, komposisi utama penting dipahami," ujar Prof Rini dalam pemaparannya pada acara Grand Launching AceKid di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Ia menambahkan, kandungan yang tercantum pertama dalam urutan komposisi menunjukkan komponen terbesar dalam suatu produk. Oleh karena itu, orangtua perlu memperhatikan kualitas sumber bahan, proses produksi, serta bahan tambahan, seperti gula atau pemanis tertentu.
Pada kesempatan sama, Senior Scientist FEIHE International Yang Zhang, PhD, menjelaskan perbedaan mendasar antara dua jenis komposisi utama yang umum ditemukan pada produk susu formula anak.
“Jika bahan pertama yang tercantum adalah susu bubuk, produk tersebut menggunakan bahan dasar susu yang telah melalui pengeringan, penyimpanan, hingga pemanasan berulang sebelum sampai ke tangan konsumen,” jelasnya.
Sebaliknya, lanjut Yang Zhang, jika bahan pertama adalah susu segar atau natural whole milk, produk itu menempuh satu perjalanan langsung dari peternakan ke proses produksi tanpa siklus panas berulang. Perbedaan ini bukan sekadar soal teknis proses produksi.
Susu segar, lanjutnya, mempertahankan nutrisi aktif alami, seperti lactoferrin, osteopontin, human milk oligosaccharides (HMOs), dan protein bioaktif yang berperan langsung mendukung sistem imun anak.
“Setiap siklus pemanasan tambahan yang dilalui susu rekombinasi atau susu bubuk dapat mendegradasi nutrisi-nutrisi tersebut. Dengan demikian, jumlahnya sudah berkurang signifikan saat produk sampai ke anak,” terang Yang Zhang.
Sebuah studi klinis pada 2025 menggunakan model pencernaan balita dinamis menemukan bahwa formula berbasis natural whole milk menghasilkan tingkat hidrolisis protein dan kandungan asam amino bebas yang jauh lebih tinggi ketimbang formula konvensional. Hal ini berarti, lebih banyak nutrisi diserap secara efisien oleh tubuh anak.
Dalam demonstrasi langsung di atas panggung, Yang Zhang membandingkan kelarutan AceKid dengan produk formula lain dalam air hangat. AceKid larut lebih cepat dan meninggalkan lebih sedikit residu. Hal ini menjadi indikasi bahwa formula berbasis susu segar lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan anak.
Salah satu keunggulan AceKid, yaitu traceable milk source, menyediakan sistem keterlacakan melalui kode respons cepat atau quick response (QR) code di bagian bawah setiap kaleng guna menjamin transparansi sumber bahan baku bagi konsumen.Dampak gula berlebih pada kecerdasan dan tumbuh kembang anak
Selain soal komposisi utama, Prof Rini menyoroti risiko lain yang kerap diabaikan orangtua, yakni kandungan gula tambahan dalam susu formula anak. Berdasarkan sejumlah penelitian, konsumsi gula berlebihan pada tahun pertama kehidupan anak dapat menyebabkan penurunan kemampuan kecerdasan yang terdeteksi pada usia 3 tahun.
Dampaknya semakin luas jika kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula berlanjut hingga anak berusia 2 tahun. Selain kognitif, kemampuan bahasa dan perkembangan motorik anak juga ikut terdampak.
Makanan dan minuman tinggi gula menyebabkan lonjakan kadar gula darah dan resistansi insulin. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi memori otak, kemampuan belajar, serta konsentrasi anak.
Sukrosa, maltodekstrin, dan sirup jagung yang biasa ditemukan dalam produk susu formula termasuk dalam kategori bahan dengan indeks glikemik tinggi yang perlu diwaspadai orangtua saat membaca label.
Prof Rini juga mengingatkan bahwa perisa sintetik yang digunakan untuk memperkuat aroma dan rasa susu formula perlu dicermati orangtua. Meskipun diizinkan pada susu formula lanjutan di atas usia 2 hingga 3 tahun dalam batas regulasi tertentu, perisa sintetik berpotensi membuat anak lebih selektif terhadap rasa makanan alami di kemudian hari.
Ia pun menekankan bahwa kecukupan nutrisi perlu diimbangi dengan stimulasi multimodal melalui kelima pancaindra sejak dini. Stimulasi dan asupan gizi yang adekuat, menurut Prof Rini, adalah dua hal yang sama-sama tidak bisa dikompromikan dalam mendukung perkembangan otak anak.
Pada momen peluncurannya di Jakarta, AceKid menerima Top Innovation Choice Award 2026 untuk kategori susu formula yang terbuat dari natural whole milk dengan sumber susu yang dapat ditelusuri.Standar baru transparansi nutrisi anak di Indonesia
Berangkat dari kondisi tersebut, FEIHE International yang bersinergi dengan MAKUKU memperkenalkan AceKid ke pasar Indonesia. Susu formula pertumbuhan ini menggunakan natural whole milk sebagai komposisi utama. AceKid diformulasikan tanpa tambahan sukrosa, maltodekstrin, sirup jagung, ataupun perisa sintetik.
Proses produksinya menerapkan teknologi one-step fresh. Susu segar dari 18 peternakan mandiri di kawasan 47° lintang utara, Provinsi Heilongjiang, China, diolah menjadi produk akhir dalam satu siklus pemanasan dengan waktu pemerahan hingga pengolahan yang diselesaikan dalam dua jam.
Yang Zhang juga menegaskan bahwa kehadiran AceKid di Indonesia tidak sekadar ekspansi pasar biasa. FEIHE sebelumnya telah hadir di pasar Amerika Utara, termasuk Kanada, yang menjadi salah satu tolok ukur penerapan standar kualitasnya di luar China.
Meski formulasi produk dapat disesuaikan dengan regulasi masing-masing negara, Yang Zhang menegaskan bahwa standar kualitas yang diterapkan di Indonesia sepenuhnya identik dengan yang berlaku di pasar internasional lain.
Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) FEIHE International Leng Youbin menyampaikan bahwa Indonesia menjadi pasar internasional pertama bagi AceKid.
"Kami ingin membawa standar yang sama dengan di negara-negara maju ke Indonesia, karena kami percaya setiap anak berhak mendapatkan nutrisi yang lebih baik," ujar Leng.
Brand Ambassador AceKid Indonesia Denny Sumargo yang hadir bersama putrinya Biel di acara peluncuran turut berbagi pengalamannya dalam mencari susu formula yang cocok setelah Biel berhenti mendapat air susu ibu (ASI). Ia mengenal AceKid pertama kali saat berkunjung ke China dan sejak saat itu Biel mengonsumsinya hingga kini.
"Sebagai orangtua, transparansi itu sangat berarti. Bahkan, sumber susunya pun perlu kita telusuri," ujar Denny.
Selain Denny, AceKid juga menggandeng chef profesional Arnold Poernomo sebagai brand ambassador. Sebagai seseorang yang terbiasa memperhatikan komposisi dan kualitas bahan dalam dunia kuliner, Arnold mengaku menerapkan prinsip yang sama ketika memilih produk nutrisi untuk putranya, Timo.
Ia mengingatkan orangtua untuk tidak hanya mengandalkan klaim di bagian depan kemasan. Sebaiknya telusuri komposisi secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.
"Bahan pertama menunjukkan kandungan dengan proporsi paling besar untuk produk tersebut," ujar Arnold.
Sebagai informasi, pada momen peluncurannya, AceKid menerima Top Innovation Choice Award 2026 untuk kategori susu formula yang terbuat dari natural whole milk dengan sumber susu yang dapat ditelusuri. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas inovasi AceKid dalam menghadirkan transparansi sumber bahan baku dan formulasi yang berbeda dari produk sejenis di pasar Indonesia.
Pada acara tersebut, FEIHE juga memperkenalkan program sosial bertajuk AceKid Generation. Lewat progam ini, perusahaan berencana mendonasikan produk AceKid senilai Rp 10 miliar kepada keluarga yang membutuhkan di Indonesia.
"Kami juga akan menyelenggarakan 100 kegiatan edukasi nutrisi agar lebih banyak keluarga dapat memperoleh pengetahuan nutrisi yang tepat dan mendukung tumbuh kembang anak yang sehat," ujar Leng.
Melalui salah satu keunggulan AceKid, yaitu traceable milk source, seluruh produk AceKid yang tersedia di pasaran menyediakan sistem keterlacakan melalui kode respons cepat atau quick response (QR) code di bagian bawah setiap kaleng. Orangtua dapat melihat tanggal pemerahan, tanggal produksi, tanggal pengemasan, hingga suhu saat susu diperah dari sapi.
Produk ini telah mendapatkan sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta tersedia di Shopee dan TikTok Shop.
AceKid menegaskan dukungan penuh terhadap pemberian ASI sebagai sumber nutrisi terbaik bagi bayi, terutama pada awal kehidupan, dan menyarankan orangtua untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dalam menentukan kebutuhan nutrisi anak.