KOMPAS.com – Warga Padukuhan Pengos, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini memiliki akses terhadap sumber air bersih yang lebih layak melalui HydroConnect Project.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi mahasiswa dan kampus Universitas Gadjah Mada atau UGM bersama PT Telkom Indonesia (Persero). HydroConnect dihadirkan pada Sabtu (28/3/2026) sebagai solusi atas persoalan ketersediaan air bersih di wilayah karst, terutama saat kemarau ekstrem.
Gunungkidul dikenal memiliki kondisi geografis dan geologis menantang. Karakteristik tanah karst membuat air hujan mudah meresap ke dalam tanah sehingga sumber air di permukaan sulit ditemukan.
Kondisi tersebut membuat warga menghadapi keterbatasan akses air bersih, terutama saat musim kemarau. Selama ini, sebagian warga harus memesan truk air untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari konsumsi, sanitasi, hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Melalui HydroConnect, persoalan tersebut coba dijawab dengan pendekatan teknologi dan pelestarian lingkungan. Proyek ini melibatkan mahasiswa dan kampus dari Departemen Teknik Kimia UGM, Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM, serta Telkom.
HydroConnect menghadirkan tangki penampungan air hujan berkapasitas lebih dari 30.000 liter yang dilengkapi Smart Filtration System. Sistem tersebut mengubah air hujan menjadi lebih bersih dan layak digunakan warga.
Selain itu, HydroConnect juga menerapkan teknologi internet of things atau IoT untuk memantau kualitas air secara real-time melalui dasbor digital. Dengan sistem tersebut, warga dapat mengetahui kondisi kualitas air secara berkala sehingga keamanan air yang digunakan dapat lebih terpantau.
Untuk operasionalnya, HydroConnect memanfaatkan panel surya. Penggunaan energi surya menjadi bagian dari penerapan konsep energi hijau dengan jejak karbon yang lebih rendah.
HydroConnect memanfaatkan panel surya untuk mengoperasikan sistem air bersih berbasis IoT di Padukuhan Pengos, Gunungkidul.27 KK rasakan manfaat
Melalui ekosistem tersebut, sebanyak 27 keluarga di Padukuhan Pengos merasakan manfaat langsung dari HydroConnect Project.
Kepala Dukuh Padukuhan Pengos Ratno mengatakan, kehadiran program tersebut membantu warga mendapatkan solusi atas persoalan air bersih yang selama ini mereka hadapi.
“Dengan kegiatan ini, alhamdulillah, terkait dengan persoalan air bersih bisa ada solusi terbaik yang telah saya dan warga masyarakat rasakan sendiri di Padukuhan Pengos. Air menjadi bersih dan kuota air menjadi lebih banyak karena banyaknya tampungan air yang tersedia,” ujar Ratno dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (9/6/2026).
Ratno berharap, sistem tersebut dapat terus memberikan manfaat bagi warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih dalam jangka panjang.
Agar manfaat program dapat berkelanjutan, HydroConnect Project turut memberdayakan masyarakat lokal. Salah satunya dilakukan melalui pembentukan kelompok Local Heroes yang berperan sebagai pionir dalam menjaga ekosistem yang telah dibangun.
Warga dilibatkan dalam pembangunan, pengelolaan, hingga perawatan sistem. Pelibatan tersebut diharapkan dapat mendorong kemandirian masyarakat serta menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap infrastruktur yang telah tersedia.
Kehadiran HydroConnect di Padukuhan Pengos menunjukkan bahwa sinergi antara teknologi, infrastruktur, kampus, mahasiswa, dan korporasi dapat membantu menjawab tantangan geografis di daerah karst.
Inovasi ini tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga mendorong tanggung jawab bersama dalam menjaga akses air bersih bagi masyarakat.