TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — BXSea Oceanarium di Bintaro, Tangerang Selatan, kedatangan penghuni baru yang tak biasa. Sebanyak 30 ekor pot-bellied seahorse atau kuda laut perut besar dari Jepang kini menghuni area Conservation Zone, tepatnya di Journey Seahorse Empires.
Kehadiran spesies tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara BXSea Oceanarium dan YO-GYO Aquarium Jepang untuk memperkuat edukasi, konservasi, dan pengembangan pengetahuan mengenai biota laut.
Kerja sama itu berawal dari pertemuan antara BXSea Oceanarium dan YO-GYO Aquarium di Jepang pada Minggu (15/3/2026). Kedua institusi ini dipertemukan oleh visi yang sama untuk menjaga keberlanjutan kehidupan laut melalui kolaborasi berbasis pengetahuan, tujuan, dan tanggung jawab bersama.
Sebagai bentuk nyata dari kemitraan tersebut, YO-GYO Aquarium Jepang menghibahkan sejumlah biota laut kepada BXSea. Salah satunya adalah pot-bellied seahorse yang telah menjadi bagian dari Conservation Zone BXSea sejak Kamis (23/4/2026).
Hibah tersebut tidak hanya menjadi simbol persahabatan antara kedua institusi, tetapi juga bentuk kepercayaan YO-GYO Aquarium kepada BXSea dalam merawat, mengedukasi, dan mengembangkan upaya konservasi biota laut.
Biota bernama ilmiah Hippocampus abdominalis itu dikenal sebagai salah satu spesies kuda laut berukuran besar. Sesuai namanya, spesies ini memiliki bagian perut yang membulat dan lebih besar jika dibandingkan jenis kuda laut lain.
Di habitat aslinya, pot-bellied seahorse hidup di perairan beriklim sedang di Australia bagian selatan dan Selandia Baru. Kuda laut ini biasanya ditemukan di padang lamun, kawasan pesisir berbatu, hingga area perairan yang memiliki banyak vegetasi laut.
Belajar pengembangbiakan
Pimpinan Unit BXSea Oceanarium Sri Agung Agus Putranto mengatakan, kehadiran pot-bellied seahorse bukan sekadar untuk menambah koleksi satwa yang dipamerkan kepada publik.
Menurutnya, BXSea juga ingin mempelajari teknik pengembangbiakan atau breeding yang telah dikembangkan oleh YO-GYO Aquarium sehingga dapat berkontribusi lebih jauh terhadap konservasi spesies laut.
“Kami tidak ingin hanya mengambil dari alam. Kami juga ingin belajar dari Jepang supaya bisa melakukan breeding dan selanjutnya bisa menghibahkan ke akuarium-akuarium lain di Indonesia, bahkan di luar negeri,” ujarnya kepada media, Sabtu (13/6/2026).
Agung mengatakan, BXSea tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi atau hiburan. Di dalamnya, terdapat pula nilai edukasi dan konservasi yang ingin terus dikembangkan untuk masyarakat.
Oleh karena itu, kerja sama dengan lembaga yang memiliki pengalaman panjang dalam pengembangbiakan biota laut dinilai penting untuk mendukung visi tersebut.
Dengan begitu, lanjut Agung, masyarakat, terutama anak-anak, tidak perlu pergi jauh ke luar negeri untuk mengenal spesies tertentu. Melalui BXSea, mereka dapat melihat langsung biota laut sekaligus mendapat pengetahuan tentang pentingnya menjaga ekosistemnya.
Dipilih karena satu visi
Direktur Blue Corner Inc YO-GYO Aquarium Jepang Koji Ishikagi mengatakan, pihaknya memang memiliki fokus pada pemeliharaan dan pengembangbiakan biota laut sejak fase awal kehidupan.
Dalam bahasa Jepang, “Yo-Gyo” berarti ikan muda. Sesuai namanya, akuarium tersebut berperan membesarkan biota muda sebelum kemudian dipindahkan ke akuarium lain.
Koji menjelaskan, hasil pengembangbiakan YO-GYO Aquarium selama ini telah didistribusikan secara cuma-cuma ke sejumlah akuarium di Jepang dan Spanyol. Kerja sama dengan BXSea menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring tersebut.
Koji menjelaskan, BXSea dipilih karena memiliki kesamaan visi dalam pengelolaan akuarium yang mengedepankan edukasi dan konservasi.
Ia mengaku, mulai menjalin komunikasi dengan BXSea setelah berkunjung ke Indonesia sekitar dua tahun lalu dan melihat langsung fasilitas yang dimiliki oseanarium tersebut.
“Saya melihat BXSea memiliki lingkungan yang sangat baik untuk pemeliharaan berbagai spesies. Kami juga memiliki visi yang sama dalam membangun tempat edukasi sekaligus konservasi,” kata Koji.
Menurut Koji, kerja sama tersebut tidak hanya bertujuan memindahkan spesies dari satu negara ke negara lain. Lebih jauh, kolaborasi ini diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap kehidupan laut.
Koji berharap, ketertarikan anak-anak terhadap satwa laut dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati laut.
Konservasi ex-situ
Pandangan serupa disampaikan Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sarmintohadi.
Ia menilai, kerja sama antara BXSea dan YO-GYO Aquarium merupakan bentuk nyata konservasi ex-situ yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi Indonesia.
“Ini salah satu bentuk nyata konservasi ex-situ. Selain menjadi pembelajaran mengenai standar internasional, kerja sama ini juga momentum bagi peneliti Indonesia untuk melakukan pertukaran ilmu pengetahuan,” ujarnya.
BXSea Oceanorium berkolaborasi bersama YO-GYO Aquarium, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam upaya edukasi dan konservasi biota laut. Menurutnya, konservasi saat ini telah menjadi isu global. Oleh karena itu, kerja sama lintas negara menjadi penting untuk memperkuat pertukaran informasi, teknologi, dan pengalaman dalam pengelolaan spesies.
Sarmintohadi mengatakan, Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi menghadapi berbagai tantangan konservasi, mulai dari penangkapan ikan berlebih, pencemaran, hingga masuknya spesies asing invasif.
Maka dari itu, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia.
Ia menilai, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga riset, perguruan tinggi, hingga organisasi masyarakat menjadi faktor penting untuk memperkuat upaya konservasi.
“Kolaborasi akan membuat upaya konservasi menjadi lebih efektif. Model seperti ini bisa menjadi contoh bagi berbagai lembaga lain dalam mendukung pelestarian biota laut,” katanya.
Sarmintohadi berharap, kerja sama tersebut tidak hanya berhenti pada penandatanganan dokumen serta melahirkan berbagai program nyata yang terus berjalan dalam beberapa tahun ke depan.
Kerja sama riset
Pada kesempatan sama, BXSea juga menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan Direktorat Konservasi Spesis & Genetik (KSG), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Pusat Riset Sistem Biota, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan program edukasi dan konservasi, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga peluang kerja sama riset dan pengembangan teknologi kelautan.
Kepala Pusat Riset Sistem Biota BRIN Decky Indrawan Junaedi mengatakan, kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi antara lembaga riset, pemerintah, dan sektor swasta dalam mendukung konservasi laut.
Menurutnya, konservasi tidak hanya berarti menjaga dan menyelamatkan spesies, tetapi juga memastikan pengetahuan dan manfaatnya dapat terus dikembangkan secara bertanggung jawab melalui riset dan inovasi.
“BXSea menjadi salah satu contoh bagaimana konservasi dapat dikemas bersama kegiatan penelitian, wisata, dan edukasi lingkungan,” ujarnya.
BRIN, lanjut dia, siap mendukung kebutuhan riset dan inovasi yang dapat menjadi basis pengembangan program konservasi di BXSea.
Komitmen berlanjut
Direktur PT Jaya Real Property, Tbk Tina Santosa Hadisumarto, mengatakan kehadiran pot-bellied seahorse dan kolaborasi dengan berbagai pihak merupakan bagian dari komitmen BXSea dalam menghadirkan pengalaman yang memadukan hiburan, edukasi, dan konservasi.
“Kami berharap dapat menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk lebih mengenal, menghargai, dan berperan dalam pelestarian serta konservasi satwa akuatik di Indonesia,” ujar Tina.
Menurut Tina, kerja sama dengan YO-GYO Aquarium Jepang, KKP, dan BRIN diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas pada masa mendatang.
“Semoga kerja sama ini dapat terus berlanjut dan menjadi awal dari berbagai kolaborasi seterusnya, serta memperkuat komitmen bersama dalam mendukung konservasi dan keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.