KOMPAS.com – Diagnosis penyakit pelemakan hati atau fatty liver kerap memicu kekhawatiran bagi penderitanya. Selain proses pemulihan yang membutuhkan waktu, biaya pengobatan juga sering menjadi beban pikiran.
Kondisi tersebut pernah dirasakan Angga Saputra (30), seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang tinggal di Kampung Polri Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Angga harus menjalani masa pemulihan intensif selama dua bulan setelah didiagnosis mengalami fatty liver.
Ia bercerita, proses pengobatan dimulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Puskesmas Cilandak. Namun, kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut sehingga harus dirujuk ke rumah sakit.
“Akhirnya, saya langsung dirujuk ke RSUD Pasar Minggu dengan alur yang sangat rapi. Petugas di sana juga memandu seluruh proses rujukan saya dengan sangat baik,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Jalani kontrol rutin selama dua bulan
Selama masa perawatan, Angga rutin menjalani kontrol berkala di rumah sakit. Tim medis mengarahkannya untuk menjalankan puasa secara teratur. Ia juga diminta disiplin menjaga pola makan sehari-hari.
Langkah tersebut perlu dilakukan untuk membantu pemulihan fungsi hatinya.
Di tengah proses penyembuhan, Angga mengaku merasa lebih tenang karena seluruh biaya pengobatannya ditanggung oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Ditambah lagi, sikap para tenaga medis di rumah sakit sangat ramah kepada pasien. Pelayanan yang baik ini benar-benar membuat beban saya berkurang,” ungkapnya.
Terbantu fitur Antrean Online
Kewajiban menjalani kontrol rutin selama dua bulan tentu membutuhkan waktu dan energi. Namun, Angga merasa proses tersebut menjadi lebih mudah karena ia memanfaatkan fitur Antrean Online melalui aplikasi Mobile JKN.
Fitur tersebut membantunya memangkas waktu tunggu saat berobat di fasilitas kesehatan.
“Fitur Antrean Online itu betul-betul mengubah cara kita saat berobat. Proses pelayanannya sangat memudahkan para peserta di faskes. Sistem digital ini juga sangat menghemat waktu kerja saya sebagai PNS. Saya tidak perlu lagi membuang waktu untuk mengantre lama,” katanya.
Bagi Angga, kemudahan layanan digital dalam program JKN menjadi bagian penting dari pengalaman berobat yang lebih praktis.
Ia merasakan langsung akses layanan kesehatan yang berjalan lebih tertata, mulai dari proses rujukan hingga kontrol berkala.
JKN bermanfaat bagi masyarakat
Pengalaman menjalani pengobatan fatty liver membuat Angga semakin memahami manfaat program JKN.
Menurutnya, keberadaan BPJS Kesehatan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, terutama ketika harus menghadapi kondisi kesehatan yang membutuhkan biaya tidak sedikit.
“Bagi saya, satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan BPJS Kesehatan adalah bermanfaat. Program ini hadir sebagai bantalan perlindungan yang sangat nyata bagi masyarakat,” ujar Angga.
Ia menilai, JKN dapat membantu masyarakat agar tidak perlu terlalu cemas memikirkan biaya saat jatuh sakit.
“Keberadaan program JKN dapat memastikan warga menengah ke bawah tidak perlu cemas memikirkan biaya saat jatuh sakit. Semua orang kini memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kesembuhan,” tegasnya.
Angga berharap, sistem pelayanan kesehatan berbasis digital dapat terus ditingkatkan serta dilakukan pengembangan sistem secara berkala untuk meningkatkan kenyamanan peserta.
“Semoga ke depan sistem pelayanan kesehatan ini bisa jauh lebih baik lagi. Saya juga berharap para pemangku kebijakan dapat meninjau kembali nominal iuran berkala,” tuturnya,
Jika memungkinkan, lanjutnya, tarifnya bisa disesuaikan agar menjadi lebih murah bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Langkah ini tentu akan sangat membantu meringankan beban finansial masyarakat,” kata Angga.