Advertorial

Jalur Pelayaran Langsung Wuhan-Indonesia Perkuat Konektivitas Logistik Kawasan Tiongkok Tengah

Kompas.com - 18/06/2026, 12:19 WIB

KOMPAS.com – Jalur pelayaran langsung sungai-laut Wuhan-Indonesia dinilai dapat memperkuat konektivitas logistik antara kawasan tengah Tiongkok dan Indonesia.

Mahasiswi Program Magister Teknik Indonesia-Tiongkok hasil kerja sama Pemerintah Indonesia, Perusahaan GEM, dan Central South University, Ellin Victoria, mengatakan bahwa jalur tersebut dapat membuka akses logistik yang lebih efisien bagi kawasan tengah Tiongkok untuk terhubung langsung dengan Asia Tenggara.

Menurut Ellin, salah satu perkembangan terbaru terlihat dari keberangkatan kapal “Lanning 19” dari Pelabuhan Yangluo, Wuhan, menuju Pelabuhan Sambalagi, Indonesia, pada Selasa (16/6/2026).

Kapal tersebut mengangkut lebih dari 10.000 ton peralatan dan material untuk kebutuhan proyek-proyek pembangunan GEM di Indonesia.

Pelayaran itu menjadi pelayaran ke-81 sejak rute pelayaran langsung sungai-laut Wuhan-Indonesia dibuka pada Sabtu (30/11/2024).

“Kehadiran jalur ini membuka akses logistik yang lebih efisien bagi kawasan tengah Tiongkok untuk terhubung langsung dengan Asia Tenggara,” ujar Ellin dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (17/6/2026).

Jika dihitung bersama pelayaran masuk dan keluar, jumlah perjalanan pada rute Pelabuhan Yangluo Wuhan-Indonesia telah melampaui 100 kali.

Total volume angkutan pada rute tersebut mencapai 620.000 ton dengan nilai perdagangan sebesar 1,4 miliar dollar AS.

Angka itu menyumbang lebih dari 50 persen perdagangan antara Provinsi Hubei dan Indonesia.

Pangkas waktu dan biaya logistik

Ellin menjelaskan, rute pelayaran langsung Indonesia-Pelabuhan Yangluo Wuhan diprakarsai oleh Komite Provinsi Hubei Partai Komunis Tiongkok dan Pemerintah Provinsi Hubei. Rute tersebut ini mendapat dukungan dari otoritas maritim dan pelabuhan.

Menurutnya, pembukaan rute itu ditujukan untuk mengatasi hambatan logistik lintas negara yang selama ini dihadapi perusahaan-perusahaan di Hubei.

Sebelumnya, sebagian besar barang ekspor-impor dari Hubei harus melalui pelabuhan pesisir, seperti Shanghai, Huangpu, atau Ningbo. Kondisi ini membuat waktu pengiriman menjadi lebih lama dan biaya logistik lebih tinggi.

Setelah rute langsung dibuka, kapal dapat berlayar dari Sungai Yangtze melalui Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan langsung menuju Indonesia.

Waktu pengiriman pun berkurang lebih dari tujuh hari, sementara biaya logistik dapat ditekan lebih dari 300 yuan per ton.

“Efisiensi ini secara signifikan meningkatkan daya saing perusahaan-perusahaan di wilayah pedalaman Tiongkok di pasar internasional,” kata Ellin.

Selain Indonesia, kapal pada rute tersebut juga dapat singgah di Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Dengan demikian, rute tersebut turut membuka akses lebih luas bagi perusahaan-perusahaan di Tiongkok Tengah untuk memasuki pasar Asia Tenggara.

Bentuk pola logistik dua arah

Saat ini, jalur pelayaran langsung tersebut telah membentuk pola logistik dua arah yang dinilai lebih seimbang.

Menurut Ellin, mengacu pada data yang disampaikan Chairman GEM Xu Kaihua, sebanyak 240.000 ton sumber daya nikel dan bahan baku strategis lainnya senilai 1,1 miliar dollar AS telah dikirim dari Indonesia ke Wuhan.

Sementara itu, peralatan dan material yang dikirim dari Wuhan ke Indonesia telah mencapai 380.000 meter kubik dengan nilai sekitar 300 juta dollar AS.

Menurut Ellin, jalur logistik yang lebih efisien tidak hanya menjamin pasokan sumber daya penting bagi industri energi baru di Tiongkok, tetapi juga mendorong ekspor peralatan dan teknologi manufaktur Tiongkok ke luar negeri.

Berkaitan dengan investasi industri di Indonesia

Ellin menilai, pembukaan rute pelayaran langsung Wuhan-Indonesia juga berkaitan erat dengan keterlibatan perusahaan-perusahaan Hubei dalam pembangunan industri di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan asal Hubei, seperti GEM, telah berinvestasi dalam pembangunan kawasan industri teknologi tinggi berbasis sumber daya nikel hijau di Indonesia.

Investasi tersebut dinilai tidak hanya mendorong transformasi industri pengolahan nikel menuju sektor energi baru, tetapi juga memberikan dukungan penting bagi rantai pasok industri energi baru global.

Selain kerja sama ekonomi dan perdagangan, GEM juga telah menginvestasikan hampir 50 juta dollar AS untuk pengembangan pendidikan dan riset.

Investasi itu mencakup pendirian Program Pendidikan Bersama Magister dan Doktor Teknik Indonesia-Tiongkok, Laboratorium Riset Bersama Bandung, serta Akademi Insinyur Unggul Indonesia-Tiongkok.

Hingga kini, berbagai program tersebut telah melahirkan 266 tenaga teknik dan profesional lokal.

Menurut Ellin, kolaborasi di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan turut memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Ia juga menilai, inisiatif tersebut menjadi salah satu proyek unggulan kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) antara Indonesia dan Tiongkok.

Kamar Dagang Hubei Indonesia resmi didirikan

Seiring semakin eratnya hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok, Kamar Dagang Umum Hubei Indonesia resmi didirikan pada Oktober 2025.

Organisasi tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dan pengembangan komunitas bisnis Hubei di Indonesia.

Ellin mengatakan, kerja sama antara Hubei dan Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada konektivitas infrastruktur, tetapi juga berkembang dalam rantai industri dan pertukaran budaya.

Menurutnya, operasional reguler rute pelayaran langsung Wuhan-Indonesia telah mengubah pola keterbukaan ekonomi kawasan tengah Tiongkok.

Rute itu juga dinilai memberikan dorongan baru bagi kerja sama ekonomi dan perdagangan Tiongkok-ASEAN dalam kerangka Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

“Dari konektivitas infrastruktur, kolaborasi rantai industri, hingga pendalaman pertukaran budaya, sebuah kisah baru kerja sama antara Sungai Yangtze dan negeri kepulauan Indonesia tengah ditulis,” kata Ellin.

Ia menggambarkan kerja sama tersebut sebagai babak baru hubungan Indonesia-Tiongkok dalam kerangka Belt and Road Initiative.

“Ketika bunga sakura Wuhan bermekaran berdampingan dengan bunga kamboja Bali, perusahaan-perusahaan Hubei tengah menorehkan babak baru yang gemilang dalam kerja sama Indonesia-Tiongkok di bawah inisiatif Belt and Road,” tuturnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau