KOMPAS.com – Dalam rangka merayakan satu dekade perjalanan menghadirkan akses layanan kesehatan digital di Indonesia, Halodoc menggelar General Practitioner (GP) Summit 2026.
Kegiatan tersebut menjadi wadah edukasi yang mempertemukan ratusan dokter umum bersama mitra ekosistem kesehatan, seperti Zambon, P&G, dan Pharos, untuk berbagi wawasan serta praktik terbaik dalam pelayanan kesehatan sehari-hari.
Mengusung tema “From Screen to Care: Practical Solutions from Everyday Clinical Practice”, GP Summit 2026 menjadi bagian dari komitmen Halodoc dalam mendukung pengembangan kompetensi tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan medis.
Chief Operating Officer Halodoc Alfonsius Timboel mengatakan, selama 10 tahun terakhir, Halodoc telah berkembang menjadi ekosistem layanan kesehatan digital yang menghubungkan sekitar 20 juta masyarakat Indonesia dengan dokter dan tenaga kesehatan berlisensi.
Seiring perkembangan layanan kesehatan digital, lanjutnya, Halodoc percaya bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan harus berjalan beriringan dengan inovasi teknologi dan pengembangan kompetensi tenaga kesehatan yang melayaninya.
“Kami berharap, GP Summit dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Alfonsius dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (15/6/2026).
General Practitioner (GP) Summit 2026 diharapkan dapat menjadi wadah untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Seminar medis yang digelar dalam acara tersebut juga didukung dengan Satuan Kredit Profesi (SKP) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Salah satu topik yang dibahas adalah tantangan yang dihadapi dokter dalam layanan telekonsultasi serta pemanfaatan Clinical Decision Support System (CDSS).
Dalam layanan telekonsultasi, dokter dituntut mengambil keputusan klinis secara cepat dan akurat berdasarkan hasil anamnesis pasien. Dokter juga dituntut mampu menjaga konsistensi kualitas layanan dan memastikan tidak ada informasi penting yang terlewat.
CDSS hadir untuk membantu dokter mengakses informasi medis secara lebih cepat, memberikan pengingat terkait keamanan penggunaan obat, merapikan dokumentasi konsultasi, serta membantu mengidentifikasi kondisi yang memerlukan rujukan lebih lanjut.
Meski demikian, teknologi tersebut tidak menggantikan peran dokter, baik dalam melakukan penilaian klinis maupun menetapkan diagnosis akhir.
Dokter Irwan menjelaskan bahwa prinsip CDSS diterapkan Halodoc melalui AI Doctor Assistant (AIDA), yakni teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendukung dokter dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
AIDA juga membantu dokumentasi klinis melalui penyusunan ringkasan konsultasi, mengidentifikasi aspek keamanan penggunaan obat, serta mendukung penyampaian informasi medis kepada pasien.
Chief Medical Officer Halodoc sekaligus Halodoc Board of Medical Excellence (BoME) Halodoc, dr Irwan Heriyanto, MARS, menegaskan bahwa tenaga kesehatan perlu memperbarui pengetahuan klinis secara konsisten di tengah perubahan lanskap pelayanan kesehatan.
“Saat ini, dokter menghadapi dinamika pelayanan yang berkembang, termasuk meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan digital. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk terus memperbarui pengetahuan klinis dan memastikan setiap keputusan medis tetap didasarkan pada bukti ilmiah serta kebutuhan pasien secara personal,” kata dr Irwan
Kembangkan kompetensi tenaga kesehatan melalui platform terintegrasi Halodoc for Doctors
Fitur Learn di aplikasi Halodoc for DoctorsSelain menggelar GP Summit, Halodoc juga memperkuat ekosistem pengembangan tenaga kesehatan melalui integrasi Halodoc Academy ke dalam aplikasi Halodoc for Doctors melalui fitur Learn.
Melalui platform terintegrasi tersebut, dokter, apoteker, bidan, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya dapat mengakses berbagai program edukasi yang telah terakreditasi oleh Kemenkes, termasuk untuk mendukung pemenuhan SKP.
Menurut dr Irwan, fitur Learn dirancang tidak hanya bagi dokter yang telah bergabung dengan Halodoc for Doctors, tetapi juga bagi tenaga kesehatan lain yang ingin meningkatkan kompetensi profesionalnya.
“Dengan pendekatan yang lebih inklusif, Halodoc berharap dapat mendukung lebih banyak tenaga kesehatan untuk bertumbuh dan berkembang dalam ekosistem kesehatan digital Indonesia,” ujarnya.
Komitmen tersebut melanjutkan upaya yang telah dilakukan melalui Halodoc Academy. Hingga kini, lebih dari 135.000 peserta tercatat telah mengikuti lebih dari 200 program pelatihan yang diselenggarakan Halodoc.
Sejak diluncurkan pada April 2026, fitur Learn di aplikasi Halodoc for Doctors juga telah diakses oleh lebih dari 7.000 tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran fitur tersebut diharapkan dapat memudahkan tenaga kesehatan untuk terus mengembangkan kompetensi profesional kapan dan di mana saja.