Advertorial

DPRD Surabaya: Kampung Pancasila Bisa Jadi Solusi Sampah dan Gerakkan Ekonomi Warga

Kompas.com - 24/06/2026, 20:11 WIB

KOMPAS.com - Program Kampung Pancasila yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dinilai berpotensi menjadi solusi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Namun, program tersebut perlu diperkuat dengan fasilitas pendukung, pendampingan berkelanjutan, dan akses pasar yang jelas. Dengan begitu, pengelolaan sampah tidak berhenti pada tahap pemilahan.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Bahtiyar Rifai mengatakan, Kampung Pancasila yang telah diterapkan pada sejumlah kampung di Kota Pahlawan memiliki empat fokus utama.

Keempat fokus tersebut adalah lingkungan, sosial, ekonomi, serta penguatan nilai gotong royong di tengah masyarakat.

Bahtiyar menilai, aspek lingkungan dalam program tersebut sudah mulai berjalan. Salah satunya melalui edukasi kepada warga untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti plastik, kertas, dan organik.

Namun, masih ada kendala yang perlu segera dibenahi, terutama terkait ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah di tingkat kampung.

“Warga sudah diberikan pendampingan untuk memilah sampah. Namun, masih ada kelemahan karena belum tersedia fasilitas yang memadai untuk menampung sampah yang sudah dipilah,” ujar Bahtiyar dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (24/6/2026).

Bahtiyar mengatakan, persoalan sampah perlu menjadi perhatian serius. Pasalnya, volume sampah yang dihasilkan Surabaya mencapai sekitar 1.000 hingga 1.500 ton per hari.

Karena itu, ia mendorong Pemkot Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup untuk menyiapkan sarana pengelolaan sampah yang memadai di tingkat kampung.

Selain melalui anggaran perangkat daerah, dukungan juga dapat diberikan melalui dana kelurahan. Jika anggaran daerah terbatas, skema corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan bisa menjadi alternatif pembiayaan.

Tidak cukup hanya memilah sampah

Bahtiyar menilai, edukasi pemilahan sampah juga perlu diikuti dengan pembinaan dan praktik langsung.

Menurutnya, warga tidak cukup hanya diminta memilah sampah. Mereka juga perlu didukung dengan alat dan teknologi sederhana agar sampah dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Salah satu fasilitas yang bisa disediakan adalah alat pencacah. Dengan dukungan tersebut, sampah yang telah dipilah dapat diproses lebih lanjut dan tidak kembali menjadi beban lingkungan.

“Jangan sampai warga hanya diminta memilah sampah tanpa ada manfaat ekonominya. Harus ada edukasi, pembinaan, dan alat pendukung sehingga sampah bisa diolah menjadi produk yang bernilai,” tuturnya.

Ia mengatakan, pendekatan tersebut penting agar Kampung Pancasila tidak hanya menjadi gerakan lingkungan, tetapi juga dapat mendorong ekonomi warga.

Jika dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi bahan baku produk daur ulang atau produk turunan lain yang memiliki nilai jual.

Perlu akses pasar

Selain fasilitas dan pembinaan, Bahtiyar juga menekankan peran penting akses pasar bagi produk hasil pengolahan sampah.

Menurutnya, Pemkot Surabaya perlu menjalin kerja sama dengan pihak ketiga agar produk yang dihasilkan warga memiliki saluran pemasaran yang jelas.

Tanpa akses pasar, hasil pengolahan sampah berisiko hanya berhenti pada skala kecil dan tidak memberi dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi warga. Karena itu, ia mengusulkan program tersebut dimulai melalui percontohan di sejumlah RW.

Bahtiyar mengatakan, sebagian besar RW di Surabaya telah memiliki sekretariat. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pusat edukasi dan pengolahan sampah berbasis masyarakat.

Dari sana, warga dapat belajar memilah, mengolah, hingga mengembangkan produk berbasis daur ulang secara lebih terarah.

Bahtiyar berharap, tahun ini menjadi momentum untuk menyusun model pengelolaan sampah berbasis Kampung Pancasila. Dengan model yang matang, program tersebut dapat diterapkan secara bertahap mulai 2027.

Ia menilai, penguatan Kampung Pancasila dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Pada saat yang sama, program tersebut juga dapat menjadi ruang pemberdayaan ekonomi warga melalui kegiatan berbasis lingkungan.

“Semangat kami, Kampung Pancasila jangan hanya menjadi gerakan edukasi, tetapi juga gerakan ekonomi kerakyatan berbasis lingkungan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga,” ujar Bahtiyar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau