KOMPAS.com - Pengalaman bekerja di luar negeri sering kali menjadi modal berharga bagi para pekerja migran Indonesia (PMI).
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan mereka kembali ke Tanah Air, tantangan baru muncul. Tantangan itu adalah bagaimana membangun sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, BRI melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli kembali menyelenggarakan Program Pemberdayaan Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Program tersebut ditujukan bagi para pekerja migran yang telah menyelesaikan masa kontrak kerjanya di luar negeri dan kembali ke Tanah Air.
Kali ini, BRI Peduli menyasar 60 purna PMI di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Selama pelaksanaan kegiatan di Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon, peserta mendapatkan pembekalan yang dirancang untuk membantu mereka membangun usaha maupun memperkuat peluang ekonomi setelah kembali ke Indonesia.
Peserta memperoleh materi mulai dari pelatihan dasar kewirausahaan, identifikasi potensi usaha dan peluang pasar lokal, penyusunan rencana usaha (business plan), hingga manajemen usaha yang mencakup produksi, pemasaran, dan keuangan.
-Mereka juga mendapatkan pembekalan untuk memperkuat mental dan motivasi berwirausaha, serta pendampingan bisnis setelah pelatihan agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara berkelanjutan.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, program pemberdayaan purna PMI dirancang untuk membekali para peserta dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam membangun ketahanan ekonomi, baik melalui pengembangan usaha maupun peningkatan peluang kerja di dalam negeri.
Menurut dia, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan menyusun perencanaan serta mengelola bisnis secara berkelanjutan.
Dengan pendampingan dari mentor berpengalaman, para peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha yang sesuai dengan potensi daerahnya sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
"Dengan dukungan mentor yang berpengalaman, mereka diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus berkontribusi aktif dalam mendorong pembangunan ekonomi masyarakat," ujar Dhanny dalam siaran pers yang diterima Kompas.com pada Selasa (30/6/2026).
-Cirebon sendiri dipilih sebagai tujuan implementasi program BRI Peduli lantaran menjadi salah satu daerah asal PMI terbesar di Indonesia.
Berdasarkan data penempatan PMI per Desember 2025 dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Jawa Barat memiliki proporsi sekitar 21,93 persen dari total PMI nasional dan masih menunjukkan tren peningkatan.
Di tingkat kabupaten dan kota, Kabupaten Cirebon termasuk lima besar daerah asal PMI dengan kontribusi sebesar 4,02 persen. Jumlah pekerja migran dari wilayah tersebut meningkat dari 767 orang menjadi 886 orang sepanjang 2025 atau tumbuh 15,51 persen.
Dhanny mengatakan, tingginya jumlah pekerja migran dari Cirebon menjadi salah satu pertimbangan penetapan wilayah tersebut sebagai lokasi program pemberdayaan purna PMI.
"Ini menunjukkan bahwa Kabupaten Cirebon merupakan salah satu wilayah prioritas dalam upaya pemberdayaan purna migran yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas serta ketahanan ekonomi, mendorong tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha produktif yang mereka kelola, serta membuka peluang penghidupan yang berkelanjutan di dalam negeri," kata Dhanny.
Bagi Tanipa, purna PMI asal Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, pelatihan tersebut memberikan bekal yang relevan untuk mengembangkan usaha setelah kembali ke Indonesia. Sebelum pulang ke Tanah Air, ia pernah bekerja di Hong Kong, Bahrain, dan Singapura.
Menurut dia, materi yang diberikan tidak hanya membahas validasi bisnis, tetapi juga literasi keuangan, termasuk cara mengelola keuangan usaha dan menyusun strategi pengembangan bisnis.
"Materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan purna PMI dalam mengembangkan usaha. Saya berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan oleh BRI agar semakin banyak purna PMI yang merasakan manfaat positif dari program tersebut," ucap Tanipa.