KOMPAS.com – Indonesia selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pemasok pelaut terbesar di dunia. Namun, di tengah transformasi industri pelayaran global, jumlah pelaut bukan lagi menjadi faktor utama yang dibutuhkan.
Perkembangan teknologi, digitalisasi, standar keselamatan yang semakin ketat, hingga tuntutan pelayaran berkelanjutan membuat industri kini membutuhkan pelaut dengan kompetensi kelas dunia.
Momentum tersebut menjadi semakin relevan bertepatan dengan peringatan Day of the Seafarer setiap 25 Juni. Peringatan yang digagas oleh International Maritime Organization (IMO) ini menjadi bentuk penghormatan kepada jutaan pelaut yang menopang lebih dari 90 persen perdagangan dunia melalui jalur laut.
Bagi Indonesia, Hari Pelaut Sedunia menjadi pengingat bahwa sebagai salah satu negara pemasok pelaut terbesar di dunia, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) maritim agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Semangat itu diangkat dalam Equinox Navigate 2026 – Indonesian Seafarer Conference yang diselenggarakan PT Equinox Bahari Utama, bagian dari Equinox Shipping Group, pada Selasa (30/6/2026).
Mengusung tema "Sea of Change: From Quantity to Global Quality", konferensi ini mempertemukan regulator, organisasi profesi, perusahaan pelayaran, ship manager, principal internasional, akademisi, praktisi industri, hingga ratusan pelaut Indonesia untuk membahas arah pengembangan SDM maritim nasional.
Berbeda dengan seminar pada umumnya, Equinox Navigate 2026 merupakan puncak dari rangkaian program pengembangan kompetensi pelaut yang telah berlangsung selama satu tahun.
Program tersebut mencakup pelatihan Maritime English, Mental Health Awareness, pembaruan regulasi STCW, SIRE Familiarization, Leadership Development, penguatan budaya keselamatan, komunikasi, hingga berbagai program peningkatan profesionalisme yang disusun sesuai kebutuhan industri pelayaran internasional.
Pemerintah apresiasi upaya peningkatan kompetensi pelaut
Direktur Perkapalan dan Kepelautan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Republik Indonesia Ir Samsuddin, MT, MMarE, IPM, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Equinox Navigate 2026.
Menurutnya, peningkatan kualitas pelaut Indonesia merupakan salah satu agenda strategis nasional untuk menjaga daya saing Indonesia di industri pelayaran internasional.
Ia menilai Equinox Bahari Utama telah menunjukkan komitmen melalui penyelenggaraan program pengembangan kompetensi yang berkesinambungan sekaligus menghadirkan ruang kolaborasi antara pemerintah, industri, organisasi profesi, lembaga pendidikan, dan para pelaut.
Samsuddin juga mengapresiasi Equinox Navigate sebagai puncak dari rangkaian pelatihan selama satu tahun yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga penguatan karakter, kemampuan komunikasi, budaya keselamatan, kesehatan mental, dan kesiapan menghadapi perubahan industri global.
Pandangan serupa disampaikan Vice President Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI), Capt Iswar Syam, DM, MMar, SE, SIP, MM. Menurutnya, peningkatan kualitas pelaut Indonesia hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh ekosistem maritim.
"Kami di Kesatuan Pelaut Indonesia sangat mendukung Equinox Navigate karena forum seperti ini menjadi wadah kolaborasi antara regulator, organisasi profesi, perusahaan pengawakan, ship owner, ship manager, lembaga pendidikan, serta para pelaut. Masa depan pelaut Indonesia hanya dapat dibangun melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan,” tuturnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa.
Ia menambahkan, kolaborasi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara dengan jumlah pelaut yang besar, tetapi juga sebagai negara yang menghasilkan pelaut profesional yang dipercaya industri pelayaran dunia.
Industri menuntut kompetensi yang semakin kompleks
Perspektif industri disampaikan Head of Vetting PT Pertamina International Shipping (PIS), Capt Syafiq Bahsein, MNI, MTr, melalui materi bertajuk "Maritime Safety and Sustainability as Pillars of National Energy Resilience".
Ia menjelaskan bahwa keselamatan pelayaran dan kualitas pelaut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan energi nasional.
Menurutnya, perusahaan pelayaran kelas dunia kini menerapkan standar internasional melalui implementasi Ship Inspection Report Programme (SIRE), Tanker Management Self Assessment (TMSA), IACS Class Program, Fleet Rejuvenation, penguatan keamanan siber (cyber security), program kesehatan dan kesejahteraan pelaut, hingga berbagai inisiatif keberlanjutan dan dekarbonisasi.
Karena itu, keberhasilan operasional kapal tidak hanya ditentukan oleh kondisi teknis kapal, tetapi juga kualitas SDM yang mengoperasikannya. Kompetensi teknis, budaya keselamatan, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, profesionalisme, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan industri.
Selain aspek kompetensi, tata kelola hubungan kerja juga menjadi perhatian Group Internal Audit Manager Pesona Sentra Utama Group Andrian Rusdy Irwanto, MM, CA, melalui sesi "Contract Understanding and Alignment for Crews and Office Staffs".
Ia menekankan tiga prinsip utama. Pertama, setiap pelaut harus memastikan data pribadi dan dokumen administrasi selalu diperbarui, akurat, dan terdokumentasi dengan baik sebagai dasar perlindungan hukum dalam hubungan kerja internasional.
Kedua, hubungan antara perusahaan pengawakan (manning agency) dan pelaut perlu dibangun melalui komunikasi yang berkelanjutan, pemahaman kontrak yang baik, serta kepercayaan kedua belah pihak.
Ketiga, setiap individu, baik yang bekerja di atas kapal maupun di kantor, memiliki kontribusi yang sama penting dalam mendukung visi, misi, dan tujuan perusahaan.
Pesan tersebut ditutup dengan filosofi Henry Ford, "Coming together is a beginning. Keeping together is progress. Working together is success."
Dari quantity menuju global quality
General Manager PT Equinox Bahari Utama Capt Fandi AS, MM, MMar, mengatakan bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi menghasilkan lebih banyak pelaut, melainkan menghasilkan pelaut yang memenuhi standar dunia.
"Selama bertahun-tahun Indonesia dikenal sebagai salah satu pemasok pelaut terbesar di dunia. Namun hari ini dunia tidak lagi bertanya berapa banyak pelaut yang dapat kita kirim. Dunia bertanya, seberapa baik kualitas mereka,” ucapnya.
Menurutnya, pelaut masa depan tidak cukup hanya memiliki sertifikat kompetensi.
Mereka, lanjut Fandi, juga dituntut memiliki kepemimpinan, integritas, budaya keselamatan, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi secara profesional dalam bahasa Inggris, serta kesiapan menghadapi perkembangan artificial intelligence (AI), digitalisasi, cyber security, alternative fuels, liquefied natural gas (LNG), floating liquefied natural gas (FLNG), floating storage and regasification unit (FSRU), dan berbagai perubahan teknologi yang tengah membentuk industri pelayaran dunia.
“Operational English adalah persyaratan minimum. Hal yang membedakan pelaut kelas dunia adalah kemampuan berdiskusi, menjelaskan keputusan, menyampaikan analisis, membangun kepercayaan, dan memimpin dalam lingkungan kerja internasional,” tuturnya.
Fandi menegaskan, Equinox Navigate tidak dirancang sebagai seminar satu hari, melainkan sebagai platform pembelajaran berkelanjutan bagi pelaut Indonesia.
Perkuat posisi pelaut indonesia di industri global
Sebagai bagian dari arah strategis perusahaan, PT Equinox Bahari Utama memperkenalkan New EBU Direction, strategi transformasi yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM maritim Indonesia sekaligus memperkuat posisi Equinox sebagai penyedia pelaut Indonesia bagi industri pelayaran global.
Pada kuartal IV 2025, lebih dari 1.200 pelaut Indonesia telah ditempatkan Equinox Bahari Utama di berbagai kapal niaga internasional yang dioperasikan principal global.
Senior Manager PT Equinox Bahari Utama Eli Avianti Aryani mengatakan, meningkatnya kebutuhan industri pelayaran dunia mendorong perusahaan menargetkan penambahan lebih dari 1.000 penempatan pelaut Indonesia dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Perusahaan juga memperkuat pengembangan talenta spesialis pada sektor LNG, LPG, FLNG, FSRU, offshore, serta kapal-kapal gas lainnya yang diproyeksikan menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di industri pelayaran global.
Pada kesempatan yang sama, Equinox turut meluncurkan Equinox Navigate Program, platform pembelajaran dan pengembangan kompetensi berkelanjutan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis, kepemimpinan, profesionalisme, budaya keselamatan, kemampuan komunikasi, serta kesiapan pelaut Indonesia menghadapi tuntutan industri maritim masa depan.
Director PT Pesona Sentra Utama (PSU) Trygve Norman, mengatakan penyelenggaraan Equinox Navigate 2026 juga menjadi bagian dari peringatan 25 tahun perjalanan Equinox Shipping Group di industri maritim.
Namun, menurutnya, konferensi ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol komitmen bersama untuk membangun masa depan pelaut Indonesia melalui kolaborasi pemerintah, organisasi profesi, perusahaan pelayaran, ship manager, perusahaan pengawakan, lembaga pendidikan, dan para pelaut.
Pada akhirnya, masa depan pelaut Indonesia tidak lagi ditentukan oleh jumlah pelaut yang dimiliki, tapi oleh karakter, kompetensi, profesionalisme, kepemimpinan, integritas, dan komitmen terhadap standar global.
Sejalan dengan semangat Hari Pelaut Sedunia 2026, Equinox Navigate 2026 menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki babak baru sebagai bangsa maritim. Tantangannya kini tidak sekadar menjadi salah satu pemasok pelaut terbesar di dunia, tetapi juga menjadi negara yang dikenal karena melahirkan pelaut profesional berkelas dunia.