JAKARTA, KOMPAS.com – Platform digital Muslim Wahda memperkenalkan super app yang menggabungkan layanan percakapan, media sosial, fitur penunjang ibadah, hingga asisten kecerdasan buatan (AI) dalam ajang Wahda Indonesia Meetup di The Westin Hotel, Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Acara yang dihadiri sekitar 50 peserta dari kalangan kreator konten, media, pemimpin komunitas, dan mitra strategis itu menjadi bagian dari rangkaian persiapan perusahaan menjelang peluncuran global Wahda pada kuartal IV 2026.
Selain memperkenalkan fitur-fitur utama aplikasinya, Wahda juga memaparkan visi perusahaan dalam membangun ekosistem digital terpadu bagi komunitas Muslim di seluruh dunia.
Chief Executive Officer (CEO) Wahda Hakan Ozyon mengatakan, gagasan membangun Wahda telah dipikirkannya sejak 2007, berawal dari pengalamannya mengembangkan Hejaz, perusahaan jasa keuangan syariah yang didirikannya di Australia.
Seiring perjalanan waktu, ia menyadari bahwa kebutuhan komunitas Muslim tidak hanya terbatas pada layanan keuangan, tetapi juga mencakup ruang digital yang selama ini masih terfragmentasi.
"Ketika Hejaz terus berkembang, kami menyadari bahwa tantangan yang dihadapi komunitas Muslim tidak berhenti pada aspek keuangan. Kami membutuhkan sesuatu yang lebih besar, dan dari sanalah Wahda lahir," ujar Hakan.
Lebih lanjut, Hakan menuturkan, selama ini berbagai kebutuhan digital umat Islam masih tersebar di beragam aplikasi. Pengguna harus berpindah-pindah platform untuk berkomunikasi, membangun komunitas, mengakses media sosial, hingga menjalankan aktivitas ibadah sehari-hari. Kondisi tersebut dinilai membuat pengalaman digital menjadi tidak terintegrasi.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Wahda dikembangkan sebagai super app yang mengintegrasikan layanan percakapan, media sosial, fitur penunjang ibadah, dan asisten AI dalam satu ekosistem digital.
Dengan mengusung visi “Where We Belong”, perusahaan berkomitmen menghadirkan ruang digital yang dibangun berdasarkan nilai-nilai Islam sekaligus mendorong kolaborasi antarkomunitas Muslim di berbagai negara.
4 fitur utama
Creator of Wahda Ali Ozyon mengatakan, platform tersebut dibangun di atas empat fitur utama, yakni Chat, Social, Islamic Tools, dan Sheikh Wahda. Keempat layanan tersebut dirancang saling terhubung sehingga pengguna tidak perlu lagi berpindah ke berbagai aplikasi untuk memenuhi kebutuhan digital sehari-hari.
Menurut Ali, layanan percakapan menjadi fondasi utama Wahda karena komunikasi merupakan aktivitas yang paling sering dilakukan pengguna.
"Kami ingin orang-orang merasa nyaman saat pertama kali menggunakan Wahda. Karena itu, pengalaman menggunakan fitur chat dibuat tetap familier, tetapi dengan fokus lebih besar pada keamanan dan privasi pengguna," kata Ali.
Melalui fitur Chat, pengguna dapat berkomunikasi secara pribadi maupun dalam grup dengan sistem enkripsi end-to-end. Perusahaan menyebut pendekatan tersebut diterapkan untuk menjaga keamanan data dan privasi percakapan pengguna.
Selain layanan percakapan, Wahda menghadirkan fitur Social yang memungkinkan pengguna membagikan konten, membangun komunitas, hingga mengikuti berbagai kegiatan melalui fitur event. Berbeda dengan media sosial pada umumnya, perusahaan menyebut fitur tersebut dirancang tanpa algoritma yang memprioritaskan konten negatif demi meningkatkan keterlibatan pengguna.
Wahda juga mengintegrasikan berbagai Islamic Tools dalam satu aplikasi. Berbagai fitur penunjang ibadah yang sebelumnya umumnya tersedia melalui aplikasi terpisah kini dihimpun dalam satu platform, mulai dari pengingat waktu shalat, Al Quran digital, kumpulan hadis, arah kiblat, tasbih digital, kalender Hijriah, hingga kumpulan doa harian.
Ekosistem tersebut kemudian dilengkapi dengan Sheikh Wahda, asisten AI yang dirancang untuk membantu pengguna memperoleh informasi dan panduan seputar Islam.
Menurut Ali, pengembangan seluruh fitur tersebut berangkat dari upaya menghadirkan pengalaman digital yang lebih sederhana sekaligus relevan dengan kebutuhan komunitas Muslim.
"Kami tidak ingin pengguna harus membuka banyak aplikasi untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya saling berkaitan. Kami ingin semuanya tersedia dalam satu ekosistem," ujarnya.
Creator of Wahda Ali Ozyon. Indonesia jadi pasar strategis
Indonesia menjadi negara pertama yang dipilih Wahda untuk memperkenalkan platform tersebut kepada komunitas sebelum peluncuran global.
Ali mengatakan, keputusan tersebut didasarkan pada besarnya populasi Muslim di Indonesia yang dibarengi dengan tingginya tingkat adopsi teknologi digital. Menurut dia, kombinasi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pasar strategis sekaligus pintu masuk yang penting bagi pengembangan Wahda secara global.
Selain memiliki komunitas Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga dinilai memiliki ekosistem kreator digital yang berkembang pesat.
Hal itu menjadi salah satu alasan Wahda menggandeng kreator konten dalam kegiatan Indonesia Meetup untuk memperkenalkan platform sekaligus membangun komunitas pengguna sejak tahap awal.
Perusahaan menargetkan aplikasi tersebut mampu meraih 1 juta unduhan di Indonesia dalam lima hari pertama setelah resmi diluncurkan.
Menurut Ali, target tersebut didukung oleh pendekatan berbasis komunitas, kolaborasi dengan kreator konten, serta pengembangan fitur yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna Muslim di Indonesia.
"Kami melihat Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai komunitas yang akan berperan penting dalam pertumbuhan Wahda secara global," kata Ali.
Selain Indonesia, Wahda juga akan diluncurkan secara bertahap di berbagai negara dengan populasi Muslim yang besar sebagai bagian dari strategi ekspansi global perusahaan.
Hadirkan AI Islami
Salah satu fitur yang menjadi sorotan dalam Wahda Indonesia Meetup adalah Sheikh Wahda, asisten AI yang dikembangkan untuk membantu pengguna memperoleh informasi dan panduan seputar Islam.
Berbeda dengan chatbot AI pada umumnya yang mengandalkan informasi dari internet secara real-time, Sheikh Wahda menggunakan sistem closed-loop AI. Dengan pendekatan tersebut, AI hanya memanfaatkan basis data internal yang telah dikurasi perusahaan sehingga tidak mengambil jawaban langsung dari internet.
Hakan menjelaskan, sumber pengetahuan Sheikh Wahda berasal dari Al Quran, hadis, sunah, serta literatur fikih yang telah diverifikasi. Jadi, dalam menyusun jawaban, sistem AI dirancang untuk merujuk keempat sumber tersebut secara bertahap sebagai dasar penyusunan respons.
"Hal terpenting bagi kami adalah memastikan Sheikh Wahda tidak terhubung langsung ke internet untuk mengambil informasi. AI hanya belajar dari sumber-sumber autentik yang telah kami masukkan ke dalam sistem," ujar Hakan saat sesi wawancara usai acara.
Ia menjelaskan, sistem tersebut akan terus dikembangkan melalui pengujian dan penyempurnaan agar kualitas jawaban semakin meningkat seiring bertambahnya interaksi pengguna.
Selain menyajikan jawaban, Sheikh Wahda juga dirancang untuk menampilkan sumber rujukan yang digunakan sehingga pengguna dapat mengetahui dasar informasi yang menjadi acuan AI dalam memberikan respons.
Siapkan ekosistem tanpa iklan
Selain memperkenalkan berbagai fitur, Wahda juga mengungkapkan strategi bisnis yang akan diterapkan setelah platform resmi diluncurkan.
Berbeda dengan sebagian besar platform digital yang mengandalkan iklan sebagai sumber pendapatan, Wahda menyatakan tidak akan mengganggu pengalaman pengguna melalui iklan maupun model langganan berbayar pada tahap awal.
Hakan mengatakan, fokus perusahaan saat ini adalah membangun basis pengguna dan ekosistem terlebih dahulu. Setelah komunitas terbentuk, perusahaan akan mengembangkan berbagai layanan yang dapat menghasilkan pendapatan tanpa bergantung pada iklan.
Beberapa di antaranya meliputi layanan pembayaran digital, mini program, transaksi dalam aplikasi, hingga komisi dari berbagai layanan dan bisnis yang terhubung dengan ekosistem Wahda.
"Kami ingin membangun platform yang memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna. Pendapatan akan tumbuh seiring berkembangnya layanan dalam ekosistem, bukan dengan mengganggu pengguna melalui iklan," ujar Hakan.
Menurut dia, pendekatan tersebut juga diharapkan dapat memberikan peluang bagi pelaku usaha dan pengembang aplikasi untuk membangun layanan yang terintegrasi dengan Wahda.
Terapkan moderasi konten
Di sisi lain, Wahda juga menyiapkan sistem moderasi untuk menjaga ruang digital tetap aman bagi pengguna.
Hakan menjelaskan, mekanisme moderasi hanya diterapkan pada konten yang dipublikasikan secara terbuka, seperti unggahan media sosial, komentar, ataupun grup publik. Adapun percakapan pribadi antar-pengguna tetap dilindungi oleh sistem enkripsi dan tidak dimoderasi.
Selain mengandalkan teknologi, perusahaan juga menyiapkan mekanisme pelaporan sehingga pengguna dapat melaporkan konten yang dinilai melanggar ketentuan komunitas.
Menurut Hakan, kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh pengguna tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok tertentu.
"Kami ingin membangun platform yang menghormati semua orang. Konten yang menyerang komunitas Muslim maupun non-Muslim sama-sama tidak diperbolehkan," katanya.
Ia menambahkan, perusahaan juga tengah membangun tim moderasi yang akan bekerja bersama sistem otomatis untuk menangani laporan pengguna secara lebih cepat dan konsisten.
Wahda menggandeng kreator konten dalam kegiatan Indonesia Meetup untuk memperkenalkan platform sekaligus membangun komunitas pengguna sejak tahap awal. Buka peluang bagi kreator
Selain menyasar pengguna umum, Wahda juga ingin menjadi ruang baru bagi kreator konten.
Dalam Wahda Indonesia Meetup, kreator konten Benazio Rizki Putra atau Bena Kribo berbagi pengalaman membangun personal branding selama hampir dua dekade di berbagai platform digital. Menurut dia, kreator saat ini tidak hanya dituntut menghasilkan konten, tetapi juga harus terus beradaptasi dengan perubahan algoritma media sosial.
Karena itu, ia melihat hadirnya platform baru seperti Wahda dapat menjadi alternatif bagi kreator untuk membangun komunitas yang lebih dekat dengan audiens.
"Kita sering mengejar algoritma. Padahal, yang lebih penting adalah membangun hubungan dengan komunitas," ujar Bena.
Selain menyediakan ruang berbagi konten, Wahda juga menyiapkan berbagai fitur yang memungkinkan kreator membangun komunitas, menggelar kegiatan, hingga memperoleh peluang monetisasi yang akan dikembangkan secara bertahap.
Kembangkan fitur pendukung Muslim
Dalam sesi diskusi bersama peserta, tim Wahda juga memaparkan sejumlah fitur yang tengah dikembangkan, salah satunya layanan pencarian restoran halal.
Tak hanya itu, Wahda juga tengah mengembangkan layanan pencarian restoran halal yang akan diintegrasikan ke dalam fitur Places (Maps). Melalui fitur tersebut, pengguna dapat menemukan restoran halal di sekitar lokasi mereka.
Pengguna juga dapat berkontribusi dengan merekomendasikan restoran baru melalui aplikasi. Mereka cukup menambahkan lokasi, informasi pendukung, serta dokumen yang diperlukan untuk selanjutnya diverifikasi oleh tim Wahda sebelum ditampilkan di platform.
Dengan pendekatan tersebut, pengguna diharapkan memperoleh informasi yang lebih lengkap sebelum memilih tempat makan.
Masukan dari peserta selama Indonesia Meetup juga akan menjadi bagian dari penyempurnaan platform sebelum peluncuran global.
Melalui kegiatan tersebut, Wahda berharap dapat membangun kolaborasi dengan komunitas, kreator, media, dan mitra strategis sekaligus memperoleh umpan balik terhadap berbagai fitur yang tengah dikembangkan.
Perusahaan menargetkan peluncuran global Wahda dilakukan pada kuartal IV 2026 dengan Indonesia sebagai salah satu pasar pertama yang diperkenalkan kepada publik.
[NP1]Suggestion to tone down the "Classification" feature from the Product team. I've rewritten it to better reflect the current functionality that we have.
Nantinya, layanan ini akan diintegrasikan ke dalam fitur Places (Maps) agar pengguna dapat dengan mudah menemukan restoran halal di sekitar mereka. Menariknya, pengguna juga bisa ikut berkontribusi dengan merekomendasikan restoran baru; cukup dengan menambahkan lokasi, detail informasi, serta dokumen pendukung untuk diverifikasi oleh tim Wahda.