MATARAM, KOMPAS.com – Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2026 sukses digelar di Lombok Epicentrum Mall, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/7/2026) hingga Minggu (12/7/2026).
FESyar KTI merupakan rangkaian dari program Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang merupakan program tahunan Bank Indonesia (BI). Pada tahun ini, FESyar KTI mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital".
Terdapat empat program unggulan yang dihadirkan, yaitu AKBAR (Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan), AMANAH (Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal), BARAKAH (Bina Rantai Komoditas Halal untuk Ekspor), dan MAHAR (Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf).
Keempat program tersebut menyasar penguatan akses pembiayaan, literasi dan edukasi, serta keuangan sosial digital bagi pelaku ekonomi syariah.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, FESyar KTI 2026 diselenggarakan atas sinergi BI bersama pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Agama, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Kementerian Keuangan, akademisi, serta pelaku usaha syariah.
“Sinergi tersebut menjadi poin penting untuk meningkatkan ekonomi dan keuangan syariah. Apalagi, Indonesia merupakan pemain kunci dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah,” ucap Destry dalam sambutannya.
Dia merinci, berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI). Indonesia berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.
Indonesia meraih peringkat pertama pada sektor modest fashion, peringkat kedua pada sektor pariwisata ramah muslim, dan peringkat ketiga pada sektor makanan halal.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Hal itu pun didukung oleh kekayaan sumber daya, populasi muslim yang besar, dan demografi usia muda,” tuturnya.
Di samping itu, perkembangan teknologi juga membuka peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air.
“Jadi, mari kita bersama meningkatkan ekonomi keuangan syariah berbasis digital,” tegas Destry.
Penguatan rantai nilai halal di Indonesia timur
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB Hario K Pamungkas menambahkan, FESyar KTI 2026 juga menjadi upaya BI untuk mendukung misi meningkatkan inklusi ekonomi serta keuangan berkelanjutan berdasarkan prinsip syariah dan berfokus pada keuangan rantai nilai halal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Gelaran ini juga menjadi momentum untuk memperkuat posisi kawasan timur Indonesia dalam peningkatan literasi serta pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah dengan dukungan pemerintah daerah,” ucap Hario.
FESyar KTI 2026 menghadirkan 19 booth UMKM binaan dari 19 kantor perwakilan BI di kawasan timur Indonesia, 111 produk Halal Mart, 34 booth kuliner, 11 booth perbankan syariah, enam lembaga wakaf, serta empat halal center.
Mewakili Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, Sekretaris Daerah Provinsi NTB Abul Chair merasa bangga dan terhormat atas pemilihan NTB sebagai tuan rumah FESyar KTI 2026.
Menurutnya, menjadi tuan rumah FESyar KTI 2026 merupakan kehormatan dan amanah besar bagi NTB. Hal ini pun menunjukkan bahwa kawasan timur Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi syariah nasional.
“Kami juga mengapresiasi pemilihan motif bunga Kakando (motif hias berbentuk rebung atau tunas bambu yang menjadi corak khas pada kain tenun tradisional NTB) sebagai identitas FESyar KTI 2026,” tutur Abul.
Motif tersebut, lanjutnya, melambangkan kesabaran, ketekunan, dan keunggulan. Menurut Abul, seluruh nilai ini harus dimiliki oleh setiap pelaku usaha.
“Simbol itu juga menunjukkan bahwa ekonomi syariah dapat tumbuh dengan berakar pada budaya lokal yang tidak sekadar warisan, tetapi memiliki nilai tambah ekonomi baru,” kata dia lagi.
Dari limbah jadi produk bernilai ekspor
Selain menjadi forum kolaborasi dan edukasi, FESyar KTI 2026 juga menjadi ajang promosi bagi ratusan produk halal serta usaha mikro kecil dan menengah UMKM unggulan dari 22 provinsi di Kawasan Timur Indonesia.
Festival tersebut menghadirkan booth UMKM binaan dari 19 kantor perwakilan BI di kawasan timur Indonesia, 111 produk Halal Mart, 34 booth kuliner, 11 booth perbankan syariah, enam lembaga wakaf, serta empat halal center.
Selain pameran produk unggulan, kegiatan juga diisi business matching, seminar, talk show, training of trainers (ToT), sertifikasi nazir wakaf, gerakan sadar wakaf, serta berbagai kompetisi untuk meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah.
Di antara deretan booth UMKM binaan BI di FESyar KTI 2026, deretan aksesori berbahan kulit kerang buatan Lombok Artistic Mother Pearl Shell (Lamops) mencuri perhatian pengunjung, termasuk Deputi Gubernur Senior BI.
Destry menyempatkan diri mampir ke booth Lamops dan memborong beberapa aksesori berbahan kulit kerang hasil karya perajin asal Desa Meninting, Batulayar, Lombok Barat, itu.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti berbelanja di salah satu booth peserta FESyar KTI 2026 di Lombok Epicentrum Mall, Jumat (10/7/2026). Kepada Kompas.com, pemilik Lamops Anita Handayani menceritakan perjalanan panjang dirinya merintis usaha tersebut sejak awal 2000-an.
Berawal dari hobi membuat home decor, Anita dan mendiang suaminya kemudian mengembangkan berbagai aksesori berbahan kulit kerang yang kini telah menembus pasar mancanegara, mulai dari Singapura, Jepang, Belanda, hingga Amerika Serikat.
Saat ini, ia tengah mengerjakan gagang pisau premium dari material kulit kerang. Produk ini merupakan pesanan dari Italia.
Anita bercerita, kerang dipilih karena unik dan juga memiliki nilai estetika tinggi.
Meski produknya telah menembus ke pasar mancanegara, seluruh proses produksi masih dilakukan secara handmade di workshop kecil bersama sejumlah warga sekitar.
Anita mengatakan, usaha yang dijalankannya sejak lama mengedepankan prinsip keberlanjutan. Kulit kerang yang dianggap limbah diolah menjadi aksesori bernilai tinggi.
Kemudian, sisa serbuk hasil produksi dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku produk kecantikan sehingga hampir tidak ada material yang terbuang.
Menjadi UMKM binaan BI sejak 2021, ia memperoleh banyak dukungan, mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga kesempatan mengikuti berbagai pameran tanpa dibebani biaya sewa booth.
Berkat fasilitasi tersebut, produknya beberapa kali tampil pada pameran internasional di Singapura dan berbagai ajang nasional, termasuk Karya Kreatif Indonesia (KKI).
Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, dukungan tersebut menjadi semakin berarti.
Ia mengaku, penjualan sempat melambat sejak daya beli masyarakat menurun, sementara biaya mengikuti pameran komersial terus meningkat. Namun, pameran yang difasilitasi BI mampu menjadi momentum untuk mengerek kembali omzet usahanya.
"Kalau ikut pameran dari BI, booth-nya gratis sehingga kami bisa lebih fokus berjualan. Di Karya Kreatif Indonesia, misalnya, omzet kami bahkan bisa naik tiga sampai empat kali lipat jika dibandingkan hari biasa. Di FESyar juga selalu lebih baik ketimbang penjualan harian," cerita Anita.
Keikutsertaan dalam berbagai pameran yang difasilitasi BI tidak hanya membuka akses pasar baru. Lebih dari itu, dukungan BI juga membantu memperkenalkan potensi kerajinan lokal NTB kepada pembeli dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Dari ajang-ajang tersebut pula, produk-produknya kerap mendapat pesanan baru, termasuk dari pembeli luar negeri.
Ia pun berharap dapat memperluas pelatihan bagi generasi muda, khususnya anak-anak putus sekolah dan warga sekitar pesantren di wilayahnya, agar memiliki keterampilan mengolah kulit kerang menjadi produk bernilai ekonomi.