Advertorial

Kasus Kanker Tembus 400.000 per Tahun, Indonesia-China Perkuat Program Fellowship Tenaga Kesehatan

Kompas.com - 16/07/2026, 10:14 WIB

KOMPAS.com – Beban penyakit kanker di Indonesia terus meningkat. Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 mencatat, ada lebih dari 400.000 kasus baru kanker di Indonesia dengan angka kematian mencapai lebih dari 240.000 jiwa dalam setahun.

Kondisi tersebut membuat penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan menjadi salah satu kebutuhan mendesak, terlebih perkembangan teknologi penanganan kanker semakin kompleks.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang digelar di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Forum yang diselenggarakan Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia bersama China Anti-Cancer Association (CACA) sebagai bagian dari Global Medical Summit Indonesia itu mengusung tema “Next-Generation Oncology: Management, Technology, and Holistic Care”.

Ketua Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) drg Arianti Anaya, MKM, mengatakan bahwa tanpa upaya pencegahan dan pengobatan yang lebih komprehensif, beban kanker di Indonesia diproyeksikan terus meningkat hingga 2050.

Ia melanjutkan, kanker kini menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Pada perempuan, jenis kanker yang paling banyak ditemukan adalah kanker payudara dan kanker serviks, sedangkan pada laki-laki didominasi kanker paru-paru dan kanker kolorektal.

Pemenuhan SDM kesehatan menjadi prioritas

Merespons beban kanker yang semakin tinggi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penguatan SDM kesehatan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan layanan kanker di Indonesia.

"Kekurangan SDM tidak hanya pada dokter spesialis, tetapi juga seluruh tenaga pendukung yang mengoperasikan teknologi dan mendampingi pasien selama pengobatan," ujar Budi dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (15/7/2026).

Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 sebagai bagian dari Global Medical Summit Indonesia digelar di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).dok. Modern Cancer Hospital Guangzhou Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 sebagai bagian dari Global Medical Summit Indonesia digelar di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Ia menjelaskan, penanganan kanker modern kini bergantung pada teknologi berpresisi tinggi sehingga membutuhkan tenaga kesehatan dengan kompetensi yang beragam.

Selain dokter spesialis, dibutuhkan pula radiografer, fisikawan medis, teknisi alat kesehatan, hingga perawat onkologi.

Budi berharap, forum kolaborasi internasional, seperti ICCF 2026, dapat menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik terbaik antarnegara, khususnya dalam mengatasi keterbatasan SDM ataupun sarana dan prasarana kesehatan.

Arianti mengatakan, KKI mendukung percepatan pemenuhan tenaga kesehatan melalui program fellowship dan hospital-based training.

Pendekatan pendidikan berbasis rumah sakit menurutnya lebih efektif untuk mempercepat penciptaan tenaga medis ataupun tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang onkologi.

"Model pendidikan berbasis rumah sakit dinilai lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan SDM jika dibandingkan hanya mengandalkan jalur pendidikan akademik konvensional," jelas Arianti.

Berbagi pengalaman dan teknologi penanganan kanker

Komitmen memperkuat kapasitas tenaga kesehatan juga datang dari delegasi China yang dipimpin Wakil Ketua CACA Profesor Wang Ying.

Pada forum tersebut, delegasi China membagikan pengalaman mengenai sistem pencegahan dan pengendalian kanker, mulai dari skrining dini hingga manajemen kanker yang terstandardisasi.

Profesor Wang Ying juga memperkenalkan CACA Guidelines, yakni panduan klinis yang disusun berdasarkan karakteristik populasi Asia sehingga diharapkan dapat menjadi referensi bagi negara-negara di kawasan.

Selain itu, sejumlah pakar dari China turut memaparkan perkembangan teknologi terkini dalam penanganan kanker.

Profesor Zhang Fu Jun membahas pemanfaatan implan partikel radioaktif. Profesor Li Peng Fei mengulas perkembangan imunoterapi dan terapi sel. Sementara itu, Profesor Yin Ping Shan menjelaskan integrasi pengobatan tradisional Tiongkok dalam penanganan kanker.

Dorong pendekatan onkologi integratif

Ketua Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia dr Endang Nuryadi, SpOnkRad(K), PhD, menjelaskan bahwa penanganan kanker saat ini membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai tenaga kesehatan.

Menurutnya, pelayanan kanker tidak hanya melibatkan dokter bedah, onkolog radiasi, dan terapi sistemik, tetapi juga rehabilitasi medik, fisioterapi, hingga akupunktur.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep onkologi integratif yang disampaikan Ketua Umum CACA Profesor Fan Dai Ming.

Lewat sambutan video, ia menjelaskan bahwa penanganan kanker di masa depan perlu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, pengobatan modern dan tradisional, serta mencakup seluruh perjalanan pasien, mulai dari pencegahan, skrining, diagnosis, pengobatan, hingga rehabilitasi.

Profesor Fan juga mengapresiasi langkah Indonesia yang telah memasukkan pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional.

"Kami mengundang pimpinan Kementerian Kesehatan, Dewan Kesehatan Indonesia, dan para ahli yang hadir hari ini untuk berpartisipasi di Changsha pada November 2026 guna merancang arah kolaborasi kami," ujarnya.

Perkuat kerja sama Indonesia-China

Seluruh rangkaian forum ilmiah tersebut difasilitasi oleh Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG).

Sebagai mitra pembinaan internasional CACA dalam inisiatif Belt and Road, MCHG berperan memperkuat kerja sama Indonesia dan China melalui berbagai program pelatihan internasional, layanan konsultasi jarak jauh (teleconsultation), hingga pengembangan layanan kanker yang berorientasi pada pasien.

Melalui penyelenggaraan ICCF 2026, Indonesia dan China juga berkomitmen memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, pengembangan teknologi onkologi guna mempercepat transfer ilmu pengetahuan, meningkatkan jumlah tenaga kesehatan yang kompeten, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan kanker yang berkualitas.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau