KOMPAS.com – Beban penyakit kanker di Indonesia terus meningkat. Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 mencatat, ada lebih dari 400.000 kasus baru kanker di Indonesia dengan angka kematian mencapai lebih dari 240.000 jiwa dalam setahun.
Kondisi tersebut membuat penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan menjadi salah satu kebutuhan mendesak, terlebih perkembangan teknologi penanganan kanker semakin kompleks.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang digelar di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Forum yang diselenggarakan Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia bersama China Anti-Cancer Association (CACA) sebagai bagian dari Global Medical Summit Indonesia itu mengusung tema “Next-Generation Oncology: Management, Technology, and Holistic Care”.
Ketua Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) drg Arianti Anaya, MKM, mengatakan bahwa tanpa upaya pencegahan dan pengobatan yang lebih komprehensif, beban kanker di Indonesia diproyeksikan terus meningkat hingga 2050.
Ia melanjutkan, kanker kini menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Pada perempuan, jenis kanker yang paling banyak ditemukan adalah kanker payudara dan kanker serviks, sedangkan pada laki-laki didominasi kanker paru-paru dan kanker kolorektal.
Pemenuhan SDM kesehatan menjadi prioritas
Merespons beban kanker yang semakin tinggi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penguatan SDM kesehatan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan layanan kanker di Indonesia.
"Kekurangan SDM tidak hanya pada dokter spesialis, tetapi juga seluruh tenaga pendukung yang mengoperasikan teknologi dan mendampingi pasien selama pengobatan," ujar Budi dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (15/7/2026).
Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 sebagai bagian dari Global Medical Summit Indonesia digelar di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).Ia menjelaskan, penanganan kanker modern kini bergantung pada teknologi berpresisi tinggi sehingga membutuhkan tenaga kesehatan dengan kompetensi yang beragam.
Selain dokter spesialis, dibutuhkan pula radiografer, fisikawan medis, teknisi alat kesehatan, hingga perawat onkologi.
Budi berharap, forum kolaborasi internasional, seperti ICCF 2026, dapat menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik terbaik antarnegara, khususnya dalam mengatasi keterbatasan SDM ataupun sarana dan prasarana kesehatan.
Arianti mengatakan, KKI mendukung percepatan pemenuhan tenaga kesehatan melalui program fellowship dan hospital-based training.
Pendekatan pendidikan berbasis rumah sakit menurutnya lebih efektif untuk mempercepat penciptaan tenaga medis ataupun tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang onkologi.
"Model pendidikan berbasis rumah sakit dinilai lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan SDM jika dibandingkan hanya mengandalkan jalur pendidikan akademik konvensional," jelas Arianti.
Berbagi pengalaman dan teknologi penanganan kanker
Komitmen memperkuat kapasitas tenaga kesehatan juga datang dari delegasi China yang dipimpin Wakil Ketua CACA Profesor Wang Ying.
Pada forum tersebut, delegasi China membagikan pengalaman mengenai sistem pencegahan dan pengendalian kanker, mulai dari skrining dini hingga manajemen kanker yang terstandardisasi.
Profesor Wang Ying juga memperkenalkan CACA Guidelines, yakni panduan klinis yang disusun berdasarkan karakteristik populasi Asia sehingga diharapkan dapat menjadi referensi bagi negara-negara di kawasan.
Selain itu, sejumlah pakar dari China turut memaparkan perkembangan teknologi terkini dalam penanganan kanker.
Profesor Zhang Fu Jun membahas pemanfaatan implan partikel radioaktif. Profesor Li Peng Fei mengulas perkembangan imunoterapi dan terapi sel. Sementara itu, Profesor Yin Ping Shan menjelaskan integrasi pengobatan tradisional Tiongkok dalam penanganan kanker.
Dorong pendekatan onkologi integratif
Ketua Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia dr Endang Nuryadi, SpOnkRad(K), PhD, menjelaskan bahwa penanganan kanker saat ini membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai tenaga kesehatan.
Menurutnya, pelayanan kanker tidak hanya melibatkan dokter bedah, onkolog radiasi, dan terapi sistemik, tetapi juga rehabilitasi medik, fisioterapi, hingga akupunktur.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep onkologi integratif yang disampaikan Ketua Umum CACA Profesor Fan Dai Ming.
Lewat sambutan video, ia menjelaskan bahwa penanganan kanker di masa depan perlu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, pengobatan modern dan tradisional, serta mencakup seluruh perjalanan pasien, mulai dari pencegahan, skrining, diagnosis, pengobatan, hingga rehabilitasi.
Profesor Fan juga mengapresiasi langkah Indonesia yang telah memasukkan pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional.
"Kami mengundang pimpinan Kementerian Kesehatan, Dewan Kesehatan Indonesia, dan para ahli yang hadir hari ini untuk berpartisipasi di Changsha pada November 2026 guna merancang arah kolaborasi kami," ujarnya.
Perkuat kerja sama Indonesia-China
Seluruh rangkaian forum ilmiah tersebut difasilitasi oleh Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG).
Sebagai mitra pembinaan internasional CACA dalam inisiatif Belt and Road, MCHG berperan memperkuat kerja sama Indonesia dan China melalui berbagai program pelatihan internasional, layanan konsultasi jarak jauh (teleconsultation), hingga pengembangan layanan kanker yang berorientasi pada pasien.
Melalui penyelenggaraan ICCF 2026, Indonesia dan China juga berkomitmen memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, pengembangan teknologi onkologi guna mempercepat transfer ilmu pengetahuan, meningkatkan jumlah tenaga kesehatan yang kompeten, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan kanker yang berkualitas.