Advertorial

Dari Pesantren untuk Kemandirian Ekonomi, Kiprah Thohir Yasin Bangun Ekosistem Bisnis Syariah di Lombok

Kompas.com - 16/07/2026, 19:11 WIB

LOMBOK TIMUR, KOMPAS.com – Suasana di Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/7/2026), belum seramai biasanya.

Sebagian besar santri masih menikmati masa libur kenaikan kelas. Hanya terlihat sejumlah peserta didik baru yang telah lebih dulu datang untuk mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) guna beradaptasi dengan lingkungan pesantren yang kelak menjadi tempat mereka menimba ilmu.

Meski aktivitas belajar belum sepenuhnya berjalan, denyut ekonomi di dalam pesantren tidak ikut berhenti.

Di lahan pertanian, greenhouse, kandang ayam, rumah potong unggas (RPU), juga penggilingan padi, para pekerja tetap menjalankan rutinitas. Sebagian di antaranya merupakan warga sekitar yang selama ini menjadi bagian dari berbagai unit usaha pesantren.

Pemandangan tersebut memperlihatkan bahwa Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Di balik aktivitas belajar mengajar, pesantren juga telah berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi yang terus berputar setiap hari. Dari sinilah pesantren membangun kemandirian sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Berdiri sejak 1990, Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin kini menaungi lebih dari 2.400 santri dari berbagai jenjang pendidikan, mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, dengan ratusan tenaga pendidik.

Di balik aktivitas pendidikan tersebut, pesantren mengembangkan sedikitnya 16 unit usaha yang bergerak di berbagai sektor, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, koperasi, meubel, laundry, barbershop, media, percetakan, air minum dalam kemasan (AMDK), dan perdagangan.

Seluruh unit usaha itu dikelola secara profesional melalui Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPes). Pengelolaannya dipisahkan dari aktivitas akademik serta pengasuhan santri sehingga setiap usaha memiliki sistem manajemen dan keuangan yang mandiri.

Model pengelolaan itu membuat keuntungan usaha tidak hanya menjadi sumber pemasukan tambahan, tetapi juga menjadi penopang utama operasional pondok. Bahkan, saat ini sekitar 70 persen kebutuhan operasional pesantren telah mampu dipenuhi dari hasil usaha sendiri.

Bagi Pimpinan Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin Tuan Guru Haji (TGH) Ismail Thohir, kemandirian ekonomi bukan sekadar mengejar keuntungan.

Hal yang lebih penting adalah memastikan pesantren mampu membiayai pembangunan, menggaji para guru, serta tetap menjalankan misi sosial membantu masyarakat yang membutuhkan.

Pimpinan Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin Tuan Guru Haji (TGH) Ismail Thohir.Dok. KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Pimpinan Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin Tuan Guru Haji (TGH) Ismail Thohir.

Setiap tahun, pesantren menerima sekitar 50 hingga 100 anak yatim dan duafa yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan meski berasal dari keluarga kurang mampu.

"Kami ingin pesantren mampu berdiri di atas kaki sendiri. Hasil usaha kami gunakan untuk operasional, pembangunan, juga membantu anak-anak yang tidak mampu bersekolah," ujar TGH Ismail Thohir kepada Kompas.com, Jumat.

Tumbuh bersama unit usaha

Berbeda dengan banyak lembaga pendidikan yang bergantung pada biaya pendidikan, Thohir Yasin membangun sistem ekonomi yang saling terhubung.

Setiap unit usaha tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rantai produksi yang berkesinambungan.

Hasil panen padi, misalnya, tidak langsung dijual dalam bentuk gabah. Pesantren memiliki mesin penggiling padi (rice mill) sehingga gabah dapat diolah menjadi beras berkualitas sebelum dipasarkan ataupun digunakan memenuhi kebutuhan konsumsi santri.

Limbah penggilingan berupa sekam kemudian dimanfaatkan kembali sebagai alas kandang ayam dan bahan baku pupuk organik. Dedak hasil penggilingan juga menjadi pakan ternak.

Begitu pula dengan sektor peternakan ayam. Setelah dipotong di Rumah Potong Unggas (RPU), daging ayam dipasarkan kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sekitar untuk diolah menjadi berbagai produk makanan. Sementara, bagian yang tidak terpakai dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele sehingga hampir tidak ada limbah yang terbuang.

Konsep pertanian terpadu (integrated farming) itu bukan hanya meningkatkan nilai tambah produk, melainkan juga membuat biaya produksi menjadi lebih efisien karena setiap hasil sampingan masih memiliki nilai ekonomi.

Ketua BUMPes Thohir Yasin, Syahrullah, mengatakan bahwa pesantren secara konsisten mengembangkan inovasi agar seluruh unit usaha saling mendukung.

Saat ini, pesantren juga mengembangkan greenhouse yang digunakan untuk budidaya melon dan cabai. Area tersebut sekaligus menjadi lokasi edukasi agrowisata yang dimanfaatkan siswa untuk mengenal konsep pertanian modern.

"Kami ingin santri dan masyarakat melihat bahwa pertanian bukan pekerjaan tradisional semata. Ada teknologi, inovasi, dan peluang bisnis yang besar," ucap Syahrullah.

Ketua BUMPes Thohir Yasin, Syahrullah.Dok. KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Ketua BUMPes Thohir Yasin, Syahrullah.

Pendekatan serupa juga diterapkan dalam pemasaran. Produk pesantren dipasarkan melalui toko milik sendiri, kantin, UMKM binaan, dan platform digital, sehingga bisa menjangkau pasar luar daerah, seperti Bali.

Bahkan, pesantren telah bermitra dengan sekitar 20 Sentra Produksi Pangan dan Gizi (SPPG) sebagai pemasok kebutuhan pangan.

Upaya tersebut menghasilkan perkembangan yang signifikan.

Omzet RPU kini mencapai Rp 500 juta per tahun, sedangkan unit rice milling mencatat omzet Rp 100 juta per tahun.

Secara keseluruhan, omzet usaha pesantren telah menembus Rp 3 miliar per tahun dan terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.

Dari greenhouse hingga rumah potong unggas

Perjalanan menuju kemandirian ekonomi itu tidak dibangun sendirian.

Sejak 2021, Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB memberikan berbagai bentuk pendampingan untuk memperkuat kapasitas usaha pesantren.

Dukungan tersebut tidak berhenti pada bantuan fisik berupa greenhouse dan RPU. Bank Indonesia juga memberikan pelatihan kewirausahaan, manajemen usaha, dan pelatihan teknis pemotongan unggas sesuai standar halal.

Pendampingan tersebut memungkinkan pesantren membangun rantai bisnis yang lebih terintegrasi sekaligus meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar.

Saat ini, RPU milik pesantren bahkan telah memenuhi persyaratan halal dan masuk dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tak hanya itu, BI juga mendorong penguatan tata kelola usaha agar pengelolaan keuangan unit bisnis dipisahkan dari keuangan pesantren.

Model tersebut membuat setiap unit usaha dapat diukur kinerjanya secara profesional sekaligus menciptakan keberlanjutan bisnis.

Dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh pesantren. Kini, ada 150 masyarakat sekitar terlibat sebagai tenaga kerja di berbagai unit usaha.

Perputaran ekonomi yang lahir dari pesantren akhirnya memberi manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar menopang kebutuhan internal lembaga.

Di tengah peningkatan perhatian terhadap ekonomi syariah nasional, kisah Thohir Yasin menunjukkan bahwa pesantren memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ketika pendidikan, kewirausahaan, dan nilai-nilai syariah berjalan beriringan, pesantren bukan hanya mencetak generasi yang berilmu, tetapi juga melahirkan pelaku usaha yang mampu membangun kesejahteraan masyarakat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau