Advertorial

KKN Nusantara VI 2026, Cetak Cendekiawan Arif lewat Laboratorium Kehidupan Suku Baduy

Kompas.com - 17/07/2026, 13:45 WIB

KOMPAS.com - Di tengah ancaman krisis iklim global dan degradasi lingkungan yang semakin masif, perguruan tinggi keagamaan mengambil langkah konkret untuk turun tangan.

Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia kembali menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan Se-Indonesia Tahun 2026.

Mengusung tema "Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam", program berskala nasional tersebut mendapuk UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten sebagai tuan rumah.

Rangkaian acara dibuka secara resmi oleh Menteri Agama (Menag) RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, di Auditorium Gedung Rektorat UIN SMH Banten, Rabu (15/7/2026), ditandai dengan prosesi pemukulan bedug khas Banten.

Sehari berselang, pada Kamis (16/7/2026), prosesi pelepasan dilaksanakan di Gedung PPG UIN SMH Banten. Ratusan delegasi KKN Nusantara ini secara serentak mulai bergerak menuju lokasi pengabdian yang dipusatkan di desa-desa sekitar Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten, Kabupaten Lebak—wilayah yang beririsan langsung dengan kearifan lokal Suku Baduy.

Jadi cendekiawan arif yang bersahabat dengan alam

Kehadiran Menag Nasaruddin Umar memberikan suntikan filosofis yang mendalam bagi para peserta. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa delegasi ini bukan sekadar anak biologis bangsa, melainkan "anak-anak spiritual" perguruan tinggi yang memikul beban ekspektasi tinggi dari masyarakat.

Mengibaratkan kampus sebagai bahtera Nuh, ia berujar bahwa mahasiswa adalah mereka yang diselamatkan oleh ilmu pengetahuan.

Dalam arahan ilmiahnya, Menag membedah hierarki keilmuan manusia. Ia membedakan antara ilmuwan (yang menguasai teori), intelektual (yang mempraktikkan teori), dan cendekiawan (yang ilmunya berdampak langsung pada masyarakat). Masyarakat, kata Menag, menuntut alumni PTK untuk menjadi cendekiawan sejati.

"Di perguruan tinggi umum, masyarakat mungkin hanya melihat 'undzur ma qala' (lihat apa yang dikatakan). Akan tetapi, tuntutan untuk alumni UIN dan Perguruan Tinggi Keagamaan tidak cukup itu, masyarakat akan melihat 'undzur man qala' (siapa yang mengatakan). Ada muruah yang harus kita perhatikan. Jangan menjadi cendekiawan yang cerdas tapi egois menutup pintu dari lingkungannya," tegas Menag dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (17/7/2026).

Terkait tema ekoteologi, Menag mewanti-wanti mahasiswa untuk menanggalkan arogansi akademik setibanya di lokasi KKN.

Masyarakat desa, ujarnya, adalah laboratorium kehidupan tempat kearifan lokal telah teruji oleh waktu. Menag mengisahkan perbandingan antara ilmuwan modern yang gagal memanen kedelai unggulan karena mengabaikan kondisi alam, dengan kearifan petani tradisional yang mampu berdialog dengan tanah dan cuaca tanpa perlu peralatan laboratorium mewah.

"Orang tua kita dulu tidak pernah ditipu oleh alam karena mereka bersahabat dengan alam. Kalian nanti akan melihat ada jarak antara apa yang Anda ketahui di bangku kuliah sebagai kebenaran, dengan apa yang diamalkan masyarakat lokal. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Kalian dituntut bukan hanya menjadi orang pintar, tapi harus menjadi orang arif," pesan Nasaruddin Umar.

Sebagai panduan etis berbaur dengan masyarakat, Menag menitipkan delapan nilai karakter yang ia rangkum dalam akronim ISTIQAMAH, yakni: Ikhlas, Sabar, Tawaduk, Ihsan (menebar kebajikan), Qanaah (merasa cukup), Akhlak, Muruah (menjaga kepantasan diri), dan Al-haya' (memiliki rasa malu).

Ia juga mencontohkan metode dakwah kultural Wali Songo yang merangkul tradisi—seperti penggunaan bedug—sebagai sarana harmoni tanpa harus membenturkan keyakinan.

Laboratorium harmoni di Tanah Baduy

Menyambung amanat tersebut, Rektor UIN SMH Banten, Prof Dr H Muhammad Ishom, SAg, MA, dalam laporannya memaparkan kesiapan institusinya sebagai tuan rumah.

Tahun ini, antusiasme pengabdian terbilang masif. UIN Banten menerjunkan total 1.400 mahasiswa, di mana 1.200 di antaranya telah lebih dulu dilepas di berbagai kecamatan. Sementara itu, 240 mahasiswa lainnya merupakan delegasi khusus KKN Nusantara dari 42 Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia.

Pemilihan wilayah Kabupaten Lebak, khususnya kawasan masyarakat Baduy, memiliki nilai strategis yang relevan dengan pesan Menteri Agama. Menurut Prof Ishom, kawasan ini adalah episentrum pembelajaran ekoteologi yang sesungguhnya.

Foto bersama Menag beserta rombongan KKN Nusantara VI 2026 beserta pendamping.Dok Kemenag Foto bersama Menag beserta rombongan KKN Nusantara VI 2026 beserta pendamping.

"Kami sengaja memilih tema merawat ekoteologi, karena pada dasarnya orang Baduy itu memiliki nilai-nilai ekoteologis yang luar biasa. Di Baduy ada kampung Baduy Dalam yang menolak modernisasi demi menjaga kemurnian alam, dan Baduy Luar yang meski terbuka, tetap ketat menjaga kelestarian lingkungannya," ungkap Prof Ishom.

Banten yang lekat dengan julukan daerah "Seribu Kiai, Seribu Pesantren" juga menjadi rumah bagi penganut kepercayaan Sunda Wiwitan.

"Artinya, mahasiswa nanti akan belajar secara langsung tentang bagaimana merawat tradisi sekaligus membangun harmoni dengan penganut kepercayaan lain di lapangan," tambahnya.

Menjawab krisis melalui agen pemberdayaan

Sejalan dengan visi filosofis dan realitas lapangan tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof Drphil Sahiron, MA, menegaskan bahwa KKN Nusantara adalah langkah konkret Perguruan Tinggi Keagamaan dalam merespons tantangan zaman, khususnya isu lingkungan dan sosial.

Paradigma ekoteologi, menurut Prof Sahiron, menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi) yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian bumi sebagai rumah bersama.

"KKN Nusantara merupakan salah satu program strategis Kementerian Agama RI. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya melaksanakan pengabdian sebagai bagian dari tridarma, tetapi juga hadir sebagai agen pemberdayaan masyarakat yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan inovasi dalam menjawab tantangan pembangunan," jelas Prof Sahiron dalam keterangan tertulisnya.

Ia juga menekankan bahwa ekoteologi adalah bentuk nyata dari semangat wasathiyyah (moderasi beragama).

Moderasi tidak lagi sekadar membangun harmoni antarmanusia, melainkan menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Untuk mewujudkan hal ini, mahasiswa dibekali ragam metodologi kontekstual, seperti Asset Based Community Development (ABCD), Participatory Action Research (PAR), Community Based Research (CBR), hingga Service Learning (SL) yang berfokus pada potensi desa.

Menagih luaran akademik dan transformasi sosial

Untuk memastikan seluruh gagasan besar mulai dari kearifan alam hingga moderasi beragama ini tidak menguap sekadar sebagai euforia seremonial, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis Kemenag RI, Dr. Nur Kafid memberikan penekanan tegas pada akhir rangkaian pembekalan.

"KKN Nusantara VI ditargetkan menghasilkan luaran akademik dan sosial yang terukur. Kehadiran mahasiswa delegasi se-Indonesia di tengah masyarakat Baduy dan sekitarnya ini tidak boleh hanya untuk sekadar menggugurkan kewajiban SKS. Lebih dari itu, kami menargetkan adanya rekam jejak pengabdian berupa artikel jurnal ilmiah, policy brief yang bisa direkomendasikan kepada pemerintah daerah, serta modul-modul pemberdayaan masyarakat yang adaptif,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa transformasi sosial di Banten tersebut harus terdokumentasi dengan baik, agar model penerapan Ekoteologi ini bisa menjadi purwarupa yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain pada masa mendatang.

Dengan kolaborasi multikultural dari 42 PTK se-Indonesia ini, KKN Nusantara VI bukan sekadar menjadi perjalanan akademik biasa. Selama 40 hari ke depan, para mahasiswa mengemban tugas berat namun mulia: melakukan ziarah ekologis, merunduk pada kearifan alam Baduy, sekaligus menebarkan benih harmoni di Bumi Nusantara.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau