KOMPAS.com – PT BYD Motor Indonesia melanjutkan rangkaian pengenalan teknologi Dual Mode (DM) di Indonesia dengan menggelar uji coba BYD M6 DM di Jawa Tengah.
Berbeda dengan pengujian sebelumnya yang berfokus pada karakter perkotaan dan jalur elevasi tertentu, kali ini BYD memilih rute Semarang menuju Salatiga hingga kawasan kaki Gunung Merbabu untuk menunjukkan kemampuan teknologi DM menghadapi beragam kondisi jalan dalam satu perjalanan.
Tidak semua kendaraan hemat bahan bakar mampu mempertahankan efisiensinya ketika harus melewati jalur menanjak, jalan berkelok, hingga lalu lintas perkotaan dalam satu perjalanan. Kondisi itulah yang menjadi tantangan dalam uji coba BYD M6 DM di Semarang.
Rute yang dimulai dari pusat kota hingga menuju kawasan Gunung Merbabu dipilih untuk merepresentasikan karakter perjalanan masyarakat Jawa Tengah. Dalam satu lintasan, kendaraan harus menghadapi kemacetan perkotaan, jalan antar wilayah, serta tanjakan dengan elevasi yang terus meningkat.
Melalui pengujian tersebut, BYD membuktikan bahwa teknologi DM tidak hanya mengutamakan efisiensi bahan bakar, tetapi juga mampu menjaga performa saat kondisi jalan berubah-ubah.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan bahwa karakter geografis Semarang menjadi lokasi yang tepat untuk menguji kemampuan sistem DM dalam kondisi nyata.
"Melalui rute ini kami ingin menunjukkan bagaimana teknologi DM mampu beradaptasi secara cerdas terhadap berbagai kondisi perjalanan, mulai dari penggunaan di dalam kota hingga jalur dengan kontur antar kota yang lebih menantang," ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas, Jumat (17/7/2026).
Sepanjang perjalanan, BYD M6 DM mengandalkan pendekatan electric-first yang menempatkan motor listrik sebagai sumber tenaga utama. Saat kendaraan menghadapi tanjakan atau membutuhkan tenaga lebih besar, mesin bensin akan bekerja secara otomatis untuk mendukung performa tanpa mengurangi efisiensi sistem secara keseluruhan.
Pendekatan tersebut berbeda dengan hybrid konvensional yang menjadikan mesin sebagai penggerak utama.
Pada ruas perkotaan Semarang, karakter berkendara terasa senyap dengan respons akselerasi yang instan layaknya mobil listrik.
Sementara itu, ketika memasuki jalur menuju Salatiga hingga kawasan Merbabu dengan elevasi yang semakin tinggi, sistem Dual Mode secara otomatis mengombinasikan kerja motor listrik dan mesin agar tenaga tetap optimal.
Dengan perpindahan tenaga yang berlangsung mulus, kendaraan tetap mempertahankan kenyamanan tanpa hentakan meski karakter jalan terus berubah
Secara teknis, BYD mengklaim teknologi DM mampu menghasilkan konsumsi bahan bakar hingga 65 km per liter dengan tetap mempertahankan karakter berkendara yang responsif, senyap, dan nyaman.
Melalui rangkaian pengujian di berbagai daerah, termasuk Semarang, BYD berupaya menunjukkan bahwa kendaraan DM tidak hanya menjadi solusi untuk mobilitas di perkotaan, tetapi juga mampu mengakomodasi kebutuhan perjalanan jarak jauh serta lintas kontur jalan yang umum ditemui di Indonesia.
Menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna
Teknologi DM diklaim mampu menghasilkan konsumsi bahan bakar hingga 65 km per liter dengan tetap mempertahankan karakter berkendara yang responsif, senyap, dan nyaman.
Pada awal peluncuran teknologi DM di Tanah Air, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhou mengatakan bahwa teknologi DM dikembangkan untuk menjawab karakteristik pasar Indonesia yang memiliki pola penggunaan kendaraan sangat beragam.
"Teknologi itu menjadi relevan untuk pasar Indonesia yang memiliki pola penggunaan kendaraan beragam, mulai dari mobilitas harian di perkotaan dan perjalanan antar kota dengan infrastruktur charging station yang belum merata," ujar Eagle sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, keberagaman kebutuhan tersebut membuat proses elektrifikasi membutuhkan berbagai pendekatan agar dapat menjangkau lebih banyak pengguna.
BYD melihat keduanya sebagai pendekatan yang saling melengkapi dalam mempercepat transformasi mobilitas berkelanjutan di Indonesia.
Solusi transisi yang lebih inklusif
BYD menilai bahwa elektrifikasi yang inklusif merupakan kunci untuk mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan secara lebih luas.
Semakin banyak pilihan teknologi yang tersedia, semakin besar pula peluang masyarakat untuk menemukan solusi mobilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Melalui kehadiran EV murni dan teknologi DM, BYD berupaya memberikan alternatif yang dapat dipilih sesuai preferensi masing-masing pengguna.
Konsumen yang telah siap beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik dapat memilih EV murni. Sementara itu, pengguna yang masih membutuhkan fleksibilitas lebih dapat mulai merasakan manfaat elektrifikasi melalui teknologi DM.
Kehadiran BYD M6 DM juga menunjukkan bahwa proses menuju elektrifikasi tidak harus berlangsung secara instan.
Melalui pendekatan tersebut, BYD berupaya menghadirkan solusi mobilitas yang lebih realistis bagi pasar Indonesia dengan menggabungkan efisiensi kendaraan listrik dan fleksibilitas mesin bensin dalam satu ekosistem kendaraan rendah emisi.
Pada akhirnya, semakin mudah masyarakat mengakses teknologi elektrifikasi yang sesuai dengan kebutuhannya, semakin cepat pula transisi menuju masa depan transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan dapat terwujud.