KOMPAS.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengapresiasi praktik pemberdayaan perempuan yang dijalankan melalui program PNM Mekaar saat mengunjungi salah satu nasabah binaan di Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/7/2026).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi keduanya untuk melihat secara langsung bagaimana perempuan prasejahtera mampu membangun usaha yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Nasabah yang dikunjungi adalah Ema, pelaku usaha binaan PNM Mekaar yang mengembangkan model bisnis berbasis ekonomi sirkular. Berawal dari pemanfaatan sampah organik dan anorganik, Ema membangun ekosistem usaha yang saling terintegrasi.
Sampah dimanfaatkan untuk budidaya maggot sebagai pengolah limbah. Selanjutnya, maggot digunakan sebagai pakan lele dan ayam sehingga membentuk rantai usaha yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Arifah menilai inovasi tersebut menjadi contoh nyata bahwa perempuan memiliki kemampuan besar untuk menjadi agen perubahan, baik bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
"Ibu-ibu bisa mencontoh usaha seperti Ibu Ema ini, karena memanfaatkan sampah di lingkungan sekitar, mulai dari organik dan anorganik, kemudian mengolahnya menjadi sebuah ekosistem. Ini merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan lingkungan kita sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi keluarga," ujar Arifah dalam siaran pers yang diterima Kompas.com pada Sabtu (18/7/2026).
Ia mengatakan, kisah Ema menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang memberikan manfaat sosial sekaligus menjaga lingkungan.
(Kiri ke kanan) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti (kiri), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Direktur Utama Permodalan Nasional Madani (PNM) Kindaris saat mengunjungi salah satu nasabah binaan program PNM Mekaar di Bandung, Jawa Barat pada Jumat (17/7/2026) Hal senada disampaikan Amalia Adininggar Widyasanti. Ia menilai usaha yang dikembangkan Ema merupakan contoh pemberdayaan ekonomi yang memiliki rantai nilai yang utuh.
"Ini merupakan contoh usaha yang luar biasa, yang merupakan usaha dari hulu sampai hilir, dari mulai maggot sampai lele dan ayam," kata Amalia.
Ia berharap praktik baik seperti yang dilakukan Ema dapat berkembang di lebih banyak daerah. Hal ini penting karena sebagai gambaran ketangguhan perempuan Indonesia dalam membangun ekonomi keluarga sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Keberhasilan Ema, menurut PNM, tidak terlepas dari proses pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan. Selain memperoleh akses pembiayaan, nasabah PNM Mekaar secara rutin mengikuti Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM), pelatihan usaha, serta penguatan kapasitas untuk mengembangkan usahanya secara mandiri.
Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, keberhasilan para nasabah lahir dari semangat belajar yang terus dipupuk melalui proses pendampingan tersebut.
"Semoga ibu-ibu bisa lebih rajin mengikuti pertemuan kelompok dan seluruh pendampingan dari PNM, supaya usahanya makin besar," ujar Kindaris.
Apresiasi dari Menteri PPPA dan Kepala BPS, lanjut Kindaris, menjadi penguat bahwa pemberdayaan perempuan membutuhkan ekosistem yang mampu membuka akses, meningkatkan kapasitas, sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri perempuan untuk terus berkembang.
Program PNM Mekaar selama ini tidak hanya memberikan akses pembiayaan bagi perempuan prasejahtera, tetapi juga pendampingan melalui Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) dan pelatihan usaha. Tujuannya supaya nasabah mampu mengembangkan usahanya secara mandiri sekaligus memberikan manfaat bagi keluarga maupun lingkungan.