Advertorial

Berbekal Pelatihan BRI Peduli, Eks PMI Asal Indramayu Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut

Kompas.com - 19/07/2026, 19:15 WIB

KOMPAS.com – Empat tahun bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia menjadi titik awal perubahan dalam hidup Rosyidah.

Sekembalinya ke kampung halamannya di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Rosyidah memutuskan membangun usaha yang berangkat dari potensi daerah pesisir tempat ia tinggal.

Melimpahnya hasil laut di wilayah tersebut membuat Rosyidah melihat peluang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, banyak hasil tangkapan yang dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai ekonominya belum maksimal.

Berangkat dari kondisi itu, Rosyidah mendirikan usaha olahan hasil laut dengan merek C'milzea. Selain mengembangkan produk, ia juga melibatkan para ibu nelayan di sekitarnya agar memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tambahan.

"Saya melihat sumber daya alam di sekitar sangat melimpah, tetapi belum memiliki nilai jual. Dari situ saya memberanikan diri mengolahnya menjadi produk sekaligus membuka peluang kerja untuk ibu-ibu nelayan di sekitar," ujar Rosyidah dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (19/7/2026).

Namun, membangun usaha bukan perkara mudah. Tantangan terbesar justru datang dari dalam diri Rosyidah, mulai dari membangun kepercayaan diri sebagai pelaku usaha hingga memahami strategi mengembangkan bisnis dan memasarkan produk.

Keinginan untuk terus belajar kemudian membawanya mengikuti Pelatihan Purna Pekerja Migran Indonesia yang diselenggarakan oleh BRI Peduli.

Melalui pelatihan tersebut, Rosyidah memperoleh pengetahuan baru mengenai kewirausahaan sekaligus kesempatan memperluas jejaring dengan pelaku usaha lain.

"Pelatihan ini sangat membantu saya dalam memperbaiki mindset sebagai pelaku usaha. Selain itu, saya juga mendapatkan jejaring baru yang sangat bermanfaat untuk pengembangan usaha," ucapnya.

Bekal yang diperoleh selama pelatihan langsung diterapkan dalam usahanya. Rosyidah mulai mengembangkan produk olahan ikan, termasuk kerupuk ikan, sehingga pilihan produknya semakin beragam dan memiliki nilai tambah.

"Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan saya mendapatkan banyak ilmu, terutama dalam mengolah ikan, seperti membuat kerupuk ikan. Ilmu tersebut sangat membantu dalam mengembangkan usaha yang saya jalankan," katanya.

Untuk memperkuat usahanya, Rosyidah juga memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai tambahan modal.

Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, menambah stok produk, serta mendukung operasional usaha sehingga mampu memenuhi permintaan pelanggan.

"Alhamdulillah, dana KUR yang saya terima benar-benar saya gunakan untuk mengembangkan usaha, mulai dari membeli bahan baku hingga menambah stok produk. Dengan adanya KUR, saya tidak lagi kesulitan saat membutuhkan modal untuk memenuhi permintaan pelanggan. Saya sangat bersyukur karena usaha saya semakin berkembang dan penjualan pun meningkat," ujar Rosyidah.

Perkembangan usaha itu pun mulai terlihat. Jika sebelumnya penjualan C'milzea rata-rata sekitar 50 kemasan, kini meningkat menjadi 70 hingga 100 kemasan. Varian produknya pun bertambah menjadi tiga jenis olahan hasil laut.

Bagi Rosyidah, pengalaman bekerja di luar negeri menjadi bekal untuk memulai babak baru sebagai pelaku usaha di kampung halaman. Ia meyakini bahwa kemauan untuk belajar dan memanfaatkan peluang dapat membuka jalan bagi siapa saja yang ingin berkembang.

BRI dorong kemandirian purna pekerja migran

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Dhanny menjelaskan bahwa melalui BRI Peduli sebagai payung program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), perseroan menjalankan program pemberdayaan bagi purna pekerja migran Indonesia (PMI).

Program tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan kewirausahaan, kemampuan menyusun perencanaan bisnis, serta pengelolaan usaha yang berkelanjutan.

Selain pelatihan, peserta juga memperoleh pendampingan agar mampu mengembangkan usaha sesuai potensi daerah masing-masing sekaligus meningkatkan daya saing bisnis.

Menurut Dhanny, kisah Rosyidah menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas dan akses terhadap pembiayaan dapat menjadi bekal bagi purna pekerja migran untuk membangun usaha yang produktif.

"Kisah Rosyidah menjadi bukti bahwa pelatihan yang diberikan BRI Peduli memberikan manfaat nyata bagi purna pekerja migran dalam membangun dan mengembangkan usaha. Dengan dukungan mentor yang berpengalaman, pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan purna pekerja migran, sekaligus berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat," ujar Dhanny.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau