Advertorial

BYD M6 DM Catat Efisiensi 92 KM per Liter di Semarang, Lengkapi Uji Konsistensi Teknologi DM di Karakter Jalan Berbeda

Kompas.com - 20/07/2026, 21:16 WIB

KOMPAS.com – Mobilitas masyarakat Indonesia punya karakter yang khas. Satu kendaraan kerap dituntut untuk menjalankan banyak peran, mulai dari menemani aktivitas harian, menghadapi kemacetan, mengantar keluarga, hingga menempuh perjalanan antarkota bersama dengan sanak saudara.

Di tengah kebutuhan itu, pertimbangan konsumen dalam memilih mobil juga ikut berubah. Desain, kapasitas kabin, dan performa tetap penting. Namun, efisiensi energi, biaya operasional, serta kesiapan teknologi untuk digunakan dalam berbagai kondisi kini semakin menentukan keputusan pembelian.

Karenanya, BYD Indonesia menggelar rangkaian kegiatan uji coba BYD M6 DM di berbagai daerah untuk menunjukkan performa dan keunggulan teknologi yang baru saja diluncurkan yaitu BYD Dual Mode (DM).

Kali ini Kota Semarang menjadi lokasi ketiga, setelah BYD memperkenalkan secara masif di Jakarta, bertolak ke Sumatera lalu menghampiri kawasan Jawa Tengah sebagai destinasi selanjutnya.

Rute yang dimulai dari pusat kota hingga menuju kawasan pegunungan dipilih untuk merepresentasikan karakter perjalanan masyarakat Jawa Tengah. Dalam satu lintasan, kendaraan harus menghadapi kemacetan perkotaan, jalan antar wilayah, hingga tanjakan dengan elevasi yang terus meningkat.

Jika dibandingkan dengan pengujian sebelumnya, hasil di Semarang memperlihatkan konsistensi performa teknologi DM di berbagai wilayah Indonesia.

Pada kegiatan uji coba yang pertama di kota Jakarta-Tangerang, kendaraan mencatat efisiensi lebih dari 100 km per liter pada kombinasi jalan yang lebih dominan di perkotaan dan jalan tol.

Sementara di Medan hingga dataran tinggi Berastagi, yang didominasi jalur menanjak dengan elevasi tinggi, konsumsi bahan bakarnya mencapai lebih dari 79 km per liter.

Kali ini, pengujian di Semarang menghasilkan efisiensi lebih dari 92 km per liter pada rute yang memadukan lalu lintas perkotaan, jalan antarkota, hingga tanjakan menuju kawasan kaki Gunung Merbabu.

Berbeda dengan dua pengujian sebelumnya yang memiliki karakter medan lebih spesifik, rute Semarang dipilih karena menghadirkan kombinasi berbagai kondisi berkendara dalam satu perjalanan. Kendaraan harus melewati kemacetan di pusat kota, jalan tol panjang dengan kecepatan konstan, hingga jalur menanjak dan berkelok yang membutuhkan tenaga lebih besar.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa efisiensi teknologi Dual Mode (DM) tidak hanya muncul pada kondisi tertentu, tetapi tetap dapat dipertahankan ketika kendaraan menghadapi karakter jalan yang berubah-ubah sepanjang perjalanan.

Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan, Semarang dipilih karena dinilai merepresentasikan pola mobilitas masyarakat Indonesia yang sesungguhnya.

"Melalui rute ini kami ingin menunjukkan bagaimana teknologi DM mampu beradaptasi secara cerdas terhadap berbagai kondisi perjalanan, mulai dari penggunaan di dalam kota hingga jalur dengan kontur yang lebih menantang," ujar Luther.

Menurutnya, sistem DM bekerja dengan pendekatan electric-first, di mana motor listrik menjadi penggerak utama selama kondisi memungkinkan. Ketika kendaraan membutuhkan tenaga tambahan, seperti saat melintasi tanjakan atau membawa beban lebih besar, mesin bensin akan bekerja secara otomatis untuk membantu sistem penggerak tanpa mengganggu kenyamanan berkendara.

Sepanjang rute Semarang–Salatiga–Merbabu, perpindahan antara motor listrik dan mesin berlangsung secara halus sehingga karakter berkendara tetap menyerupai mobil listrik, dengan akselerasi responsif dan tingkat kebisingan kabin yang rendah.

Hasil uji coba yang sangat efisien di Kota Semarang melengkapi rangkaian pengujian teknologi DM BYD. Dengan karakter rute yang memadukan kondisi urban, antarkota, dan pegunungan dalam satu perjalanan, hasil ini menunjukkan bahwa efisiensi teknologi DM tetap dapat dipertahankan tanpa bergantung pada satu jenis medan tertentu.

Melalui pengujian di berbagai kota dengan karakter geografis berbeda, BYD ingin memperlihatkan bahwa teknologi DM BYD tidak hanya menawarkan konsumsi bahan bakar yang efisien, tetapi juga mampu beradaptasi dengan pola perjalanan masyarakat Indonesia yang beragam, mulai dari mobilitas harian di perkotaan hingga perjalanan jarak jauh lintas wilayah bersama dengan keluarga.

BYD M6 DM Solusi Kebutuhan Mobilitas Keluarga indonesia

BYD memilih M6 sebagai model pertama dengan teknologi DM di Indonesia karena berada di segmen mobil keluarga 7 penumpang yang dekat dengan kebutuhan konsumen. Dok. KOMPAS.com/Ruly Kurniawan BYD memilih M6 sebagai model pertama dengan teknologi DM di Indonesia karena berada di segmen mobil keluarga 7 penumpang yang dekat dengan kebutuhan konsumen.

Agar teknologi transisi ini lebih mudah diterima, pemilihan model juga menjadi penting. BYD pun memilih M6 sebagai model pertama dengan teknologi DM di Indonesia. Pilihan ini dinilai strategis karena M6 berada di segmen mobil keluarga tujuh penumpang, salah satu format kendaraan yang dekat dengan kebutuhan konsumen Indonesia.

Mobil keluarga umumnya dituntut serbaguna. Kendaraan keluarga harus nyaman untuk aktivitas harian, mampu membawa banyak penumpang, tetap efisien untuk pemakaian jangka panjang, dan siap digunakan dalam perjalanan antarkota.

Karena itu, menghadirkan teknologi DM pada M6 membuat elektrifikasi terasa lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari, bukan sekadar teknologi baru yang hanya menarik secara teknis.

BYD juga memiliki alasan pasar di balik pemilihan tersebut. M6 disebut telah memiliki basis yang kuat sejak pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Pada tahun pertamanya, model ini mencatatkan penjualan sekitar 10.100 unit.

Dari sisi efisiensi, BYD mengklaim M6 DM mampu mencatat konsumsi bahan bakar hingga 65 km per liter. Klaim ini menunjukkan bagaimana kombinasi motor listrik dan mesin bensin dirancang untuk memberi efisiensi tinggi tanpa mengorbankan kebutuhan perjalanan jauh.

Respons awal pasar juga memperlihatkan adanya minat terhadap pendekatan tersebut. Hal itu memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap kendaraan elektrifikasi yang lebih adaptif tidak hanya muncul di pusat kota.

Konsumen di daerah juga mulai melihat kendaraan rendah emisi sebagai pilihan, selama teknologi yang ditawarkan sesuai dengan kondisi mobilitas mereka.

Bagi konsumen yang sudah siap seperti penyerapan di beberapa kota-kota besar, EV bisa menjadi pilihan utama. Namun, bagi mereka yang masih membutuhkan efisiensi tinggi, jarak tempuh panjang, dan rasa aman untuk perjalanan lintas kota, teknologi Dual Mode (DM) BYD menawarkan pendekatan yang lebih realistis. 

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau