Advertorial

Industri Sepeda Motor Jadi Salah Satu Penggerak Ekonomi Indonesia

Kompas.com - 22/07/2026, 11:21 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com – Industri sepeda motor dinilai tidak hanya berfungsi sebagai moda transportasi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Besarnya pasar domestik membuat industri ini mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan rantai pasok, hingga membuka peluang usaha di berbagai sektor.

Pernyataan tersebut disampaikan General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM) Ahmad Muhibbuddin dalam diskusi BerkampusRia bertajuk “Bagaimana Industri Otomotif Menggerakkan Ekonomi Indonesia?” yang digelar Kompas.com bersama AHM di Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya BSD, Tangerang, Selasa (8/7/2026).

Kegiatan tersebut diikuti puluhan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, tidak hanya Unika Atma Jaya, tetapi juga berbagai universitas lain di wilayah Jabodetabek.

Indonesia saat ini merupakan pasar yang sangat diperhitungkan oleh pelaku Industri Otomotif global khususnya sebagai pasar sepeda motor ketiga terbesar di dunia, Industri ini turut menyumbang devisa negara melalui ratusan ekspor sepeda motor ke mancanegara.

Di pasar domestik penjualan sepeda motor nasional pada 2025 mencapai sekitar 6,4 juta unit. Dari jumlah tersebut, artinya 7 dari 10 pembelian sepeda motor di Indonesia merupakan pengguna produk sepeda motor Honda yang di produksi anak bangsa di 6 lokasi pabrik AHM.

Muhib mengatakan, tingginya kebutuhan masyarakat terhadap sepeda motor dipengaruhi karakteristik geografis Indonesia. Masyarakat dinilai masih membutuhkan moda transportasi yang mampu menjangkau berbagai wilayah secara efektif.

"Sepeda motor masih menjadi alat transportasi yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia karena mampu menjangkau banyak daerah dan mendukung mobilitas produktif sehari-hari," ujarnya.

Salah satu mahasiswa peserta BerkampusRia melakukan test driving di halama Unika Atma Jaya BSD. Dok. Kompas Salah satu mahasiswa peserta BerkampusRia melakukan test driving di halama Unika Atma Jaya BSD.

Ciptakan efek ganda

Muhib menjelaskan, kontribusi industri sepeda motor terhadap perekonomian tidak hanya berasal dari aktivitas produksi kendaraan.

Menurut dia, satu unit sepeda motor melibatkan rantai industri yang sangat panjang, dan melibatkan jutaan masyarakat Indonesia, mulai dari perusahaan pemasok komponen, industri pendukung, dealer, bengkel resmi, perusahaan pembiayaan, hingga jaringan distribusi.

"Di Astra Honda Motor ada ratusan industri pemasok. Di sisi hilir, ada dealer, main dealer, sales people, industri finance. Semuanya adalah bentuk multiplier-effect dari industri sepeda motor," kata Muhib.

Ia menambahkan, keberadaan industri otomotif juga mendorong tumbuhnya berbagai usaha di sekitar kawasan industri. Contohnya, kemunculan indekos, warung makan dan pedagang kopi.

Dampak lainnya juga terasa melalui keberadaan bengkel, toko suku cadang, hingga toko aksesoris untuk melayani kebutuhan pengguna sepeda motor di seluruh Indonesia.

"Industri sepeda motor menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi yang strategis di Indonesia. Ketika industrinya turun, perekonomian juga ikut terdampak," ujarnya.

Bagian dari gaya hidup

Sementara itu, kreator digital otomotif Gus Ali menilai fungsi sepeda motor saat ini telah berkembang. Selain menjadi alat transportasi, kendaraan roda dua juga menjadi bagian dari identitas penggunanya.

Menurut dia, tren tersebut semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat tidak hanya membeli kendaraan untuk mobilitas, tetapi juga membangun komunitas, melakukan modifikasi, dan menjadikan sepeda motor sebagai media berekspresi.

"Orang sekarang memaknai kendaraannya. Kendaraan tidak sekadar dipakai, tetapi benar-benar menjadi bagian dari dirinya," ujar Gus Ali.

Ia menambahkan, perkembangan komunitas otomotif juga turut menggerakkan ekonomi kreatif melalui industri modifikasi, aksesori, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan otomotif.

Di hadapan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, Muhib mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan industri otomotif nasional. Ekosistem industri otomotif menawarkan banyak peluang kontribusi, mulai dari sektor manufaktur, pengembangan teknologi, industri komponen, hingga program pemberdayaan masyarakat.

AHM juga menjalankan sejumlah program yang dapat diikuti mahasiswa, seperti SDGs Future Leader, KKN Satu Hati, dan Safety Riding Campaign sebagai bagian dari upaya membangun kolaborasi dengan dunia pendidikan.

"Jangan menunggu diajak. Kalau punya ide, sampaikan. Banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan generasi muda untuk menjadi bagian dari industri otomotif Indonesia," kata Muhib.

Selain mengikuti sesi diskusi, peserta juga berkesempatan menjajal langsung berbagai sepeda motor Honda melalui aktivitas test ride yang disediakan di area kampus.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau