KOMPAS.com — Di Kampung Wae Moto, Nusa Tenggara Timur (NTT), nama Veronika Reni lekat dengan satu hal, yakni ketekunan.
Sejak menjadi nasabah pertama PNM Mekaar di kampung tersebut pada 2020, perempuan yang menghidupi keluarga dari kebun sayur itu terus berusaha menjaga satu harapan sederhana, yakni membuat anaknya, Citra, memiliki masa depan yang lebih baik.
Harapan itu mulai terlihat dalam perjalanan sekolah Citra. Saat ini, Citra duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD) Inpres Wae Moto. Selama lima tahun berturut-turut, Citra berhasil mempertahankan peringkat pertama di kelasnya.
Bagi Veronika, capaian itu bukan sekadar kebanggaan keluarga, melainkan penegasan bahwa kerja kerasnya selama ini membawa dampak nyata bagi pendidikan anaknya.
Sebelum bergabung dengan PNM Mekaar, Veronika menghadapi tantangan yang umum dirasakan banyak perempuan prasejahtera di berbagai daerah, yakni memiliki kemauan besar untuk maju, tetapi terbatas oleh akses modal.
Ia mengandalkan kebun sayur sebagai sumber penghidupan, tapi ruang untuk mengembangkan usaha masih sempit.
Ketika PNM Mekaar mulai hadir di Kampung Wae Moto, Veronika menjadi orang pertama yang mendaftar. Keputusannya bergabung bukan semata untuk memperbesar usaha, tetapi juga untuk membuka peluang yang lebih baik bagi Citra.
“Yang penting, anak saya bisa sekolah dengan baik, punya masa depan yang lebih baik dari saya,” ujar Veronika dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (26/7/2026).
Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, pemberdayaan nasabah tidak hanya diukur dari pertumbuhan usaha, tetapi juga dari dampaknya terhadap keluarga, terutama pendidikan anak-anak.
“PNM percaya, setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik. Melalui pendampingan yang kami berikan, kami ingin hadir mendampingi keluarga nasabah tidak hanya dalam usaha, tetapi juga dalam menjaga harapan anak-anak mereka,” ujar Kindaris.
Komitmen itu, kata PNM, tecermin dalam PNM Scholarship 2026. Sebanyak 1.590 anak nasabah aktif Mekaar dan ULaMM menerima beasiswa pendidikan dari jenjang SD hingga perguruan tinggi.
Citra menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut. Bantuan itu diharapkan dapat meringankan beban keluarga Veronika serta memperkuat langkah pendidikan anaknya.
Kisah Veronika dan Citra menggambarkan pengalaman yang juga dirasakan banyak keluarga prasejahtera di Indonesia. Di tengah keterbatasan, akses terhadap modal, pendampingan, dan kesempatan yang lebih setara kerap menjadi titik awal perubahan.
Dalam momentum Hari Anak Nasional 2026 bertema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa depan”, PNM menegaskan peran penting mendukung perempuan prasejahtera sebagai bagian dari upaya memperkuat masa depan anak-anak mereka.
Ketika seorang ibu memiliki akses untuk berkembang, anak pun memiliki peluang lebih besar untuk belajar, bermimpi, dan meraih kehidupan yang lebih baik.